Jumat, 18 Maret 2011

Eksplorasi Umum Batumulia Di Daerah Pulau Kasiruta Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara

Secara administratif, lokasi eksplorasi umum Batumulia terletak di daerah Pulau Kasiruta, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis, daerah ini dibatasi oleh koordinat 127º 05’ 28” - 127º 12’ 56” Bujur Timur dan 0º 17’ 41” - 0º 28’ 57” Lintang Selatan.

Satuan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan adalah Satuan Lava Andesit, satuan ini hampir menutupi sebagian besar daerah penyelidikan; Satuan Batugamping, menempati bagian utara timur daerah penyelidikan: Satuan Breksi Volkanik, menempati sedikit wilayah daerah penyelidikan di sudut selatan; Endapan Aluvium, menempati daerah pedataran bagian selatan daerah penyelidikan.

Keterdapatan batumulia jenis krisokola dijumpai berupa urat - urat mengisi rekahan yang terdapat pada batuan lava andesit, secara geologi termasuk dalam penyebaran satuan lava andesit yang berumur Oligosen. Batumulia jasper dijumpai berupa bongkah-bongkah di sungai dan di pantai, terdapat bersama-sama dengan bongkah-bongkah krisokola. Di pantai Waringin, Desa Imbuimbu krisokola mempunyai sumber daya hipotetik sebesar 2.000 m3, sedang jasper dengan sumber daya hipotetik sebesar 1.000 m3.

Keterdapatan batumulia krisokola di daerah Pulau Kasiruta ini tersebar di tujuh lokasi meliputi wilayah empat desa, yaitu Desa Palamea, Desa Imbuimbu, Desa Doko dan Desa Bisori. Sedangkan batumulia jasper tersebar di dua desa yakni Desa Doko dan Desa Imbuimbu.

Batumulia krisokola dan jasper dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku batu permata atau perhiasan.
PENDAHULUAN

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2008, Pusat Sumber Daya Geologi telah mengadakan kegiatan eksplorasi umum endapan batumulia di daerah Pulau Kasiruta, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Eksplorasi umum ini dilaksanakan berdasarkan hasil penyelidikan terdahulu, yaitu Eksplorasi Pendahuluan Batumulia dan Bahan Galian Industri di daerah Pulau Bacan dan Pulau Kasiruta di Kabupaten Maluku Utara, Provinsi Maluku, pada tahun 1993 yang dilakukan oleh Direktorat Sumberdaya Mineral sekarang menjadi Pusat Sumber Daya Geologi dan merekomendasikan untuk dilakukannya eksplorasi umum batumulia guna mendapatkan gambaran secara lebih akurat dan lengkap sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengembangan dari potensi batumulia.

Kegiatan eksplorasi umum endapan batumulia di daerah Pulau Kasiruta, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara ini dimaksudkan untuk mendapatkan data yang lebih akurat dan aktual guna mengetahui lebih jauh keterdapatan endapan batumulia yang mempunyai prospek cukup baik untuk dapat dikembangkan.

Lokasi eksplorasi umum terletak di daerah Kecamatan Kasiruta Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis, daerah ini dibatasi oleh koordinat 127º 05’ 28” - 127º 12’ 56” Bujur Timur dan 0º 17’ 41” - 0º 28’ 57” Lintang Selatan.

Pencapaian lokasi dapat dicapai dari Jakarta ke Ternate dengan menggunakan pesawat udara. Daerah eksplorasi dapat dicapai dengan menggunakan jalur laut dari Ternate melalui Pulau Bacan dilanjutkan ke Pulau Kasiruta.

GEOLOGI DAN POTENSI BAHAN GALIAN

Satuan morfologi daerah penyelidikan terdiri dari dua satuan morfologi, yaitu :
Satuan morfologi perbukitan, ditandai oleh relief topografi yang bergelombang, di daerah penyelidikan sebagian morfologi ini mempunyai bentuk puncak yang melebar. Satuan ini sebagian besar ditempati oleh batuan volkanik seperti breksi gunungapi dan lava andesit. Bagian puncak dari perbukitan ini masih berupa hutan, sedangkan bagian lerengnya dijadikan oleh masyarakat sekitar sebagai lahan perkebunan. Satuan ini menempati bagian tengah daerah penyelidikan, memanjang hampir utara-selatan.

Satuan morfologi pedataran, terutama didominasi oleh satuan aluvium, terdapat di bagian selatan sekitar daerah aliran sungai Kasiruta serta sedikit di bagian barat daerah penyelidikan di sepanjang pantai. Morfologi ini tersusun oleh batuan hasil endapan sungai berupa kerakal, kerikil dan bongkah.

Dari hasil penyelidikan lapangan, dapat diketahui berbagai jenis batuan di daerah penyelidikan. Jenis-jenis batuan yang terdapat di daerah penyelidikan terdiri dari batuan volkanik dan batuan sedimen. Batuan volkanik terdiri dari breksi gunungapi dan lava andesit, tersebar di bagian barat dan tengah pulau Kasiruta. Lava andesit di beberapa tempat menunjukan struktur lava bantal dan alur-alur bekas aliran lava. Pada umumnya lava andesit ini telah mengalami ubahan propilitisasi, demikian pula halnya dengan komponen andesit dalam breksi gunungapi. Gejala mineralisasi dijumpai berupa mineral berwarna biru kehijauan yang terdapat mengisi rekahan dalam lava andesit ataupun di dalam semen batuan breksi gunungapi. Pada beberapa tempat dijumpai batupasir dan batulempung sebagai sisipan.

Batuan sedimen terdiri dari batugamping dan batugamping pasiran, tersebar di bagian tenggara dan utara Pulau Kasiruta, sedangkan batuan tufa pasiran dijumpai tersebar di bagian selatan dan baratdaya Pulau Kasiruta.

Berdasarkan pengumpulan data primer hasil pengamatan langsung di lapangan, di daerah penyelidikan terdapat beberapa jenis batumulia, yaitu krisokola dan jasper.

Potensi batumulia di Pulau Kasiruta terpusat di bagian barat pulau Kasiruta, terutama di sekitar wilayah Desa Palamea, Desa Doko, Desa Bisori dan Desa Imbuimbu.

Krisokola
Krisokola dijumpai berwarna hijau kebiruan, bersifat amorf dengan kekerasan berkisar antara 3 – 4 pada skala Mohs. Kilap tanah sampai kaca, dan bersifat translusen sampai opak. Krisokola primer dijumpai terdapat sebagai urat-urat pengisi rekahan dalam batuan breksi volkanik dan lava andesit. Urat-urat dijumpai setempat-setempat dengan ketebalan berkisar antara 0,5 – 20 cm dan panjang tidak menentu, umumnya sekitar 1 – 50 cm. Urat berbentuk tidak beraturan dengan arah umum N 300o E. Sebagian krisokola ini telah mengalami proses silisifikasi sehingga kekerasan dapat mencapai 7 pada skala Mohs.

Urat-urat dapat ditemukan pada permukaan maupun pada kedalamaan beberapa puluh meter di dalam lubang-lubang penggalian. Selain sebagai endapan primer berupa urat-urat, krisokola juga dijumpai sebagai endapan sekunder berupa bongkah-bongkah berukuran mencapai sekitar 10 cm di sungai-sungai yang melalui daerah penyelidikan, ataupun di pantai-pantai.

Lokasi keterdapatan krisokola antara lain daerah Sungai Kawasi dan Sungai Palamea Kecil (Desa Palamea), S. Juli, Tanjung Gulao dan Majiko (Desa Doko), Desa Bisori dan Desa Imbuimbu.

a. Daerah Kawasi, Desa Palamea.
Di daerah ini (lokasi KS-01, KS-12, KS-38, dan KS-39) dijumpai beberapa urat-urat krisokola berukuran tebal sekitar 1 hingga 10 cm dengan panjang sekitar 10 cm dengan arah umum N 295o E. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Urat-urat dapat dijumpai di permukaan ataupun pada kedalaman mencapai 35 meter pada lubang-lubang penggalian oleh penduduk setempat. Hasil analisis petrografi terhadap urat krisokola dari lokasi KS-01 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari plagioklas (67%), piroksen (25%), mineral opak (8%). Untuk KS-12, komposisi mineral terdiri dari mineral opak (77%), kalsedon 15%, aragonit 5%, zeolit 3%. Sedangkan hasil analisis kimia major element terhadap conto dari lokasi KS-01 memberikan kandungan SiO2 55,65%, Al2O3 16,52%, Fe2O3 8,62%, CaO 6,66%, MgO 2,32%, Na2O 3,03%, K2O 1,7%, P2O5 0,38%, dan MnO 0,16%. Bongkah-bongkah krisokola berukuran 1 - 5 cm dijumpai di Sungai Palamea pada lokasi KS-11 dan KS-14.

Selain sebagai bongkah di sungai, krisokola juga dijumpai berupa butiran berwarna hijau kebiruan, berbentuk menyudut tanggung, berukuran beberapa milimeter pada konsentrat dulang di lokasi KS-13.

b. Daerah S. Palamea Kecil, Desa Palamea.
Di daerah ini krisokola dijumpai di lokasi KS-15 dan KS-41 berupa urat-urat berwarna hijau kebiruan berukuran tebal sekitar 1-10 cm dan panjang mencapai 15 cm dengan arah umum N 300oE. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Hasil analisis petrografis terhadap conto urat di lokasi KS-15 menunjukkan kandungan mineral yang dominan adalah plagioklas 52%, piroksen 3%, gelas 40% dan mineral opak 5%. Sedangkan mineral berwarna hijau kebiruan terdapat dalam jumlah sedikit. Pemeriksaan mineralogi butir terhadap konsentrat dulang di lokasi ini tidak menunjukkan adanya butiran mineral krisokola. Selain berupa urat-urat, di lokasi ini krisokola juga dijumpai berupa bongkah-bongkah berukuran mencapai 20 cm di sepanjang sungai Palamea Kecil, antara lain di lokasi KS-16.

c. Daerah S. Juli, Desa Doko.
Di daerah sekitar aliran Sungai Juli, terutama di lokasi dan KS-03, KS-04, KS-19, KS-36 dan KS-37 dijumpai urat-urat mineral krisokola pada batuan breksi gunungapi. Ketebalan urat bervariasi dari beberapa milimeter hingga mencapai 10 cm dengan panjang 20 cm. Arah umum urat N 290o E dan umumnya tidak menerus serta terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Hasil analisis kimia major element terhadap conto urat krisokola dari lokasi KS-03 dan KS-19 menunjukkan kandungan SiO2 55,02-94,70%, Al2O3 0,65-14,56%, Fe2O3 6,86%, CaO 4,03%, MgO 1,54%, Na2O 0,42%, K2O 0,05-0,47%, P2O5 0,20-0,23%, dan MnO 1,56-2,03%. Sedangkan hasil pemeriksaan petrografi terhadap conto dari lokasi KS-19 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari kalsedon 67%, aragonit 13%, mineral opak 10% dan oksida besi 10%. Bongkah-bongkah krisokola berukuran mencapai 15 cm dijumpai tersebar di sepanjang aliran Sungai Juli terutama pada lokasi KS-17 dan KS-18. Konsentrat dulang dari lokasi KS-22 menunjukkan komposisi mineral didominasi oleh mineral piroksen, kuarsa, magnetit, hematit, dan oksida besi. Sedangkan butiran krisokola dijumpai dalam jumlah sedikit.

d. Daerah Tanjung Gulao, Desa Doko.
Urat-urat mineral krisokola berwarna hijau kebiruan di daerah Tanjung Gulao dijumpai di lokasi KS-10 dan KS-34. Urat-urat dijumpai berukuran tebal mencapai 5 sentimeter dengan panjang rata-rata10 cm. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Hasil analisis kimia unsur utama terhadap conto urat dari lokasi KS-10 menunjukkan kandungan SiO2 72,11%, Al2O3 1,67%, Fe2O3 0,47%, CaO 1,33%, MgO 0,32%, Na2O 0,78%, K2O 0,28%, P2O5 0,27%, dan MnO 2,75%. Hasil analisis petrografi terhadap urat krisokola dari lokasi KS-10 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari mineral opak (80%), dan kalsedon 20%.

