Senin, 15 Agustus 2016
VM
Volatile Matter
Apabila 1 gram contoh contoh batubara dipanaskan pada kondisi standar tertentu (suhu 900oC, selama 7 menit dalam furnace khusus) maka akan ada bagian yang terbakar dan menguap. Bagian yang terbakar dan menguap tersebut ialah volatile matter (VM) dan moisture.
Untuk mendapatkan nilai %VM, persen bagian yang terbakar dan menguap tersebut dikurangi %moisture. Analisis ini merupakan bagian dari penetapan proximate.
ASH
Ash
Batubara tidak mengandung ash, tetapi mengandung zat anorganik berupa mineral.
Ash (A) adalah residu anorganik hasil pembakaran batubara, terdiri dari oksida logam seperti Fe2O3, MgO, Na2O, K2O, dsb, dan oksida non-logam seperti SiO2, P2O5, dsb.
Penetapan ash merupakan bagian dari analisis proximate. Prinsip dari penetapan ini ialah sejumlah contoh batubara yang sudah dihaluskan (+1
gram) dibakar pada suhu dengan rambat pemanasan tertentu sampai didapat
residu (abu). Residu yang didapat ditimbang dan dihitung jumlahnya
dalam persen.
Nilai kandungan ash
suatu batubara selalu lebih kecil daripada nilai kandungan mineralnya.
Hal ini terjadi karena selama pembakaran telah terjadi perubahan kimiawi
pada batubara tersebut, seperti menguapnya air kristal, karbondioksida
dan oksida sulfur.
TOTAL MOISTURE
Total Moisture
Total moisture (TM) adalah moisture yang terkandung dalam contoh batubara yang diterima di laboratorium, yang mana menggambarkan kandungan moisture sumber batubara yang diambil contohnya tersebut.
Salah satu penetapannya adalah dengan metode two-stage determination. Dalam metode ini penetapan dilakukan dengan dua analisis yang berkaitan. Pertama dilakukan dengan analisis free moisture kemudian dilanjutkan dengan analisis residual moisture.
Dalam ISO, BS, dan AS : Free moisture
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan persen jumlah air
yang menguap dari contoh batubara yang dikeringkan pada kondisi ruangan
(suhu dan kelembaban ruangan) yang kadang-kadang dibantu dengan hembusan
kipas angin. Pengeringan dilakukan sampai mendapat berat konstan.
Air dry loss adalah istilah yang dipergunakan oleh ASTM untuk menyebutkan istilah free moisture ini, sedangkan istilah free moisture dalam ASTM mempunyai pengertian yang berbeda sama sekali. Dalam ASTM : Free moisture adalah istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan moisture yang terdapat pada permukaan partikel batubara pada kondisi tertentu yang dalam ISO, BS dan AS dipergunakan istilah surface moisture.
Residual moisture adalah jumlah persen moisture yang terkandung pada contoh batubara yang sebelumnya telah dikeringkan (air dried), baik itu contoh yang telah dihaluskan sampai ukuran partikel 212/250 micron (untuk general analysis), maupun contoh yang telah digiling sampai ukuran yang lebih kasar, seperti 0.250, 0.850, 2.36, dan 3.00mm.
Hasil analisis free moisture dan residual moisture kemudian dihitung untuk mendapatkan total moisturenya dengan rumus TM = FM + RM*(1-FM/100).
INHERENT MOISTURE
Inherent Moisture
Inherent moisture disebut juga bed moisture atau in-situ moisture adalah moisture yang terkandung dalam batubara (dalam molekul batubara) di lapisan bawah tanah.
Untuk
mensimulasi kondisi bawah tanah, yang mempunyai kelembaban relatif
100%, sulit untuk dilakukan, sehingga untuk mengetahui kandungan inherent moisture yang
tepat sulit dilakukan. Sebagai pendekatan dibuatlah suatu tes dengan
kondisi simulasi yang dapat dilakukan di laboratorium. Kondisi tersebut
yaitu kelembaban relatif 96-97% dan suhu 30oC.
Oleh karena adanya perbedaan kondisi tersebut, maka perbedaan antara hasil analisis dengan inherent moisture yang sebenarnya selalu ada, terutama pada lower rank coal (batubara derajat rendah) yang kandungan moisturenya tinggi.