e. Daerah Majiko, Desa Doko.
Di daerah Majiko, urat-urat krisokola dijumpai terdapat di lokasi KS-08, KS-24, dan KS-25. Urat krisokola dijumpai berukuran tebal mencapai 20 sentimeter dengan panjang rata-rata 50 – 100 sentimeter berarah umum N 300o E. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Hasil analisis kimia unsur utama dari conto lokasi KS-08 menunjukkan kandungan SiO2 45,69%, Al2O3 2,85%, Fe2O3 1,04%, CaO 1,14%, MgO 0,41%, Na2O 0,06%, K2O 0,14%, P2O5 0,20%, dan MnO 3,03%. Hasil pemeriksaan petrografis terhadap conto KS-08, menunjukkan komposisi mineral terdiri dari kuarsa (70%), mineral opak (20%), dan serisit (10%). Krisokola berupa bongkah-bongkah berukuran mencapai 10 sentimeter dijumpai di sepanjang S. Majiko terutama di lokasi KS-05, KS-09, dan KS-23. Pemeriksaan mineralogi butir terhadap konsentrat dulang di lokasi KS-23 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari piroksen (60,16%), magnetit (24,05%), kuarsa (15,64%), oksida besi (0,15%), dan sedikit mineral krisokola berwarna hijau kebiruan.

f. Daerah Desa Besori.
Di daerah ini urat-urat krisokola dijumpai di lokasi KS-07, KS-27, KS-29, dan KS-30. Urat-urat krisokola berwarna hijau kebiruan dijumpai berukuran tebal antara 1 hingga 10 cm dengan panjang mencapai 15 cm. Arah umum urat sekitar N 300o E dengan penyebaran secara setempat-setempat dan bersifat tidak menerus sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Hasil analisis kimia unsur utama terhadap conto urat krisokola dari lokasi KS-07 menunjukkan kandungan SiO2 25,75%, Al2O3 1,09%, CaO 0,22%, MgO 0,03%, Na2O 0,06%, K2,O 0,04%, P2O5 0,20%, dan MnO 2,80%. Hasil analisis petrografi terhadap conto KS-07 menunjukkan komposisi mineral terdiri dari lempung (25%), kalsedon (35%), mineral opak (35%) dan oksida besi (5%).

g. Daerah Waringin, Desa Imbu-imbu.
Keterdapatan urat krisokola di daerah ini dijumpai pada lokasi KS-33. Urat berukuran tebal 0,5 – 5 cm dengan panjang sekitar 25 cm. Penyebaran urat umumnya tidak menerus dan terdapat secara setempat-setempat sehingga sumber daya tidak dapat dihitung. Sedangkan keterdapatan krisokola berupa bongkah-bongkah berukuran antara 2 – 10 cm dijumpai di pantai pada lokasi KS-02, tersebar seluas sekitar 200 x 50 meter dengan ketebalan rata-rata sekitar 1 meter. Dengan asumsi keterdapatan bongkah krisokola sekitar 20 %, sumber daya hipotetik dapat ditentukan sebesar 2.000 m3.

Jasper
Jasper termasuk golongan kuarsa mikrokristalin granular yang mempunyai campuran bermacam-macam warna dan biasanya pekat. Kekerasannya antara 6,5 - 7 pada skala Mohs dan berat jenis 2,7. Lokasi kerdapatan jasper antara lain sekitar daerah Tano Ma’ake dan Sungai Majiko desa Doko, serta pantai Waringin, Desa Imbuimbu, dijumpai sebagai bongkah-bongkah berukuran mencapai antara 5 cm hingga 70 cm.
Di daerah Tano Ma’ake, Desa Doko jasper dijumpai berupa bongkah berukuran diameter sekitar 70 cm di lokasi KS-06. berwarna coklat muda hingga coklat tua, keras dan masif.

Di daerah sekitar aliran Sungai Majiko, Desa Doko, jasper dijumpai berupa bongkah-bongkah berukuran antara 5 – 20 cm, berwarna coklat muda hingga abu-abu kekuningan, keras.

Di daerah pantai Waringin, Desa Imbuimbu, jasper dijumpai di pantai bersama-sama dengan bongkah krisokola. Bongkah jasper berukuran diameter 5 – 10 cm, berwarna coklat tua, coklat kemerahan dan kehijauan. Di lokasi KS-02 dan KS-31 tersebar seluas sekitar 200 x 50 meter dengan ketebalan rata-rata sekitar 1 meter. Dengan asumsi keterdapatan bongkah jasper sekitar 10 %, sumber daya hipotetik dapat ditentukan sebesar 1.000 m3.

Prospek Pemanfaatan Dan Pengembangan Bahan Galian
Pemanfaatan batumulia krisokola dan jasper cukup banyak dan beragam terutama sebagai bahan baku untuk perhiasan.
Sehubungan semakin meningkatnya kebutuhan batumulia dewasa ini, maka kebutuhan bahan baku batumulia juga meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku batumulia maka diperlukan data-data dan informasi tentang kerdapatan batumulia.

Prospek pengembangan bahan galian yang tergolong batumulia, dapat dilakukan melalui proses pengolahan untuk dijadikan batupermata atau perhiasan. Proses pengolahan tersebut dapat dilakukan oleh penduduk setempat yang didukung dengan ketrampilan khusus dan peralatan yang memadai. Hal lain yang dapat dilakukan dalam hubungannya dengan prospek pengembangan bahan galian ini, yaitu dengan cara membawa bahan baku tersebut ke tempat lain untuk dijadikan batu permata/perhiasan.

Pada saat ini di Pulau Kasiruta dan Labuha (Ibukota Kabupaten) sudah ada pengrajin batumulia, jumlahnya 28 pengrajin. Produk yang dihasilkan dikenal dengan sebutan ”Batu Bacan”. Dalam pengerjaannya para pengrajin ini masih menggunakan peralatan sangat sederhana sehingga produk yang dihasilkan masih terbatas, baik dalam bentuk maupun jumlahnya.

Dalam pengambilan dan pengolahan bahan baku, para penambang dan pengrajin (penduduk setempat) masih menggunakan pahat dan linggis sehingga banyak bahan baku yang terbuang karena pecah-pecah. Pecahan bahan baku krisokola yang terbuang ini sebenarnya masih dapat digunakan sebagai bahan baku untuk batu hias.

KESIMPULAN DAN SARAN

Keterdapatan batumulia jenis krisokola dijumpai berupa urat - urat mengisi rekahan yang terdapat pada batuan lava andesit, secara geologi termasuk dalam penyebaran satuan lava andesit dari Formasi Bacan yang berumur Oligosen. Karena keterdapatan urat krisokola bersifat setempat-setempat dan tidak menerus, menyebabkan sumber dayanya sulit dihitung.

Batumulia jasper dijumpai berupa bongkah-bongkah di sungai dan di pantai, terdapat bersama-sama dengan bongkah-bongkah krisokola. Di pantai Waringin, Desa Imbuimbu jasper mempunyai sumber daya hipotetik sebesar 2.000 m3, sedangkan krisokola dengan sumber daya hipotetik sebesar 1.000 m3.

Keterdapatan batumulia krisokola di daerah Pulau Kasiruta ini tersebar di tujuh lokasi meliputi wilayah empat desa, yaitu Desa Palamea, Desa Imbuimbu, Desa Doko dan Desa Bisori. Sedangkan batumulia jasper tersebar di dua desa yakni Desa Doko dan Desa Imbuimbu.
Batumulia krisokola dan jasper ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku batu permata atau perhiasan.

Untuk itu perlu dilakukan :
Penanganan yang tepat dan terarah dari Pemerintah Daerah dan berbagai pihak yang terkait agar dapat menaikkan pendapatan dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya.
Perlu bantuan dari Pemerintah dan berbagai Instansi terkait untuk dijadikan sebagai Bapak Angkat dalam rangka peningkatan sumber daya manusia, kualitas, desain, produksi dan pemasarannya.

Perlu pengawasan dari pemerintah daerah kepada pihak pengusaha sehingga pengusaha tidak hanya memikirkan masalah untung rugi dengan investasi yang ditanamkan.

Pengkajian geologi tersier daerah Sumatera Bagian Selatan : Hubungannya dengan keterdapatan batubara

SARI
Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan dimulai oleh batuan alas Pratersier yang terdiri atas batuan granit, batuan metasedimen, dan batuan malihan derajat rendah. Secara tidak selaras di atasnya diendapkan batuan gunungapi Formasi Kikim yang berumur Eosen - Oligosen. Runtunan genang laut (fluviatil sampai laut dalam) berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah menindih secara tidak selaras di atas Formasi Kikim yang terdiri atas Formasi Talangakar, Formasi Baturaja, dan Formasi Gumai. Mulai Miosen Tengah hingga Plistosen terbentuk runtunan susut laut (laut dangkal sampai fluviatil), yaitu Formasi Airbenakat, Formasi Muaraenim, dan Formasi Kasai.
Tercatat tiga peristiwa gerak-gerak tektonik yang berperan pada perkembangan Cekungan Sumatera Selatan dan proses sedimentasinya. Tektonik pertama berupa gerak tensional pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal yang menghasilkan sesar-sesar bongkah berarah timurlaut-baratdaya atau utara-selatan. Sedimen mengisi lekukan atau terban di atas batuan alas bersamaan dengan kegiatan gunungapi. Tektonik kedua berlangsung pada Miosen Tengah-Akhir (Intra Miosen), menyebabkan pengangkatan tepi-tepi cekungan, dan diikuti pengendapan bahan-bahan klastika. Tektonik ketiga berupa gerak kompresional pada Plio-Plistosen menyebabkan sebagian Formasi Airbenakat dan Formasi Muaraenim yang telah menjadi tinggian tererosi, sedangkan pada daerah yang relatif turun diendapkan Formasi Kasai. Pada akhirnya terjadi pengangkatan dan perlipatan utama di seluruh daerah cekungan yang mengakhiri pengendapan Tersier di Cekungan Sumatera Selatan.
Batubara yang terdapat di dalam Formasi Talangakar secara umum diendapkan di daerah-daerah depresi yang terbentuk pada awal perkembangan cekungan. Depresi tersebut pada umumnya sempit dan dibatasi oleh struktur sesar. Konsekuensinya, keterdapatan maupun sebaran batubara di dalam formasi ini juga terbatas dan bersifat lokal. Batubara yang terdapat di dalam Formasi Muaraenim diendapkan pada dataran pantai yang sebagian merupakan dataran delta. Pada lingkungan pengendapan dataran delta seperti ini sangat mungkin berlangsung pengendapan batubara yang lebih merata, konsisten, dan dalam sekala yang lebih luas.


PENDAHULUAN
Maksud Penelitian ini dilakukan untuk mendukung Kegiatan Rutin Suplemen, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral Tahun Anggaran 1998/1999. Topik utama kegiatan ini adalah Pengkajian Geologi Tersier Sumatera Bagian Selatan, dengan topik khusus tentang hubungannya dengan keterdapatan batubara.
Tujuan penelitian ini untuk lebih memahami siklus pengendapan batuan yang berhubungan dengan pembentukan batubara, baik dalam runtunan genang laut Paleogen maupun runtunan susut laut Neogen. Hasil kegiatan ini telah dapat menggambar 14-kan model pengendapan batubara yang dapat dipakai sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan eksplorasi selanjutnya.
Daerah penelitian meliputi lokasi kegiatan lapangan, meliputi daerah-daerah Kungkilan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Batuniding Kabupaten Lahat, dan Padangratu Lampung (Gambar 14-.1).
Metode penyelidikan secara umum merupakan perpaduan antara pekerjaan lapangan dan laboratorium. Pengumpulan data lapangan dilakukan dengan membuat pengukuran penampang stratigrafi rinci termasuk pengamatan aspek stratigrafi dan sedimentologi serta pengambilan percontoh batuan secara sistematis pada formasi-formasi Tersier-Kuarter. Pekerjaan laboratorium meliputi analisis mikropaleontologi, palinologi, dan petrologi.
GEOLOGI
Ketiga lokasi kegiatan penelitian tersebut secara geologi termasuk daerah cekungan busur belakang Sumatera Selatan. Daerah Kungkilan dan Batuniding mewakili tipe cekungan Neogen, sedangkan daerah Padangratu mewakili tipe cekungan Paleogen (Koesoemadinata, dkk., 1978)
Pengkajian geologi Tersier daerah Kungkilan dan Batuniding lebih ditekankan pada aspek stratigrafi dan sedimentologi karena kedua daerah ini secara tektonik lebih stabil daripada daerah-daerah lain. Penelitian di daerah Padangratu lebih menonjolkan aspek geologi struktur karena perkembangan cekungan di daerah ini sangat dipengaruhi oleh gerak-gerak tektonik.
Daerah Kungkilan
Batuan sedimen dan gunungapi berumur Tersier hingga Kuarter tersingkap di sepanjang Air Kungkilan. Kedudukan perlapisan batuan menunjukkan arah kemiringan antara U 260º T – U 80º T, sedangkan besarnya sudut kemiringan berkisar antara 25º hingga 10º dengan kecenderungan menjadi lebih landai ke arah hilir (timurlaut). Menurut tataan stratigrafi regional (Gafoer dkk., 1994), batuan tersebut dapat dibagi menjadi tujuh formasi, dari tua ke muda adalah Formasi Kikim, Formasi Talangakar, Formasi Baturaja, Formasi Gumai, Formasi Airbenakat, Formasi Muaraenim, dan Formasi Kasai (Gambar 14-2 dan 14-3).
Formasi Kikim merupakan batuan alas yang berupa lava andesit berwarna abu-abu, berasal dari hasil kegiatan gunungapi, diendapkan di lingkungan darat.
Formasi Talangakar berupa batulempung dan batupasir. Lapisan batupasir lebih berkembang di bagian bawah, sedangkan di bagian atas terutama didominasi oleh batulempung. Batulempung biasanya berwarna abu-abu sampai abu-abu tua, kadang-kadang lanauan serta mengandung fosil moluska, kepingan koral, sisa tumbuhan, dan keratan batubara. Batupasir pada umumnya berwarna abu-abu, berbutir halus hingga kasar, mengandung moluska, serpihan batubara, dan damar. Formasi ini mempunyai ketebalan sekitar 75 m, ditindih selaras oleh Formasi Baturaja, dan diendapkan di lingkungan darat hingga laut dangkal, yaitu di laguna (Nichols, 1989).
Formasi Baturaja terdiri atas batugamping dengan sisipan napal dan batulempung. Batugamping tampak berwarna abu-abu terang hingga putih keabu-abuan dan terdiri atas batugamping pejal dan batugamping berlapis. Formasi ini berketebalan mencapai 85 m dan ditindih selaras oleh Formasi Gumai. Lingkungan pengendapan batuan berhubungan dengan laut yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan terumbu, yaitu laut dangkal dengan kondisi air yang jernih dan hangat (Walker, 1992).
Formasi Gumai terdiri atas batupasir dan batulempung yang membentuk perlapisan selang-seling dengan ketebalan berkisar antara 20-80 cm, namun di beberapa tempat dijumpai selang (interval) batulempung berketebalan 3-10 m. Batupasir berwarna abu-abu kehijauan, mengandung glaukonit dan kadang-kadang kepingan batubara. Struktur perarian silang-siur kurang berkembang dalam lapisan batupasir ini, sebaliknya struktur perarian sejajar berkembang sangat baik. Batulempung berwarna abu-abu muda hingga kehijauan dan kaya foraminifera plangton. Formasi ini diendapkan di lingkungan laut terbuka.
Formasi Airbenakat terdiri atas batupasir, batulempung, batulanau, dan perselingan antara batupasir dan batulempung atau batulanau. Secara umum kehadiran batulempung dan batulanau lebih dominan di bagian bawah dan atas, sedangkan kehadiran batupasir lebih dominan di bagian tengah. Formasi ini berketebalan mencapai 330 m, diendapkan di lingkungan laut dangkal yang dicirikan oleh kehadiran moluska yang melimpah.
Formasi Muaraenim terdiri atas batulempung dengan sisipan batupasir dan batubara. Batulempung pada umumnya berwarna abu-abu sampai abu-abu kehitaman, banyak yang bersifat lanauan, dan sering dijumpai sisa tumbuhan. Lapisan batupasir kebanyakan berwarna abu-abu, berbutir sedang hingga kasar dengan sejumlah butiran berukuran kerikil dan kerakal. Lapisan batubara dengan ketebalan hampir 2 m dijumpai sebagai sisipan di dalam batulempung. Lapisan batubara ini berwarna coklat kehitaman, berkilap kusam, dan bersifat getas dengan pecahan-pecahan yang kasar. Di bagian atas, baik lapisan batupasir maupun batulempung bersifat tufaan. Formasi Muaraenim berketebalan 120 m dan merupakan endapan fluviatil yang dapat dibedakan menjadi endapan alur dan endapan limpah banjir.
Formasi Kasai terdiri tuf berbatuapung, konglomerat, dan batupasir tufan di bagian bawah, sedangkan di bagian atas terutama terdiri atas batulanau tufaan. Formasi Kasai berketebalan 140 meter, diendapkan di lingkungan darat yang dipengaruhi oleh kegiatan gunungapi, dan ditindih tak selaras oleh endapan sungai Kuarter yang terdiri atas kerakal dan pasir kurang padu.
Endapan aluvial menutupi secara tidak selaras satuan-satuan stratigrafi yang lebih tua. Endapan ini terdiri atas kerakal dan pasir yang tidak padu.
Daerah Batuniding
Lintasan pengukuran stratigrafi di daerah ini dilakukan di sepanjang Sungai Cawangsaling yang bermataair di Bukit Sepingtian dan mengalir kearah timurlaut. Di sepanjang Sungai ini tersingkap batuan alas Pratersier maupun batuan gunungapi dan sedimen Tersier - Kuarter. Kedudukan perlapisan batuan yang masih normal menunjukkan arah kemiringan sekitar U 335º T – U 45º T dan besar sudut kemiringan berkisar antara 20º - 70º. Kedudukan perlapisan batuan yang terbalik menunjukkan arah kemiringan sekitar U 245º T – U 65º T dan besar sudut kemiringan berkisar antara 110º - 120º. Mengacu pada pembagian stratigrafi dari Gafoer dkk. (1992), batuan tersebut terbagi menjadi tujuh formasi, dari yang tertua adalah Formasi Kikim, Formasi Talangakar, Formasi Baturaja, Formasi Gumai, Formasi Airbenakat, Formasi Muaraenim, dan Formasi Kasai (Gambar 14-4 dan 14-5).
Litologi Formasi Kikim terdiri atas tuf litik dan tuf lapili yang berasal dari erupsi gunungapi. Cekungan pada waktu itu masih berupa daratan
Formasi Talangakar dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian bawah dan bagian atas. Bagian bawah berketebalan sekitar 15 meter terdiri atas runtunan yang diawali oleh breksi disusul batupasir kuarsa yang mengandung sisa tumbuhan dengan sisipan batulanau. Bagian atas setebal 3 meter terdiri atas batulempung berwarna abu-abu tua, menyerpih bintal-bintal siderit. Formasi ini diendapakan tak selaras di atas Formasi Kikim di lingkungan aliran banjir melalui alur sungai yang dangkal atau di atas permukaan dalam bentuk sheetflood (Miall, 1977) hingga laut dangkal laguna (Horne and Fern, 1978 dalam Walker and James, 1992) dengan pengaruh genang laut.
Formasi Baturaja terdiri atas batugamping bioklastika dengan selingan napal. Formasi ini berketebalan 140 m, menindih selaras Formasi Talangakar, dan merupakan fasies inti terumbu bagian luar hingga terumbu depan.
Formasi Gumai berketebalan sekitar 70 meter, berupa selang-seling batupasir dan batulempung Perlapisan batupasir terlihat lebih dominan di bagian bawah, secara berangsur ke atas batulempung menjadi dominan, bahkan ada batupasir yang hanya berkembang sebagai lamina di dalam batulempung. Batuan merupakan endapan tipe flysch yang terbentuk di lingkungan laut dalam (Walker, 1992).
Formasi Airbenakat terdiri atas batulanau berwarna abu-abu kebiruan dengan sisipan batulempung. Baik batulanau maupun batulempung mengandung moluska laut yang diendapkan di lingkungan laut dangkal, termasuk fasies dataran lumpur di lingkungan intertidal (Dalrymple dkk, 1991).
Formasi Muaraenim terdiri atas batupasir dan batulempung yang mana batulempung lebih dominan serta mengandung sisa tumbuhan terutama berupa cetakan daun dengan sisipan tuf. Formasi ini berketebalan sekitar 180 m, menindih selaras Formasi Airbenakat, dan merupakan hasil endapan sungai bermeander yang dicirikan oleh alur-alur dangkal, mudah perpindah-pindah, dan sering banjir (Miall, 1992) serta berasosiasi dengan sistem pengendapan delta.
Formasi Kasai terdiri atas batupasir dan batulempung, selain tuf batuapung khususnya di bagian bawah, konglomerat, dan batulanau. Batuan merupakan hasil endapan alur sungai, aliran banjir, rawa, dan aliran batuapung yang berlangsung di lingkungan dataran aluvial.
Daerah Padangratu
Berdasarkan pembagian peta Geologi Lembar Kotaagung (Amin, dkk., 1994), batuan di daerah ini terbagi menjadi beberapa satuan stratigrafi, yang berumur dari Paleozoikum sampai Kuarter. Urut-urutan stratigrafi tersebut dari yang tertua adalah Komplek Gunungkasih, Formasi Menanga, Formasi Kikim, Formasi Talangakar, Formasi Gading, Formasi Hulusimpang, Formasi Baturaja, Formasi Gumai, Formasi Kasai, Formasi Lampung, Batuan gunungapi Kuarter, dan Aluvium (Gambar 14-. 6).
Dalam kegiatan kali ini dilakukan interpretasi foto udara, terutama yang berkenaan dengan struktur geologi regional, pengukuran struktur geologi di lapangan, dan analisis struktur geologi terukur. Selain itu dilakukan pengamatan ciri litologi terutama batuan pendukung Formasi Talangakar, namun hanya terbatas pada bagian yang mengandung lapisan batubara dan yang berdekatan. Pembahasan mengenai tataan stratigrafi masing-masing formasi didasarkan pada peta geologi regional yang sudah ada.
Lapisan batubara yang terdapat di dalam Formasi Talangakar ini tampak berwarna hitam, mengkilap, bersifat getas dengan pecahan-pecahan yang konkoidal, mengandung pirit dengan lapisan pengotor serpih hitam. Ketebalan lapisan batubara berkisar antara 0,3 m hingga ini lebih dari 0,8 m (bagian bawah tidak tersingkap) dan kedudukan lapisannya U 270 T/20. Lapisan batubara pada Formasi Talangakar di daerah ini umumnya terbentuk pada lingkungan rawa dan cekungan limpah banjir sistem sungai bermeander.
Sintesa yang dikemukakan oleh Tjia (1977), Pulunggono, dkk. (1992), dan Holder, dkk. (1995) dipakai sebagai acuan dan sebagai studi perbandingan antara sejarah tektonik regional Pulau Sumatera dengan daerah penelitian. Pulau Sumatera mengalami empat kali deformasi tektonik dan sistem sesar, dari Jura Akhir sampai dengan Resen. Deformasi pertama berlangsung pada Jura Akhir yang berupa fase kompresi dan daerah Padangratu masih berada di kerak samudera. Deformasi kedua berlangsung pada Kapur Akhir sampat Tersier Awal yang berupa fase ekstensi dan daerah Padangratu termasuk ke dalam jalur tunjaman. Deformasi ketiga terjadi pada Miosen Tengah sampai Resen yang berupa fase kompresi kedua dan daerah Padangratu termasuk ke dalam busur magmatik pada bagian tengah dan baratdaya. Deformasi keempat masih berlangsung aktif sekarang ini berupa pengatifan kembali beberapa sesar yang sudah terbentuk sebelumnya. Daerah penelitian yang terletak di sebelah timur Segmen Sesar Semangko dipengaruhi oleh sistem tegasan utama dan sistem sesar seperti terlihat pada Gambar 14-. 7. Penafsiran foto udara memperlihatkan bahwa sebaran Formasi Talangakar di daerah ini tampak dibatasi oleh sesar utama, yaitu sesar No. 8B dan sesar No.9A berarah U 32º T - U 212 T dan U 36 T-U 216 T.
LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN KETERDAPATAN BATUBARA
Daerah Kungkilan berada di lereng timurlaut Pegunungan Garba dan merupakan bagian tepian Cekungan Sumetera Selatan, Subcekungan Palembang. Daerah Batuniding berada di cekungan yang sama dan di sebelah baratdaya dibatasi oleh Pegunungan Gumai. Secara tektonik kedua daerah ini relatif stabil dibandingkan bagian lain di dalam cekungan. Pada kala Eosen baik daerah Kungkilan maupun Batuniding masih berupa darat, diendapkan bahan gunungapi, dan membentuk Formasi Kikim. Lava andesit banyak diendapkan di daerah Kungkilan, sedangkan di daerah Batuniding diendapkan piroklastik. Kegiatan gunungapi itu berlangsung sampai Oligosen Akhir dan disusul proses peneplanation.
Genang laut dimulai pada awal Miosen sehingga bahan hasil kegiatan gunungapi tersebut digantikan oleh klastik kuarsaan dan bahan rombakan hasil pengikisan Formasi Kikim yang membentuk Formasi Talangakar. Di bawah pengaruh genang laut, cekungan di daerah Kungkilan dan Batuniding berkembang menjadi lingkungan darat-paralik hingga laut dangkal.
Fasies darat-paralik Formasi Talangakar merupakan bagian terpenting yang berkaitan dengan keterdapatan batubara. Di daerah Kungkilan bagian ini tidak tersingkap, sebaliknya tersingkap baik di daerah Batuniding. Lingkungan darat yang berkembang adalah sistem fluvial yang didominasi oleh aliran banjir, baik yang melalui alur sungai maupun di atas permukaan (sheetflood). Sistem sungai dengan kondisi seperti itu biasanya terbentuk di daerah peneplain (Steel, 1974). Batubara dapat terbentuk dalam lingkungan seperti itu, yakni di cekungan limpah banjir atau di rawa-rawa interchannel. Baik cekungan limpah banjir maupun rawa-rawa tidak berkembang di daerah ini sehingga di daerah Batuniding tidak dijumpai batubara. Sebaliknya di daerah Padangratu, proses pengendapan yang sama namun dipengaruhi oleh struktur geologi setempat telah mengendapkan beberapa lapisan batubara dengan ketebalan berkisar antara 0,3 - 0,8 m.
Lingkungan darat-paralik Formasi Talangakar tidak berlangsung lama, menyusul perubahan ke lingkungan laguna (kecuali daerah Padangratu). Perubahan ini sangat berpengaruh pada pembentukan batubara dalam formasi ini, karena pengaruh laut yang kuat mencegah pembentukan batubara. Selain itu, lingkungan laguna laut dangkal dan fauna laut khususnya moluska yang melimpah, tidak sesuai bagi pembentukan batubara.
Perubahan lingkungan pengendapan terus berlangsung di bawah pengaruh genang laut. Lingkungan pengendapan di daerah Kungkilan dan Batuniding berkembang menjadi laut dangkal yang jernih dan hangat sehingga terjadi pertumbuhan terumbu dan pengendapan karbonat Formasi Baturaja. Terumbu itu tumbuh sebagai koloni koral yang berasosiasi dengan ganggang, moluska, bryozoa, dan foraminifera.
Proses genang laut mencapai puncaknya pada waktu Formasi Gumai diendapkan. Lingkungan laut di daerah Kungkilan dan terutama Batuniding menjadi semakin dalam sehingga tidak lagi cocok bagi pertumbuhan terumbu maupun pengendapan karbonat. Di daerah batuniding diendapkan sedimen tipe flysch yang terdiri atas selang-seling tipis batupasir dan batulempung. Endapan serupa namun dalam fasies yang lebih proximal diendapkan di daerah Kungkilan. Suplai klastika ke dalam cekungan di daerah yang disebut terakhir menunjukkan peningkatan yang berarti. Laju sedimentasi yang tinggi ini sangat boleh jadi disebabkan oleh gerak-gerak tektonik yang menyebabkan pengangkatan. Akibatnya terjadi peningkatan kegiatan erosi, kemudian disusul oleh peningkatan laju sedimentasi dalam cekungan. Penjelasan ini diperkuat dengan ditemukannya kepingan batubara dalam lapisan batupasir yang diduga berasal dari Formasi Talangakar yang tererosi.
Tanda dimulainya susut laut sudah tampak menjelang akhir pengendapan Formasi Gumai. Adanya endapan lempung berkandungan foraminifera yang melimpah menunjukkan lingkungan pengendapan yang relatif lebih dangkal daripada sebelumnya. Perubahan lingkungan pengendapan itu semakin jelas pada saat Formasi Airbenakat mulai diendapkan yang berlangsung dalam zona inner sublittoral yang dipengaruhi sistem pasang-surut, dicirikan oleh kehadiran moluska yang melimpah
Formasi Muaraenim dengan sistem sungai bermeander yang dicirikan oleh alur-alurnya yang relatif dangkal dan berjalin-jemalin. Akibatnya endapan banjir berkembang sangat ekstensif terutama di dataran limpah banjir dan cekungan limpah banjir. Di antara cekungan limpah banjir ini ada yang berumur panjang dan berkembang menjadi lingkungan rawa. Batubara yang terdapat di daerah Kungkilan telah diendapkan pada lingkungan seperti ini. Berdasarkan data palinologi, lingkungan di daerah Kungkilan pada waktu itu ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan terdiri atas akasia, durian, mara, nangka, rotan, waru, jambu, pohon Rasamala, dan masih banyak lagi. Tumbuhan tersebut merupakan bahan baku dalam pembentukan batubara.
Puncak susut laut terjadi bersamaan dengan kegiatan gunungapi, cekungan berupa dataran aluvial, dan diendapkan Formasi Kasai. Bahan gunungapi tersebut ditranspor melalui alur-alur sungai dan permukaan sebagai aliran banjir atau secara langsung sebagai aliran piroklastik. Pengendapan Formasi Kasai tidak langsung merata di semua tempat. Daerah Kungkilan termasuk daerah tinggian sehingga proses erosi mengikis bagian atas Formasi Muaraenim sebelum Formasi Kasai diendapkan. Daerah Batuniding merupakan rendahan sehingga pengendapan berlangsung secara menerus.
Subcekungan Palembang di daerah Kungkilan dan Batuniding pada dasarnya berkembang dengan pola pengendapan yang sama (Gambar 14-8). Di kedua lokasi ini tidak terlihat perbedaan yang mencolok baik dalam runtunan genang laut Paleogen maupun runtunan susut laut Neogen.
Lingkungan paralik-darat yang berhubungan dengan daur susut laut berlangsung lebih lama di lingkungan dataran pantai dan dataran delta yang luas, sehingga memungkinkan pembentukan batubara dalam jumlah yang berarti. Masalahnya umur batubara tersebut relatif muda (Plio-Plistosen) sehingga dalam kondisi normal batubaranya masih tergolong lignit sampai sub-bituminus. Di beberapa tempat ada anomali (daerah Tanjungenim, Hadiyanto, 1996) karena kegiatan magma dan kenaikan gradien geothermal serta tingginya paleothermal sehingga menaikkan peringkat batubara.
Batubara yang terdapat pada Formasi Muaraenim di daerah Kungkilan diendapkan di lingkungan rawa atau cekungan limpah banjir yang terbentuk di atas dataran pantai. Endapan batubara ini penyebarannya terbatas karena kontinuitasnya dikontrol oleh bentuk rawa atau cekungan limpah banjir itu sendiri (Gambar 14-9). Lapisan batubara yang penyebarannya lebih luas dan lebih tebal dijumpai di bagian yang lebih distal (ke timurlaut atau ke timur-tenggara kalau dari Batuniding). Daerah Tanjungenim terletak lebih distal, yaitu di lingkungan delta terbukti mengandung endapan batubara jauh lebih banyak daripada daerah Kungkilan (Nursarya, 1977).
Lingkungan dataran pantai juga berkembang di daerah Batuniding, akan tetapi batubara tidak dijumpai dalam endapan limpah banjir. Dimungkinkan cekungan limpah banjir yang terbentuk bersifat temporer sehingga tidak sempat berkembang menjadi rawa yang berasosiasi dengan batubara.