Moisture holding capacity (ISO, BS dan AS) atau equilibrium moisture (ASTM) adalah analisis untuk menentukan kandungan moisture
tersebut. Hasil pemeriksaan analisis ini, dari laboratorium ke
laboratorium diharapkan konstan, karena contoh sebelum dianalisis
dikondisikan terhadap kondisi standar (suhu 30oC;kelembaban 96-97%). Kondisi
contoh yang dianalisis sangat menentukan hasil analisis, oleh karena
itu contoh harus sesegar mungkin (tidak boleh teroksidasi).
Antara
metode standar ASTM dengan metode standar lainnya (ISO, BS, dan AS) ada
perbedaan pada ukuran partikel contoh yang dipergunakan untuk analisis.
ASTM menggunakan partikel berukuran 1.18mm, sedangkan metode standar
lainnya menggunakan partikel berukuran -0.212mm.
TEKNIK SAMPLING BATUBARA
Penggolongan Sampling



3.2.1 Berdasarkan Metode Pelaksanaan
3.2.1.1 Manual sampling
Ada beberapa cara pengambilan sample secara manual.
a) Pengambilan sample pada Stop Belt
Pengambilan sample cara ini merupakan cara yang terbaik yaitu dengan mempergunakan peralatan frame yang bentuk dan ukurannya disesuaikan dengan bentuk belt conveyor dan ukuran batubara tersebut. Pengambilan sample cara ini dapat dipakai sebagai pembanding dari cara lain terutama dilihat dari kadar abu dan moisture. Perbedaan hasil ini disebut juga bias. Pengambilan sample cara stopped belt kurang disukai karena banyak waktu yang terbuang.
b) Pengambilan sample dari Falling Stream
Pengambilan sample cara ini ialah mengambil sample batubara saat batubara itu jatuh dari satu belt ke belt berikutnya dan hanya dapat dilakukan apabila:
Top Size < 63 mm
Kecepatan Muat < 100 MT/jam
Oleh karena top size batubara umumnya £ 50 mm maka pengambilan sample cara ini masih dimungkinkan walaupun kecepatannya + 200 MT/jam. Adapun peralatan yang dipakai adalah ladle bukan scoop.
c) Pengambilan sample saat belt berjalan (Moving Belt)
Pengambilan sample cara ini sangat sulit dan berbahaya baik untuk fasilitas muat maupun untuk keselamatan tenaga penyampling. Pengambilan sample cara ini hanya dapat dilakukan apabila:
- Top Size < 63 mm
- Kecepatan muat < 100 MT/jam
- Ketebalan batubara < 20 cm
- Kecepatan belt < 1.5 m/detik
- Batubara terdiri dari satu jenis
d) Pengambilan sample dari Dumptruck / Wagon
Pengambilan sample cara ini sangat sulit, karena terjadi segregasi pada saat transportasi. Pengambilan sample pada dumptruck/wagon dilakukan dengan peralatan Auger atau membor batubara di dalam truk tersebut. Sebaiknya pengambilan samplenya dilakukan saat pemuatan ke truk atau saat pembongkaran dari truk ke stockpile atau hopper.
e) Pengambilan sample dari Stockpile
Pengambilan sample dari stockpile sangat sulit sekali, karena tingginya lapisan batubara dan untuk itu diperlukan peralatan khusus yaitu Auger atau membor timbunan batubara tersebut.
Oleh karena pada umumnya sample
yang diambil dari permukaan saja, maka hasil analisa sample tersebut
hanya dapat dipakai sebagai indikasi saja tidak untuk dinegosiasikan.
3.2.1.2 Mechanical sampling
Pengambilan sample secara mekanikal dilakukan pada saat belt tersebut berjalan. Pengambilannya dapat dilakukan dari atas belt (cross belt sampler) atau dari falling stream. Ada beberapa tipe alat untuk pengambilan sample cara ini.