KESIMPULAN
Proses pengisian sedimen ke dalam cekungan busur belakang Sumatera Bagian Selatan di daerah Kungkilan, Batuniding, dan Padangratu menunjukkan adanya dua daur pengendapan. Daur pengendapan pertama dicirikan oleh runtunan genang laut yang membentuk Formasi Kikim, Formasi Talangakar, Formasi Baturaja, dan Formasi Gumai. Daur pengendapan kedua dicirikan oleh runtunan susut laut yang membentuk Formasi Airbenakat, Formasi Muaraenim, dan Formasi Kasai.
Keterdapatan batubara pada cekungan tersebut berhubungan dengan tahapan darat suatu daur pengendapan, baik dalam pra-genang laut Paleogen (Formasi Talangakar) atau tahap akhir susut laut Neogen (Formasi Muaraenim). Batubara yang terdapat di dalam Formasi Talangakar diendapkan pada daerah depresi yang terbentuk pada awal perkembangan cekungan (Kapur Atas). Cekungan tersebut luasnya terbatas sehinga keterdapatan maupun sebaran batubara di dalam formasi ini juga terbatas dan bersifat lokal. Batubara yang terdapat di dalam Formasi Muaraenim diendapkan pada dataran pantai yang sebagian merupakan dataran delta sehingga memungkinkan pengendapan batubara yang lebih merata, konsisten, dan dalam sekala lebih luas. Namun, umur batubara tersebut relatif muda (Pliosen) sehingga lapisan batubara yang terbentuk masih tergolong lignit sampai sub-bituminus.