P.T. Adaro adalah salah satu perusahaan yang menggunakan cross belt sampling. Dalam penggunaan cara ini yang harus mendapatkan perhatian adalah alat bantu screpper dan alat pembersih (brush), karena apabila alat tersebut tidak berfungsi, maka kemungkinan batubara halus akan tertinggal (contoh tidak representative) dan untuk itu peralatan harus dikontrol secara rutin.
3.2.2 Berdasarkan Teknis Pengambilan
3.2.2.1 Core Sampling
Sampling batubara dari borehole (drilling) memiliki perbedaan-perbedaan dengan jenis-jenis sampling yang lainnya. Dimana sample batubara pada jenis sampling ini diambil secara mekanikal yaitu dengan core. Jadi yang dimaksud dengan core sampling ini lebih ditujukan bagaimana terhadap prosedur treatment atau penanganan untuk sample yang telah didapat dari borehole tersebut sampai sample tersebut dikirimkan ke laboratorium. ASTM sendiri menspesifikasikan prosedure pengambilan sample dari core ini dalam ASTM D 5192 – 95. Practice for collection of coal samples from core.
Core Sampling terdiri dari :
- Exploration sampling
- Deep drilling
- Shalow drilling
- Pit sample
- Pit drilling




Gambar V.2 Sample dari hasil coring

Gambar V.3 Drilling rig
3.2.2.2 Channel Sampling
Channel sampling adalah pengambilan sample dari lapisan batubara dengan membuat torehan memanjang menurut ketebalan batubara atau endapan bahan galian lainnya. Sample ini mewakili penampang batubara menurut ketebalannya. Sample
ini biasanya diambil di sekitar singkapan. Sebelum melakukan
penyampelan, sumuran atau parit memanjang dibuat untuk membuka satu sisi
batubara segar. Channel sampling terdiri dari :
- Explorasi sampling
- Outcrop sampling
- Pit sampling
- Seam face sampling
3.2.2.3 Bulk Sampling
Bulk sampling adalah pengambilan sample dalam jumlah besar yang diambil secara sistematik dalam interval tertentu. Untuk batubara, bulk sample
pada awalnya adalah contoh sebanyak satu lori (gerobak) pada interval
tertentu sepanjang lapisan batubara untuk analisa ukuran dan pengotor
(abu). Tetapi pengertian ini semakin meluas. Tambang-tambang batubara di
Indonesia dapat mengambil lebih dari 100000 ton batubara sebagai sample
terutama untuk uji bakar pada PLTU, termasuk uji penambangan, uji
pengolahan, uji pengangkutan, uji pengapalan, dan uji pemasaran. Bulk sampling terdiri dari :
- Stasionary sampling
- Stockpile sampling
- Wagon sampling
- Coal truck sampling
- Moving sampling
- Cross belt sampling
- Stop belt sampling
- Falling stream sampling
- Moving bucket sampling
SAMPLING BATUBARA
Sampling secara umum dapat didefinisikan sebagai “Suatu proses pengambilan sebagian kecil contoh (sample) dari suatu material sehingga karakteristik contoh material tersebut mewakili keseluruhan material”.
Didalam industri pertambangan batubara, sampling
merupakan hal yang sangat penting, karena merupakan proses yang sangat
vital dalam menentukan karakteristik batubara tersebut. Dalam tahap
eksplorasi, karakteristik batubara merupakan salah satu penentu dalam
studi kelayakan apakah batubara tersebut cukup ekonomis untuk ditambang
atau tidak. Begitu pun dalam tahap produksi dan pengapalan atau
penjualan batubara tersebut karakteristik dijadikan acuan dalam
menentukan harga batubara.
Secara
garis besar sampling dibagai menjadi 4 golongan dilihat dari tempat
pengambilan dimana batubara berada dan tujuannya yaitu: Exploration sampling, Pit sampling, Production sampling, dan loading sampling (barging dan transhipment).
Exploration sampling dilakukan pada tahap awal pendeteksian kualitas batubara baik dengan cara channel sampling pada outcrop atau lebih detail lagi dengan cara pemboran atau drilling. Tujuan dari sampling
di tahap ini adalah untuk menentukan karakteristik batubara secara
global yang merupakan pendeteksian awal batubara yang akan
dieksploitasi.
Pit sampling dilakukan setelah eksplorasi bahkan bisa hampir bersamaan dengan proses tambang didalam satu pit atau block penambangan dengan tujuan lebih mendetailkan data yang sudah ada pada tahap eksplorasi. Pit sampling ini dilakukan oleh pit control
untuk mengetahui kualitas batubara yang segera akan ditambang, jadi
lebih ditujukan untuk mengontrol kualitas batubara yang akan ditambang
dalam jangka waktu short term. Pit sampling ini juga dapat dilakukan dengan pemboran juga dengan channel pada face penambangan kalau diperlukan untuk mengecek kualitas batubara yang dalam proses ditambang.
Production sampling dilakukan setelah batubara di proses di processing plant dimana proses ini dapat merupakan penggilingan (crushing) pencucian (washing),
penyetokan dan lain-lain. Tujuannya adalah mengetahui secara pasti
kualitas batubara yang akan di jual atau dikirim ke pembeli supaya
kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan dan telah
disepakati oleh kedua belah pihak. Dengan diketahuinya kualitas batubara
di stockpile atau di penyimpanan sementara kita dapat menentukan batubara yang mana yang cocok untuk dikirim ke buyer tertentu dengan spesifikasi batubara tertentu pula. Baik dengan cara mencampur (blending) batubara-batubara yang ada di stockpile atau pun dengan single source dengan memilih kualitas yang sesuai.
Loading Sampling; dilakukan pada saat batubara dimuat dan dikirim ke pembeli baik menggunakan barge maupun menggunakan kapal. Biasanya dilakukan oleh independent company karena kualitas yang ditentukan harus diakui dan dipercaya oleh penjual (shipper) dan pembeli (buyer).
Tujuannya adalah menentukan secara pasti kualitas batubara yang dijual
yang nantinya akan menentukan harga batubara itu sendiri karena ada
beberapa parameter yang sifatnya fleksibel sehingga harganya pun
fleksibel tergantung kualitas aktual pada saat batubara dikapalkan.
Sampling, preparasi dan analisa sample batubara
dengan berbagai tujuan seperti telah dijelaskan di atas,dilakukan
dengan menggunakan standar-standar yang telah ada. Dimana pemilihannya
tergantung keperluannya, biasanya tergantung permintaan pembeli atau
calon pembeli batubara. Standar yang sering digunakan untuk keperluan
tersebut diantaranya ; ASTM (American Society for Testing and Materials), AS (Australian Standard), Internasional Standard, British Standard, dan banyak lagi yang lainnya yang berlaku baik di kawasan regional maupun internasional.
FAKTOR GEOLOGI SEBAGAI PENGENDALI KUALITAS BATUBARA
Faktor Geologi Sebagai Pengendali Kualitas Batubara
Faktor
geologi yang akan berdampak pada kualitas batubara secara global adalah
cekungan sedimentasi. Cekungan sedimentasi batubara secara umum
diklasifikasikan dalam 2 jenis, yaitu cekungan yang berkembang di
wilayah kontinen stabil dan cekungan sedimentasi bergerak (mobile), seperti back arc basin atau pull apart basin yang umumnya terbentuk di daerah batas atau dalam kontinen oleh tenggelamnya atau tabrakan antar plate.
Kedua
jenis cekungan tersebut berbeda pada mekanisme pembentukan, proses
akumulasi tumbuhan, gerakan struktural, perbedaan sifat batubara, dan
lain-lain sebagai berikut :
2.1.1 Karakteristik Cekungan Tipe Kontinen Stabil
Gerakan tektonik : tenggelam perlahan di wilayah yang luas.
Deposit tumbuhan : di bawah kondisi teroksidasi dalam basin
yang luas.
Kuantitas batubara : terdapat lapisan batubara yang tipis secara
konsisten dalam daerah yang luas, tetapi cadangan batubara dalam satu satuan luas kecil.
Struktur batubara : kaya akan maseral inertinite dan disertai
maseral vitrinite.
Coalification : Sebanding dengan kedalaman endapan.
2.1.2 Karakteristik Cekungan Tipe Bergerak (Mobile)
Gerakan tektonik : gerakan blok
Deposit tumbuhan : di bawah kondisi tereduksi dalam basin yang
sempit.