Pengkajian cekungan batubara di daerah Lubuk Jambi dan sekitarnya, Kabupaten Indragiri Hulu

SARI
Daerah Lubuk Jambi termasuk ke dalam Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Inderagiri Hulu, Propinsi Riau. Secara geografi terletak antara 0057’15” - 0037’0” Lintang Selatan dan 103058’0” - 1040 20’0” Bujur Timur.
Secara stratigrafi terletak di tepi bagian barat Cekungan Sumatera Tengah dimana batuan-batuan Tersier diendapkan tidak selaras di atas batuan pra-Tersier. Batuan Tersier yang tersingkap adalah : Anggota Bagian Bawah Formasi Telisa (Miosen Bawah), Anggota Bagian Atas Formasi Telisa (Miosen Bawah-Tengah) dan Formasi Palembang Bawah (Miosen Tengah-Atas). Umumnya batuan Tersier ini membentuk sinklin-antiklin berarah baratlaut-tenggara dengan kemiringan sayap kurang dari 150 .
Dari 13 singkapan batubara dapat dikelompokkan menjadi dua lapisan yaitu Lapisan Tiu di bagian atas merupakan lapisan tunggal setebal 3,25 meter dan Lapisan Pedulangan di bagian bawah terdiri dari tiga lapisan dengan ketebalan 1,35 m, 1,50 m, dan 3,50 m. Kedua kelompok lapisan tersebut terdapat dalam Formasi Telisa (Anggota Bawah Formasi Telisa) dengan kemiringan berkisar antara 80 - 12 0.
Perhitungan sumberdaya batubara sekitar 10 juta ton pada area pengaruh ke arah jurus 2,5 km kedalaman 50 meter.
Kualitas batubara menunjukan Nilai Kalori 5018 kal/gram, Kadar Abu 28,5 % (adb), Sulfur 1,85 %, Karbon Tertambat 19,8 %, Free Moisture (FM) 6,8 %, Kandungan Air Total (TM) 12,9 %, Air Tertambat (M) 6,5 %, Zat Terbang (VM) 45,1 % dan Specific Gravity 1,4 ton/m3.

1. PENDAHULUAN
Kegiatan Suplemen (DIK-S) Batubara. Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral Tahun Anggaran 1997/1998 telah melakukan pengkajian cekungan batubara yang ada di Sumatera. Salah satunya di daerah Lubuk Jambi dan sekitarnya, Kabupaten Inderagiri Hulu, Propinsi Riau.
Pengkajian cekungan batubara di daerah tersebut adalah untuk meneliti data endapan batubara baik lingkungan pengendapan, arah jurus, kemiringan, letak, sebaran, ketebalan, kualitas dan kondisi geologi batubara serta keadaan umum wilayah, demografi dan hal lain yang erat hubungannya dengan kegiatan selanjutnya. Data tersebut diharapkan dapat menunjang rencana kerja selanjutnya seperti eksplorasi, eksploitasi, pemanfaatan dan pengembangan batubaranya.
Daerah penyelidikan secara administrasi termasuk Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Inderagiri Hulu (INHU), Propinsi Riau. Secara geografi daerah tersebut terletak antara 0o57’15” - 0o37’0” LS dan 103o58’0” - 104o20’0” BT. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari jalan lintas Sumatera ke Pekanbaru melalui daerah Lipat Kain sejauh + 160 km dan selanjutnya ditempuh melalui jalan perusahaan kayu Perhutani dan jalan PIR Hibrida/Sawit sejauh + 30km. Jalan ini belum diaspal dan dimusim hujan sulit/licin dilalui kendaraan bermotor.
2. GEOLOGI REGIONAL
Secara regional daerah penyelidikan termasuk ke dalam tepi Cekungan Sumatera Tengah bagian Barat dan cekungan ini termasuk kedalam kerangka tektonik Indonesia bagian Barat.
Pada periode Akhir Kapur batuan dasar tua secara tektonik terpatahkan menjadi blok-blok yang sebagian naik sehingga terbentuk graben. Selama Eosen sampai Oligosen terjadi sedimentasi pertama yang diendapkan pada Paleo-topografi Pra-Tersier berlingkungan cekungan antar gunung (De Coster, 1974). Sedimen ini terutama terdiri dari klastik kasar dengan sisipan batulumpur dan batubara. Pada zona graben, lapisan batubara berkembang terbatas yang dikontrol oleh penurunan daratan secara berangsur. Hal ini mengakibatkan cekungan sedimentasi diperluas terutama kearah timur dan barat. Pada waktu tertentu cekungan berhubungan dengan laut terbuka dan disertai oleh pengendapan sedimen laut. Sejak pertengahan Miosen sedimen laut dangkal dan payau berkembang. Lapisan batubara dari Formasi Binio, Korinci, Palembang Bawah dan Tengah berasal dari bahan organik terbentuk selama waktu itu di daerah rawa yang luas.
Batuan tertua yang tersingkap di daerah penyelidikan adalah anggota bawah Formasi Kuantan yang menjemari dengan anggota batu-gamping Formasi Kuantan dan Anggota Filit dan Serpih Formasi Kuantan yang lebih muda. Ketiga satuan tersebut berumur Perem-Karbon (P.H. Silitongan dan Kastowo, 1995) (Tabel 1- 1). Ketiga satuan tersebut diterobos oleh Batuan Beku Granit pada Zaman Trias.
Batuan Tersier menindih secara tidak selaras batuan Mesozoikum. Pengendapan yang bermula pada Kala Miosen membentuk Anggota Bawah Formasi Telisa, ditindih selaras oleh Anggota Atas Formasi Telisa.
Anggota Bawah Formasi Palembang berumur Pliosen menutupi secara selaras Anggota Atas Formasi Telisa. Diatasnya terendapkan Anggota Tengah Formasi Palembang secara selaras yang berumur Pliosen. Anggota Atas Formasi Palembang yang berumur Plistosen menutupi selaras Anggota Tengah Formasi Palembang.
Batuan termuda di daerah penyelidikan adalah endapan permukaan berupa Undak Sungai dan Aluvium berumur Kuarter.
Struktur sesar yang ditafsirkan berupa sesar mendatar dan sesar naik. Sesar mendatar berarah Timurlaut-Baratdaya memotong baik batuan Pra-Tersier maupun Tersier. Sesar naik dengan arah Baratlaut-Tenggara dan bidang sesar mengarah ke Timurlaut menyingkap batuan.
3. GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN
Secara keseluruhan daerah penyelidikan memperlihatkan bentuk morfologi berelief rendah sampai tinggi dengan topografi membentuk perbukitan bergelombang dengan ketinggian berkisar antara 60 meter sampai 490 meter diatas permukaan laut.
Satuan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan khusus sekitar daerah “Coal Bearing Formation” yaitu Anggota Bawah Formasi Telisa dari tua ke muda adalah sebagai berikut.
1. Satuan Batuan Anggota Filit Serpih Formasi Kuantan, terdiri dari serpih dan filit berwarna kemerahan sampai coklat tua agak sekisan, mengandung sisipan batusabak abu-abu tua, kuarsit, batulanau, rijang abu-abu tua dan aliran lava bersusunan andesit sampai basal yang tidak terpisahkan setempat batuan malih menjadi sekis, genes.
2. Satuan Batuan Anggota Bawah Formasi Telisa, menindih secara tidak selaras batuan Anggota Filit dan Serpih Formasi Kuantan, terdiri dari napal lempungan dengan lensa-lensa rijang hitam, batupasir lempung, batubara (lignit), tufa, breksi andesit dan batupasir glaukonit. Satuan batuan pembawa batubara ini membentuk struktur dan sinklin kecil di bagian tengah daerah penyelidikan.
3. Satuan batuan Anggota Atas Formasi Telisa, menindih secara selaras batuan Anggota Bawah Formasi Telisa, terdiri dari serpih coklat keabu-abuan dan napal degan sisipan tipis tufa andesit.
4. Suatu paket sedimen yang mengandung “seam” atau lapisan batubara mulai dari bawah sampai atas, memiliki urutan pengendapan yang tertentu dan akan mencerminkan paleogeografi (iklim, muka air, vegetasi asal) dan proses geologi, seperti siklus sedimentasi dan lingkungan pengendapan. Setiap kali terjadi perubahan kondisi dan parameter tersebut akan terjadi pula perubahan pada endapan yang terbentuk.
Dari hasil lintasan geologi di daerah formasi pembawa batubara (“Coal Bearing Formation”) Batang Pedulangan - Sungai Petai, diketahui litologinya selalu berasosiasi dengan lapisan batupasir kuarsa berbutir sedang sampai kasar, lapisan lempung pasiran dan napal lempungan. Dalam satuan ini diendapkan 3 (tiga) lapisan batubara dengan lapisan pertama tebal 1m terdiri dari 2 ply seam berkisar antara 0,40m - 0,60m, lapisan kedua tebal > 1,50m dan lapisan ketiga tebal >2,50m terdiri dari 6 ply seam berkisar antara 0,40m - 1,80m, dengan kemiringan rata-rata 10o. Struktur yang diketahui berupa “gradded bedding” dalam batupasir.
Perulangan endapan pasir dan batubara yang diketaehui di area Batang Pedulangan - Sungai Petai ini diasosiasikan dengan hasil endapan transgresi-regresi yang terjadi di daerah ini yaitu phase transgresi di daerah ini dicirikan dengan perulangan endapan pasir. Area Batang Pedulangan - Sungai Petai yang didominasi oleh endapan batupasir aluvial bersifat konglomerat ini diatasnya ditutupi oleh endapan sedimen lebih halus dan diikuti kembali pengendapan batubara paling atas (Seam Tiu).
Endapan batubara di daerah ini diketahui relatif tipis dan umumnya mengandung abu dan sulfur yang cukup tinggi, penyebaran ke arah lateral relatif tidak menerus walaupun kemiringannya cukup landai rata-rata 10o.
Pendekatan yang digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan ini adalah pertama pendapat Stach (1982), yang menyatakan bahwa kandungan sulfur yang tinggi biasanya diendapkan pada lingkungan yang dipengaruhi air laut.
Kemudian Twenholt, 1953 (dalam Y. Yanuar, 1987), menyebutkan di daerah rawa-rawa yang dipengaruhi oleh laut akan mempunyai persentasi mineral besi sulfida ini relatif lebih sedikit atau tidak ada sama sekali.
Berdasarkan pengamatan pada lintasan geologi daerah formasi pembawa batubara Batang Pedulangan Sungai Petai dan didukung oleh pendapat kedua peneliti tersebut,
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dicerminkan bentuk morfologi perbukitan bergelombang. Jenis struktur utama yang berkembang di daerah ini adalah lipatan berupa sinklin dan antiklin berarah baratlaut-tenggara dengan kemiringan agak landai. Sedangkan struktur sesar berupa sesar mendatar berarah baratdaya-timurlaut memotong satuan batuan Anggota Atas dan Bawah Formasi Telisa bagian timurlaut zona sesar berarah ke selatan, jenis sesar “transversal dextral” (menganan).
Indikasi sesar selain dari jurus dan kemiringan batuan adalah korelasi dari lapisan batubara. Berdasarkan data tersebut diatas diduga bahwa sesar mendatar ini terjadi akibat adanya suatu aktivitas tektonik pada batuan yang berumur Mio-Pliosen, maka sesar mendatar ini diduga berumur setelah Pliosen.
4. POTENSI ENDAPAN BATUBARA
Dalam pemetaan geologi ditemukan singkapan sebanyak 13 lokasi singkapan batubara yang dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) lapisan batubara, yaitu Lapisan Tiu dibagian atas merupakan lapisan tunggal setebal 3.25 m dan Lapisan Pedulangan dibagian bawah terdiri dari tiga lapisan dengan ketebalan kurang lebih 1.35 m, 1,50 m dan 3.50 m.
Kedua Lapisan tersebut ditemukan dalam Formasi Telisa (Anggota Bawah Formasi Telisa) yang membentuk antiklin. Lapisan Pedulangan sayap utara terdapat dalam batupasir kuarsa dengan ketebalan batubara seluruhnya 6,35 m. Lapisan batubara menempati bagian hidung struktur antiklin dengan sudut kemiringan 10o. Lapisan ini terganggu oleh struktur sesar sehingga kesinambungannya belum dapat ditentukan, karena selain merupakan daerah limbah banjir yang ditutupi oleh aluvium. Formasi ini membaji ke arah barat, sehingga coal bearing formasi-nyapun menipis kearah barat. Singkapan dibagian sayap selatan (Blok IV) sulit ditemukan, hanya satu singkapan setebal kurang lebi 20 cm, kemiringan 10o kearah selatan.
Pada Blok III sayap selatan ditemukan tiga singkapan batubara dengan ketebalan kurang lebih 1 m, 3,35 m dan 1,70 m, dengan kemiringan 10o ke arah selatan. Ketiga singkapan ini muncul diatas perbukitan, kesinambungannya hanya bisa diikuti kurang lebih sejauh 500 m kearah jurus, yang sudah berubah kearah utara-selatan. Ke arah utara berbatasan dengan munculnya batuan Pra-Tersier, kearah Selatan menghilang karena topografi berubah menjadi rendah.




5. KUALITAS BATUBARA
Analisis kimia terhadap 12 (dua belas) conto batubara yang dilakukan dalam keadaan “air dried base” (adb), menunjukkan bahwa kualitas batubara di daerah penelitian seperti dicerminkan angka-angka berikut : Nilai kalori rata-rata 5018 kal/gram, kandungan air bebas (FM) 6,8%, kandungan air total (TM) 12,9%, air tertambat (M) 6,5%, zat terbang (VM) 45,1%, karbon padat (FC) 19,8%, kadar abu (Ash) 28,5%, kadar sulfur (S) 1,85% dan berat jenis (SG) 1,4.
Hasil analisa petrografi berupa nilai refleksi batubara di daerah penelitian adalah sebagai berikut : nilai refleksi vitrinit berkisar antara 0.31 - 0.37%. Komposisi maseral vitrinit berkisar antara 60-87%, liptinit 5-15%, inertinit 1-3%, pirit 0,5-3% dan mineral matter 7-20%.
Dari hasil analisis kimia terlihat bahwa batubara di daerah penelitian bernilai kalori antara 4575-5865 kal/gram. Sedangkan menurut klasifikasi ASTM batubara yang terdapat di daerah penelitian termasuk dalam kelompok Sub Bituminous.
6. SUMBERDAYA BATUBARA
Dari beberapa lokasi penyelidikan, untuk sementara ada 3 (tiga) blok yang dapat diperhitung-kan sumberdaya batubaranya. Perhitungan sumberdaya batubara ini didasarkan pada data singkapan dan sumur uji yang di lapangan dapat diamati tebal serta jurus dan kemiringannya.
Berdasarkan konstruksi geologi dari data singkapan baik batubara mupun batuan dan evaluasi data geologi, ini adalah hasil perhitungan batubara pada setiap blok sampai kedalaman 50 meter.
• Lapisan Tiu (Blok I) : Ditemukan 1 (satu) lapisan tunggal batubara, tebal lapisan batubara rata-rata 3.25 m, jurus dan kemiringan lapisan N305oE/<10o , sumberdaya sebesar 3.252.600 ton.
• Lapisan Pedulangan (Blok II) : Ditemukan 3 (tiga) lapisan batubara, tebal lapisan batubara kurang lebih 1,35 m, 1,50 m dan 3,50 m, jurus dan kemiringan lapisan N300oE/10o , sumberdaya batubara sebesar 6.400.800 ton.
• Lapisan Pedulangan (Blok III) : Ditemukan 3 (tiga) lapisan batubara, tebal lapisan batubara kurang lebih 1,0 m, 1,70 m dan 3,45 m, sumberdaya batubara sebesar 1.229.760 ton.
7. PROSPEK PENGEMBANGAN BATUBARA
Endapan batubara di daerah Lubukjambi cukup prospek untuk dikembangkan lebih lanjut dalam skala kecil. Untuk mengetahui sumber daya yang lebih pasti, perlu dilakukan eksplorasi lebih lanjut.
8. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan kepada uraian-uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan dari hasil penelitian daerah Lubuk Jambi dan Sekitarnya, yaitu :
1. Secara fisiografi, daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Sumatera Tengah tersusun oleh 3 (tiga) formasi yaitu Formasi Kuantan, Telisa dan Palembang.
2. Singkapan batubara yang dijumpai di lapangan terdapat pada Anggota Bawah Formasi Telisa dikelompokkan menjadi 2 (dua) lapisan, yaitu Lapisan Tiu berupa lapisan tunggal tebal kurang lebih 3,25 m dan Lapisan Pedulangan terdiri dari 3 (tiga) lapisan dengan ketebalan kurang lebih 1,35 m, 150 m dan 3,50 m dan kemiringan lapisan berkisar 8o - 12o.
3. Dari hasil analisis kimia 13 conto batubara diketahui rata-rata FM 6,8%, TM 12,9%, M 6,5%, VM 45,1% FC 19,8%, S 1,85% dan CV 5018. Hasil analisis petrografi batubara diketahui reflektan vitrinit (RV) berkisar antara 0,31 - 0,37, komposisi maseral berkisar antara Vitrinit 72-85%, Liptinit 5-15%, Inertinit 1-3%, Pirit 1-3% dan Mineral Matter 7-20%. Dari kedua hasil analisa tersebut batubara di daerah penelitian termasuk Sub Bituminous menurut ASTM.
4. Dari hasil analisis, komposisi litotipe, maseral, mineral pirit, kadar abu dan litologinya diinterpretasikan lingkungan pengendapannya terbentuk didaerah rawa yang dipengaruhi air laut “delta front”.
5. Sumberdaya batubara sementara dihitung dari ketebalan 1m ke atas yaitu blok I, II, dan III berjumlah kurang lebih 21 juta ton. Untuk mengetahui sumberdaya batubara lebih rinci disarankan agar dilakukan eksplorasi di daerah potensi Blok I Seam Tiau, Blok II Seam Pedulangan, Blok III dan Blok IV Sayap Antiklin Selatan Seam Pedulangan di Desa Pangkalan.

ബടുà´¬ാà´° jambi

SARI
Daerah Lubuk Jambi termasuk ke dalam Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Inderagiri Hulu, Propinsi Riau. Secara geografi terletak antara 0057’15” - 0037’0” Lintang Selatan dan 103058’0” - 1040 20’0” Bujur Timur.
Secara stratigrafi terletak di tepi bagian barat Cekungan Sumatera Tengah dimana batuan-batuan Tersier diendapkan tidak selaras di atas batuan pra-Tersier. Batuan Tersier yang tersingkap adalah : Anggota Bagian Bawah Formasi Telisa (Miosen Bawah), Anggota Bagian Atas Formasi Telisa (Miosen Bawah-Tengah) dan Formasi Palembang Bawah (Miosen Tengah-Atas). Umumnya batuan Tersier ini membentuk sinklin-antiklin berarah baratlaut-tenggara dengan kemiringan sayap kurang dari 150 .
Dari 13 singkapan batubara dapat dikelompokkan menjadi dua lapisan yaitu Lapisan Tiu di bagian atas merupakan lapisan tunggal setebal 3,25 meter dan Lapisan Pedulangan di bagian bawah terdiri dari tiga lapisan dengan ketebalan 1,35 m, 1,50 m, dan 3,50 m. Kedua kelompok lapisan tersebut terdapat dalam Formasi Telisa (Anggota Bawah Formasi Telisa) dengan kemiringan berkisar antara 80 - 12 0.
Perhitungan sumberdaya batubara sekitar 10 juta ton pada area pengaruh ke arah jurus 2,5 km kedalaman 50 meter.
Kualitas batubara menunjukan Nilai Kalori 5018 kal/gram, Kadar Abu 28,5 % (adb), Sulfur 1,85 %, Karbon Tertambat 19,8 %, Free Moisture (FM) 6,8 %, Kandungan Air Total (TM) 12,9 %, Air Tertambat (M) 6,5 %, Zat Terbang (VM) 45,1 % dan Specific Gravity 1,4 ton/m3.