Kuantitas batubara : terdapat lapisan batubara yang tebal, namun
kurang konsisten dalam daerah penyebaran
yang sempit dengan cadangan batubara dalam satu satuan luas besar.
Struktur batubara : kaya akan maseral vitrinite dan exinite.
Coalification : bukan saja dipengaruhi oleh kedalaman
endapan tetapi juga oleh gerakan tektonik dan aktifitas gunung api.
Parameter Kualitas Batubara Berdasarkan Karakteristik Pengamatan di Lapangan
Warna
Warna batubara bervariasi dari coklat hingga hitam legam. Warna batubara yang hitam, mengkilap, penyusunnya terdiri dari vitrain (berbentuk lapisan, sangat mengkilap, pecahan konkoidal; kaya akan maseral vitrinite yang berasl dari kayu dan serat kayu) dan clarain (berbentuk lapisan-lapisan tipis, sebagian mengkilap dan kusam; kaya akan maseral vitrinite dan liptinite yang berasal dari spora, kutikula, serbuk sari, getah).
Warna hitam : bituminous – antrasit (high rank)
Warna coklat : lignite (low rank)

(a) (b) (c) (d)
Gambar V.1 Jenis tekstur batubara : (a) Vitrain ; (b) Clarain ;
(c) Durain ; (d) Fusain
2.2.2 Pelapukan
Batubara yang cepat lapuk (low rank), sedangkan high rank
tidak cepat lapuk. Proses penguapan air lembab menyebabkan pecahnya
batubara, sehingga mempercepat proses oksidasi dan penghancuran tekstur
umum batubara.
2.2.3 Gores
Warna gores bervariasi dari hitam legam hingga coklat. Lignite mempunyai gores coklat, sedangkan bituminous goresnya hitam sampai hitam kecoklatan.
2.2.4 Kilap
Kilap tergantung dari tipe dan derajat batubara. Kilap kusam umumnya berderajat rendah (low rank), batubara berderajat tinggi (high rank) umumnya mengkilap.
2.2.5 Kekerasan
Kekerasan
berhubungan dengan struktur batubara, yaitu komposisi dan jenisnya.
Batubara kusam dan berkualitas rendah umumnya keras, sedangkan batubara
cerah dan berkualitas baik umumnya tidak keras dan mudah pecah.
2.2.6 Pecahan
Pecahan memperlihatkan bentuk dari potongan batubara dalam sifat memecahnya. Antrasit atau high bituminous pecahannya konkoidal, sedangkan bituminous dan lignite pecahannya tidak teratur.
Batubara dengan kandungan zat terbang (volatile matter) rendah pecahannya meniang, sedangkan batubara kandungan zat terbang tinggi pecahannya persegi atau kubus.
2.2.7 Pengotor atau Parting
Berupa
lapisan tipis (bisa berupa batupasir, lanau, lempung) di dalam lapisan
batubara, tebalnya bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai
beberapa centimeter (max ditambang tebal parting 10 cm).
2.2.8 Cleat
Merupakan rekahan di dalam lapisan batubara khususnya batubara bituminous yang umumnya berupa rekahan pararel dan tegak lurus terhadap lapisan batubaranya. Di dalam cleat sering terisi material klastik seperti batulempung atau batupasir, hal ini menyebabkan meningkatnya kandungan mineral matter, volatile matter dan abu sehingga nilai kalorinya menjadi rendah. Semakin banyak cleat maka batubara tersebut semakin rendah kalorinya.
PARAMETER KUALITAS BATUBARA
Parameter Kualitas Batubara Berdasarkan Karakteristik Pengamatan di Lapangan
Warna
Warna batubara bervariasi dari coklat hingga hitam legam. Warna batubara yang hitam, mengkilap, penyusunnya terdiri dari vitrain (berbentuk lapisan, sangat mengkilap, pecahan konkoidal; kaya akan maseral vitrinite yang berasl dari kayu dan serat kayu) dan clarain (berbentuk lapisan-lapisan tipis, sebagian mengkilap dan kusam; kaya akan maseral vitrinite dan liptinite yang berasal dari spora, kutikula, serbuk sari, getah).
Warna hitam : bituminous – antrasit (high rank)
Warna coklat : lignite (low rank)

(a) (b) (c) (d)
Gambar V.1 Jenis tekstur batubara : (a) Vitrain ; (b) Clarain ;
(c) Durain ; (d) Fusain
KARAKTERISTIK TIPE BATUBARA
Faktor
geologi yang akan berdampak pada kualitas batubara secara global adalah
cekungan sedimentasi. Cekungan sedimentasi batubara secara umum
diklasifikasikan dalam 2 jenis, yaitu cekungan yang berkembang di
wilayah kontinen stabil dan cekungan sedimentasi bergerak (mobile), seperti back arc basin atau pull apart basin yang umumnya terbentuk di daerah batas atau dalam kontinen oleh tenggelamnya atau tabrakan antar plate.
Kedua
jenis cekungan tersebut berbeda pada mekanisme pembentukan, proses
akumulasi tumbuhan, gerakan struktural, perbedaan sifat batubara, dan
lain-lain sebagai berikut :
2.1.1 Karakteristik Cekungan Tipe Kontinen Stabil
Gerakan tektonik : tenggelam perlahan di wilayah yang luas.
Deposit tumbuhan : di bawah kondisi teroksidasi dalam basin
yang luas.
Kuantitas batubara : terdapat lapisan batubara yang tipis secara
konsisten dalam daerah yang luas, tetapi cadangan batubara dalam satu satuan luas kecil.
Struktur batubara : kaya akan maseral inertinite dan disertai
maseral vitrinite.
Coalification : Sebanding dengan kedalaman endapan.
2.1.2 Karakteristik Cekungan Tipe Bergerak (Mobile)
Gerakan tektonik : gerakan blok
Deposit tumbuhan : di bawah kondisi tereduksi dalam basin yang
sempit.
Kuantitas batubara : terdapat lapisan batubara yang tebal, namun
kurang konsisten dalam daerah penyebaran
yang sempit dengan cadangan batubara dalam satu satuan luas besar.
Struktur batubara : kaya akan maseral vitrinite dan exinite.
Coalification : bukan saja dipengaruhi oleh kedalaman
endapan tetapi juga oleh gerakan tektonik dan aktifitas gunung api.
KUALITAS BATUBARA
Kualitas Batubara
Salah
satu tahapan penting dalam rangkaian proses eksploitasi dan produksi
batubara adalah memahami benar tipikal batubara dalam hal ini
kualitasnya.
Mengingat
biaya eksploitasi yang mahal, kita harus memperhitungkan aspek
ekonomis. Hanya batubara dengan kualitas yang bagus dan seam-nya (lapisan) tebal akan menjadi titik target untuk ditambang.
Demikian juga dalam rangkaian proses produksi yang pada ujungnya akan berhubungan dengan marketing dimana customer/buyer (pembeli) kita akan membeli produk batubara dengan parameter kualitas tertentu sesuai dengan kebutuhan.
Dengan demikian kualitas batubara merupakan faktor yang sangat penting selain aspek besar cadangan dan lain-lain.
Kamis, 30 Juni 2016
PESAWAT DARI JAKARTA KE BUNGO
SRIWIJAYA AIR kembali membuka Rute Penerbangan Baru dari :
MUARA BUNGO - JAKARTA
SJ 093 JAM 15.35 - 16.45 WIB
JAKARTA - MUARA BUNGO
SJ 092 JAM 13.55 - 15.05 WIB
Efektif tanggal 03 JULI 2016
Terbang pada hari : SELASA, KAMIS, JUMAT, MINGGU
~Harga tiket sudah termasuk airport tax
~Menggunakan Pesawat Boeing 737 Series 500 W
~Free snack/meal
~8 seats executive class
~112 seats economy class
~Free bagasi 30 kg (Executive class)
~Free bagasi 20 kg (Economy class)
~Melayani tandu untuk orang sakit/oksigen
~Melayani pengiriman Barang/Cargo
~Web Check in 24 jam sebelum keberangkatan
Rabu, 22 Juni 2016
Rabu, 25 Mei 2016
BRO COAL PROJECT
GEG

02.37
bro