1. PENDAHULUAN
Kegiatan Suplemen (DIK-S) Batubara. Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral Tahun Anggaran 1997/1998 telah melakukan pengkajian cekungan batubara yang ada di Sumatera. Salah satunya di daerah Lubuk Jambi dan sekitarnya, Kabupaten Inderagiri Hulu, Propinsi Riau.
Pengkajian cekungan batubara di daerah tersebut adalah untuk meneliti data endapan batubara baik lingkungan pengendapan, arah jurus, kemiringan, letak, sebaran, ketebalan, kualitas dan kondisi geologi batubara serta keadaan umum wilayah, demografi dan hal lain yang erat hubungannya dengan kegiatan selanjutnya. Data tersebut diharapkan dapat menunjang rencana kerja selanjutnya seperti eksplorasi, eksploitasi, pemanfaatan dan pengembangan batubaranya.
Daerah penyelidikan secara administrasi termasuk Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Inderagiri Hulu (INHU), Propinsi Riau. Secara geografi daerah tersebut terletak antara 0o57’15” - 0o37’0” LS dan 103o58’0” - 104o20’0” BT. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari jalan lintas Sumatera ke Pekanbaru melalui daerah Lipat Kain sejauh + 160 km dan selanjutnya ditempuh melalui jalan perusahaan kayu Perhutani dan jalan PIR Hibrida/Sawit sejauh + 30km. Jalan ini belum diaspal dan dimusim hujan sulit/licin dilalui kendaraan bermotor.
2. GEOLOGI REGIONAL
Secara regional daerah penyelidikan termasuk ke dalam tepi Cekungan Sumatera Tengah bagian Barat dan cekungan ini termasuk kedalam kerangka tektonik Indonesia bagian Barat.
Pada periode Akhir Kapur batuan dasar tua secara tektonik terpatahkan menjadi blok-blok yang sebagian naik sehingga terbentuk graben. Selama Eosen sampai Oligosen terjadi sedimentasi pertama yang diendapkan pada Paleo-topografi Pra-Tersier berlingkungan cekungan antar gunung (De Coster, 1974). Sedimen ini terutama terdiri dari klastik kasar dengan sisipan batulumpur dan batubara. Pada zona graben, lapisan batubara berkembang terbatas yang dikontrol oleh penurunan daratan secara berangsur. Hal ini mengakibatkan cekungan sedimentasi diperluas terutama kearah timur dan barat. Pada waktu tertentu cekungan berhubungan dengan laut terbuka dan disertai oleh pengendapan sedimen laut. Sejak pertengahan Miosen sedimen laut dangkal dan payau berkembang. Lapisan batubara dari Formasi Binio, Korinci, Palembang Bawah dan Tengah berasal dari bahan organik terbentuk selama waktu itu di daerah rawa yang luas.
Batuan tertua yang tersingkap di daerah penyelidikan adalah anggota bawah Formasi Kuantan yang menjemari dengan anggota batu-gamping Formasi Kuantan dan Anggota Filit dan Serpih Formasi Kuantan yang lebih muda. Ketiga satuan tersebut berumur Perem-Karbon (P.H. Silitongan dan Kastowo, 1995) (Tabel 1- 1). Ketiga satuan tersebut diterobos oleh Batuan Beku Granit pada Zaman Trias.
Batuan Tersier menindih secara tidak selaras batuan Mesozoikum. Pengendapan yang bermula pada Kala Miosen membentuk Anggota Bawah Formasi Telisa, ditindih selaras oleh Anggota Atas Formasi Telisa.
Anggota Bawah Formasi Palembang berumur Pliosen menutupi secara selaras Anggota Atas Formasi Telisa. Diatasnya terendapkan Anggota Tengah Formasi Palembang secara selaras yang berumur Pliosen. Anggota Atas Formasi Palembang yang berumur Plistosen menutupi selaras Anggota Tengah Formasi Palembang.
Batuan termuda di daerah penyelidikan adalah endapan permukaan berupa Undak Sungai dan Aluvium berumur Kuarter.
Struktur sesar yang ditafsirkan berupa sesar mendatar dan sesar naik. Sesar mendatar berarah Timurlaut-Baratdaya memotong baik batuan Pra-Tersier maupun Tersier. Sesar naik dengan arah Baratlaut-Tenggara dan bidang sesar mengarah ke Timurlaut menyingkap batuan.
3. GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN
Secara keseluruhan daerah penyelidikan memperlihatkan bentuk morfologi berelief rendah sampai tinggi dengan topografi membentuk perbukitan bergelombang dengan ketinggian berkisar antara 60 meter sampai 490 meter diatas permukaan laut.
Satuan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan khusus sekitar daerah “Coal Bearing Formation” yaitu Anggota Bawah Formasi Telisa dari tua ke muda adalah sebagai berikut.
1. Satuan Batuan Anggota Filit Serpih Formasi Kuantan, terdiri dari serpih dan filit berwarna kemerahan sampai coklat tua agak sekisan, mengandung sisipan batusabak abu-abu tua, kuarsit, batulanau, rijang abu-abu tua dan aliran lava bersusunan andesit sampai basal yang tidak terpisahkan setempat batuan malih menjadi sekis, genes.
2. Satuan Batuan Anggota Bawah Formasi Telisa, menindih secara tidak selaras batuan Anggota Filit dan Serpih Formasi Kuantan, terdiri dari napal lempungan dengan lensa-lensa rijang hitam, batupasir lempung, batubara (lignit), tufa, breksi andesit dan batupasir glaukonit. Satuan batuan pembawa batubara ini membentuk struktur dan sinklin kecil di bagian tengah daerah penyelidikan.
3. Satuan batuan Anggota Atas Formasi Telisa, menindih secara selaras batuan Anggota Bawah Formasi Telisa, terdiri dari serpih coklat keabu-abuan dan napal degan sisipan tipis tufa andesit.
4. Suatu paket sedimen yang mengandung “seam” atau lapisan batubara mulai dari bawah sampai atas, memiliki urutan pengendapan yang tertentu dan akan mencerminkan paleogeografi (iklim, muka air, vegetasi asal) dan proses geologi, seperti siklus sedimentasi dan lingkungan pengendapan. Setiap kali terjadi perubahan kondisi dan parameter tersebut akan terjadi pula perubahan pada endapan yang terbentuk.
Dari hasil lintasan geologi di daerah formasi pembawa batubara (“Coal Bearing Formation”) Batang Pedulangan - Sungai Petai, diketahui litologinya selalu berasosiasi dengan lapisan batupasir kuarsa berbutir sedang sampai kasar, lapisan lempung pasiran dan napal lempungan. Dalam satuan ini diendapkan 3 (tiga) lapisan batubara dengan lapisan pertama tebal 1m terdiri dari 2 ply seam berkisar antara 0,40m - 0,60m, lapisan kedua tebal > 1,50m dan lapisan ketiga tebal >2,50m terdiri dari 6 ply seam berkisar antara 0,40m - 1,80m, dengan kemiringan rata-rata 10o. Struktur yang diketahui berupa “gradded bedding” dalam batupasir.
Perulangan endapan pasir dan batubara yang diketaehui di area Batang Pedulangan - Sungai Petai ini diasosiasikan dengan hasil endapan transgresi-regresi yang terjadi di daerah ini yaitu phase transgresi di daerah ini dicirikan dengan perulangan endapan pasir. Area Batang Pedulangan - Sungai Petai yang didominasi oleh endapan batupasir aluvial bersifat konglomerat ini diatasnya ditutupi oleh endapan sedimen lebih halus dan diikuti kembali pengendapan batubara paling atas (Seam Tiu).
Endapan batubara di daerah ini diketahui relatif tipis dan umumnya mengandung abu dan sulfur yang cukup tinggi, penyebaran ke arah lateral relatif tidak menerus walaupun kemiringannya cukup landai rata-rata 10o.
Pendekatan yang digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan ini adalah pertama pendapat Stach (1982), yang menyatakan bahwa kandungan sulfur yang tinggi biasanya diendapkan pada lingkungan yang dipengaruhi air laut.
Kemudian Twenholt, 1953 (dalam Y. Yanuar, 1987), menyebutkan di daerah rawa-rawa yang dipengaruhi oleh laut akan mempunyai persentasi mineral besi sulfida ini relatif lebih sedikit atau tidak ada sama sekali.
Berdasarkan pengamatan pada lintasan geologi daerah formasi pembawa batubara Batang Pedulangan Sungai Petai dan didukung oleh pendapat kedua peneliti tersebut,
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dicerminkan bentuk morfologi perbukitan bergelombang. Jenis struktur utama yang berkembang di daerah ini adalah lipatan berupa sinklin dan antiklin berarah baratlaut-tenggara dengan kemiringan agak landai. Sedangkan struktur sesar berupa sesar mendatar berarah baratdaya-timurlaut memotong satuan batuan Anggota Atas dan Bawah Formasi Telisa bagian timurlaut zona sesar berarah ke selatan, jenis sesar “transversal dextral” (menganan).
Indikasi sesar selain dari jurus dan kemiringan batuan adalah korelasi dari lapisan batubara. Berdasarkan data tersebut diatas diduga bahwa sesar mendatar ini terjadi akibat adanya suatu aktivitas tektonik pada batuan yang berumur Mio-Pliosen, maka sesar mendatar ini diduga berumur setelah Pliosen.
4. POTENSI ENDAPAN BATUBARA
Dalam pemetaan geologi ditemukan singkapan sebanyak 13 lokasi singkapan batubara yang dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) lapisan batubara, yaitu Lapisan Tiu dibagian atas merupakan lapisan tunggal setebal 3.25 m dan Lapisan Pedulangan dibagian bawah terdiri dari tiga lapisan dengan ketebalan kurang lebih 1.35 m, 1,50 m dan 3.50 m.
Kedua Lapisan tersebut ditemukan dalam Formasi Telisa (Anggota Bawah Formasi Telisa) yang membentuk antiklin. Lapisan Pedulangan sayap utara terdapat dalam batupasir kuarsa dengan ketebalan batubara seluruhnya 6,35 m. Lapisan batubara menempati bagian hidung struktur antiklin dengan sudut kemiringan 10o. Lapisan ini terganggu oleh struktur sesar sehingga kesinambungannya belum dapat ditentukan, karena selain merupakan daerah limbah banjir yang ditutupi oleh aluvium. Formasi ini membaji ke arah barat, sehingga coal bearing formasi-nyapun menipis kearah barat. Singkapan dibagian sayap selatan (Blok IV) sulit ditemukan, hanya satu singkapan setebal kurang lebi 20 cm, kemiringan 10o kearah selatan.
Pada Blok III sayap selatan ditemukan tiga singkapan batubara dengan ketebalan kurang lebih 1 m, 3,35 m dan 1,70 m, dengan kemiringan 10o ke arah selatan. Ketiga singkapan ini muncul diatas perbukitan, kesinambungannya hanya bisa diikuti kurang lebih sejauh 500 m kearah jurus, yang sudah berubah kearah utara-selatan. Ke arah utara berbatasan dengan munculnya batuan Pra-Tersier, kearah Selatan menghilang karena topografi berubah menjadi rendah.




5. KUALITAS BATUBARA
Analisis kimia terhadap 12 (dua belas) conto batubara yang dilakukan dalam keadaan “air dried base” (adb), menunjukkan bahwa kualitas batubara di daerah penelitian seperti dicerminkan angka-angka berikut : Nilai kalori rata-rata 5018 kal/gram, kandungan air bebas (FM) 6,8%, kandungan air total (TM) 12,9%, air tertambat (M) 6,5%, zat terbang (VM) 45,1%, karbon padat (FC) 19,8%, kadar abu (Ash) 28,5%, kadar sulfur (S) 1,85% dan berat jenis (SG) 1,4.
Hasil analisa petrografi berupa nilai refleksi batubara di daerah penelitian adalah sebagai berikut : nilai refleksi vitrinit berkisar antara 0.31 - 0.37%. Komposisi maseral vitrinit berkisar antara 60-87%, liptinit 5-15%, inertinit 1-3%, pirit 0,5-3% dan mineral matter 7-20%.
Dari hasil analisis kimia terlihat bahwa batubara di daerah penelitian bernilai kalori antara 4575-5865 kal/gram. Sedangkan menurut klasifikasi ASTM batubara yang terdapat di daerah penelitian termasuk dalam kelompok Sub Bituminous.
6. SUMBERDAYA BATUBARA
Dari beberapa lokasi penyelidikan, untuk sementara ada 3 (tiga) blok yang dapat diperhitung-kan sumberdaya batubaranya. Perhitungan sumberdaya batubara ini didasarkan pada data singkapan dan sumur uji yang di lapangan dapat diamati tebal serta jurus dan kemiringannya.
Berdasarkan konstruksi geologi dari data singkapan baik batubara mupun batuan dan evaluasi data geologi, ini adalah hasil perhitungan batubara pada setiap blok sampai kedalaman 50 meter.
• Lapisan Tiu (Blok I) : Ditemukan 1 (satu) lapisan tunggal batubara, tebal lapisan batubara rata-rata 3.25 m, jurus dan kemiringan lapisan N305oE/<10o , sumberdaya sebesar 3.252.600 ton.
• Lapisan Pedulangan (Blok II) : Ditemukan 3 (tiga) lapisan batubara, tebal lapisan batubara kurang lebih 1,35 m, 1,50 m dan 3,50 m, jurus dan kemiringan lapisan N300oE/10o , sumberdaya batubara sebesar 6.400.800 ton.
• Lapisan Pedulangan (Blok III) : Ditemukan 3 (tiga) lapisan batubara, tebal lapisan batubara kurang lebih 1,0 m, 1,70 m dan 3,45 m, sumberdaya batubara sebesar 1.229.760 ton.
7. PROSPEK PENGEMBANGAN BATUBARA
Endapan batubara di daerah Lubukjambi cukup prospek untuk dikembangkan lebih lanjut dalam skala kecil. Untuk mengetahui sumber daya yang lebih pasti, perlu dilakukan eksplorasi lebih lanjut.
8. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan kepada uraian-uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan dari hasil penelitian daerah Lubuk Jambi dan Sekitarnya, yaitu :
1. Secara fisiografi, daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Sumatera Tengah tersusun oleh 3 (tiga) formasi yaitu Formasi Kuantan, Telisa dan Palembang.
2. Singkapan batubara yang dijumpai di lapangan terdapat pada Anggota Bawah Formasi Telisa dikelompokkan menjadi 2 (dua) lapisan, yaitu Lapisan Tiu berupa lapisan tunggal tebal kurang lebih 3,25 m dan Lapisan Pedulangan terdiri dari 3 (tiga) lapisan dengan ketebalan kurang lebih 1,35 m, 150 m dan 3,50 m dan kemiringan lapisan berkisar 8o - 12o.
3. Dari hasil analisis kimia 13 conto batubara diketahui rata-rata FM 6,8%, TM 12,9%, M 6,5%, VM 45,1% FC 19,8%, S 1,85% dan CV 5018. Hasil analisis petrografi batubara diketahui reflektan vitrinit (RV) berkisar antara 0,31 - 0,37, komposisi maseral berkisar antara Vitrinit 72-85%, Liptinit 5-15%, Inertinit 1-3%, Pirit 1-3% dan Mineral Matter 7-20%. Dari kedua hasil analisa tersebut batubara di daerah penelitian termasuk Sub Bituminous menurut ASTM.
4. Dari hasil analisis, komposisi litotipe, maseral, mineral pirit, kadar abu dan litologinya diinterpretasikan lingkungan pengendapannya terbentuk didaerah rawa yang dipengaruhi air laut “delta front”.
5. Sumberdaya batubara sementara dihitung dari ketebalan 1m ke atas yaitu blok I, II, dan III berjumlah kurang lebih 21 juta ton. Untuk mengetahui sumberdaya batubara lebih rinci disarankan agar dilakukan eksplorasi di daerah potensi Blok I Seam Tiau, Blok II Seam Pedulangan, Blok III dan Blok IV Sayap Antiklin Selatan Seam Pedulangan di Desa Pangkalan.

Pengkajian cekungan batubara di daerah Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin


S A R I

Penyelidikan terletak di Kec. Sungaililin dan Kec Bayung Lincir pada peta topografi Bakosurtanal Lembar 1013-51 skala 1:50.000, dengan batas koordinat 103o45’00” - 104o00’00” Bujur Timur dan 2o15’00’ - 2o30’00” Lintang Selatan.
Secara geologi terletak di cekungan Sumatera Selatan di bagian utara Palembang dalam antiklinorium Tamiang dan Bentayan. Formasi Muara Enim merupakan formasi pembawa batubara yang diendapkan sebagai kelanjutan dari fase regresi, berumur Miosen Akhir - Pliosen Awal. Lingkungan pengendapan batubara terjadi dari sedimentasi kumpulan perulangan endapan delta sampai fluviatil pada akhir pengendapan batubara.
Hasil dari pemetaan batubara dan korelasi dari pemboran sebanyak 18 titik pemboran telah didapatkan 10 lapisan batubara mulai dari Anggota M1 sampai M4, dengan penyebaran yang cukup luas pada sayap utara dari antiklin Tamiang. Sumberdaya batubara hasil perhitungan dengan ketebalan >1.0 meter dengan kedalaman sampai 50.0 meter dan panjang terluar dari singkapan atau lubang bor 1000 meter; total sumberdaya batubara sebesar 116 juta ton.
Kisaran kualitas batubara di daerah ini adalah : Moisture (adb) 13.2 - 18.6 %, Volatile Matter (adb) 38.2 - 45.4; Ash Content (adb) 3.4 - 22.5%; Total Sulphur (adb) 0.21 - 2.21%; Specific Gravity 1.39 - 1.54; Calorific Value (adb) 4040 - 5505 kkal/kg, atau 4844 – 7656 kal/kg (daf).

PENDAHULUAN
Daerah Bayung Lincir secara administratif 20% di bagian selatan masuk wilayah hukum Kecamatan Sungai Lilin dan 80% di bagian utara masuk wilayah hukum Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatra, seluas K 75.000 ha (Lembar Peta 1013-51). Secara geografis dibatasi oleh koordinat 103o 45’ 00” - 104o 00’ 00” Bujur Timur dan 2o15’00” - 2o30’00” Lintang Selatan; terletak di kiri-kanan jalan lintas timur Palembang - Jambi mulai km 118 - km 142 dengan infra struktur cukup baik (Gambar 7-.1).
Tataguna tanah sebagian besar daerah penyelidikan merupakan kebun plasma kelapa sawit (PT. HINDOLI, PT. SMJ, PT. LONSUM), perkebunan karet rakyat, kebun dan ladang serta kawasan hutan lindung; sebagian kecil dipakai sebagai jalur pipa minyak dan gas areal kerja PT. GULF ex. PT ASAMERA.
Tujuan penyelidikan ini adalah untuk mengetahui keadaan geologi khususnya yang berhubungan dengan kejadian lingkungan pengendapan batubara, penyebaran, ketebalan dan jumlah lapisan; yang akhirnya dapat melengkapi data kajian cekungan Sumatera Selatan, sehingga dapat dibuat data base yang mudah di akses untuk kebijaksanaan yang lebih lanjut.
1. GEOLOGI REGIONAL
Morfologi daerah ini terdiri dari dua satuan yaitu Satuan Morfologi Perbukitan Bergelombang Rendah, kemiringan lereng 10o-25o dengan elevasi dari 5 m dpl sampai 75m dpl luas hampir 90%, disusun oleh satuan Batuan Tersier klastika halus terdiri dari Formasi Air Benakat, Muara Enim dan Kasai. Satuan Morfologi Pedataran dengan elevasi kurang dari 5 m dpl terdiri dari batuan rombakan formasi diatas dan endapan limpah banjir yang menempati sepanjang aliran Sungai Tungkal.
Secara tektonik daerah penyelidikan merupakan jalur belakang daratan (“back deep”), terletak pada Cekungan Sumatra Selatan di bagian utara Palembang. Di lapangan pada lembar ini terdapat jalur lipatan dengan dua antiklinorium yang dikenal dengan Antiklin Tamiang, terletak di bagian selatan lembar terpotong oleh dua sesar geser dan satu sesar normal; di utara dikenal dengan Antiklin Bentayan terpotong oleh tiga sesar geser. Arah umum sumbu antiklin adalah Baratlaut- Tenggara.
Stratigrafi daerah penyelidikan mencakup tiga formasi, dari tua ke muda, yaitu Formasi Air Benakat, Muara Enim, Kasai serta endapan Aluvial (Tabel 7-1). Ketiga formasi sebagai penyusun batuan di wilayah ini tersebar merata dalam sistem lipatan Antiklinorium Tamiang dan Antiklinorium Bentayan.
Formasi Air Benakat tersingkap di sepanjang sumbu Antiklin Tamiang dan Antiklin Bentayan dengan lebar singkapan 3,00 - 5,00 km, umumnya mempunyai dip yang landai 4o-12o. Formasi ini diendapkan pada awal fase regresi, terdiri dari perselingan batulempung dengan batupasir, batulanau, umumnya mengandung glaukonit dan bersifat endapan laut berumur Miosen Tengah; di lapangan pada formasi ini tidak dijumpai batubara.
Formasi Muara Enim merupakan formasi pembawa batubara, tersingkap sangat luas pada kedua sayap antiklin. Pada formasi ini dijumpai cukup banyak singkapan batubara yang dapat dikelompokkan menjadi empat anggota pembawa batubara (Shell, 1978), yaitu Anggota M1, M2, M3 dan M4.
Kemiringan dip pada sayap selatan Antiklin Tamiang berkisar 8o - 12o dengan jurus utara timur 110o - 140o sedangkan dip pada sayap utara umumnya lebih landai berkisar 5o - 9o dengan jurus utara timur 275o - 320o. Pada sayap selatan Antiklin Bentayan, dip nya lebih curam, yaitu 22o - 40o dengan jurus utara-timur 102o - 130o. Formasi ini diendapkan sebagai kelanjutan dari fase regresi, terdiri dari perselingan batupasir dengan batulumpur dan sedikit batulempung, batulanau dan batubara, berumur Miosen Akhir - Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan transisi.
Formasi Kasai merupakan formasi yang muda berumur Pliosen Akhir, batuannya tersingkap di sepanjang sumbu sinklin menyebar cukup luas terutama pada daerah tengah lembar; diendapkan pada fase akhir regresi di Cekungan Sumatra Selatan. Formasi ini terdiri dari batulempung, batupasir, konglomerat yang banyak mengandung material volkanik; di lapangan tidak dijumpai singkapan batubara.
Endapan Aluvium merupakan hasil endapan rombakan batuan yang dapat diikuti sepanjang tepi sungai utama dan daerah limpah banjir, yaitu pada aliran Sungai Tungkal menempati daerah tengah lembar dan sedikit di bagian barat, yaitu pada aliran Sungai Sukakarangan.
2. GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN
Sedimentasi batubara yang ada diwilayah penyelidikan dimulai dari kumpulan Facies Deltaic sampai Fluviatil pada Cekungan Sumatra Selatan yang berumur Miosen Tengah hingga Pliosen.
Batubara pada anggota M1, yaitu Lapisan Kladi dan Lapisan Merapi masih jelas dipengaruhi oleh pengaruh laut yang dicirikan oleh pasir gloukonitan.
Diatas lapisan Merapi terjadi pengendapan dominan pasiran yang mengkasar keatas seperti dicirikan oleh bor BBL5, BBL6 dan BBL8 fasies ini menunjukan terjadinya prograding endapan delta yang diakhiri terjadinya endapan rawa. Pada fasa ini terjadi proses pengendapan batubara yang berlangsung terus yaitu pada Anggota M2 dengan endapan batubara dimulai dari Lapisan Petai yang tipis dan tidak menerus, kemudian diendapkan lapisan Suban serta Lapisan Mangus Di daerah tengah penyelidikan terlihat pengendapan berjalan kontinu dengan didapatkan batubara yang lebih tebal; kemudian kearah tepi cekungan batubara cenderung menipis seperti terlihat pada bor BBL9 dan Bor BBL 15 di selatan dan utara. Sedangkan ke arah timur dan barat batubara terjadi spliting dengan terjadinya perubahan arus. Rawa-rawa yang ada pada fasa ini cenderung masih berhubungan dengan laut dangkal ini didukung oleh adanya hasil analisa kualitas batubara bahwa nilai sulphur total yang tinggi yaitu antara 1.07 % - 2.21 % pada Lapisan Suban dan Lapisan Mangus.
Kearah atas yaitu pada Anggota M3 terjadi perubahan susunan batuan yaitu batupasir cenderung menghalus keatas dan diendapkan batubara pada rawa-rawa yang sudah dipengaruhi daratan yaitu pada Lapisan Burung dan Lapisan Benuang.
Pada fasa ini pengaruh endapan sungai yaitu fluviatil dapat dikatakan cukup dominan, sedangkan adanya kecenderungan tersebut dapat dilihat dari nilai total sulphur yang jadi menurun yaitu antara 0.21 - 0.87%, demikian proses fluviatil ini terus berlangsung ke atas sampai diendapkan anggota M4 yaitu lapisan Kebon, lapisan Babat dan lapisan Lower Lematang.
Dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan batubara didaerah penyelidikan ini terjadi pada fasa fluvial deltaic
3. POTENSI ENDAPAN BATUBARA
Dari pemetaan singkapan batuan dan khususnya batubara telah dijumpai sebanyak 72 lokasi singkapan batubara. Pada antiklin Tamiang batubara dapat dijumpai pada kedua sayap namun pada sayap utara dari seri anggota M1 sampai M4 lebih banyak tersingkap, sedangkan pada sayap selatan antiklin Bentayan batubara hanya dijumpai pada anggota M2 dengan kemiringan dip yang lebih curam.
Sejalan dengan pemetaan geologi, pada daerah indikasi lapisan batubara yang telah dipetakan dilakukan pemboran inti dengan tujuan untuk mengetahui stratigrafi tegak dan tebal batubara dan berapa lapisan batubara yang ada sehingga hubungan antar lubang bor dapat direkonstruksi untuk geometri daerah penyelidikan, terutama hubungan lapisan batubara yang tidak tersingkap dipermukaan.
Berdasarkan singkapan yang dipetakan, telah dilaksanakan pemboran batubara sebanyak 18 titik lubang bor, dengan kedalaman rata-rata 50.00 meter ; total kedalaman seluruhnya 900 meter (Gambar 7- 2) dan daerah ini terdapat 2 titik lubang bor Shel (TG001, TG002).
Distribusi lubang bor di daerah selidikan adalah :
• 7 buah lubang bor (BBL1, BBL2, BBL3, BBL4, BBL5, BBL6, BBL8) ditempatkan pada daerah yang dipetakan topografi dan menembus lapisan pembawa batubara Anggota M2 pada sayap utara antiklin Tamiang.
• 1 buah lubang bor (BBL9) ditempatkan di bagian selatan antiklin Tamiang menembus sebagian Anggota M2
• 3 buah lubang bor (BBL7, BBL10, BBL17) menembus pembawa batubara Anggota M3 di sayap utara antiklin Tamiang
• 5 buah lubang bor (BBL11, BBL12, BBL13, BBL14 dan BBL18) menembus pembawa batubara Anggota M4 di sayap utara Antiklin Tamiang
• 2 buah lubang bor (BBL15 dan BBL16) menembus pembawa batubara sebagian anggota M2 di sayap selatan Antiklin Bentayan.
Dari korelasi penampang lubang bor (Gambar
7-3 dan Gambar 7-4), dapat diketahui terdapat 10 lapisan batubara, yaitu :
Lapisan Kelad; kemiringan 6o - 9o. Batubara berwarna hitam kecoklatan, kusam sebagian berlapis rapuh - getas mengotori tangan, ketebalan adalah 0.90m - 1.40 m.
Lapisan Merapi; kemiringan 5o. Batubara berwarna hitam kecoklatan, kusam sebagian berlapis rapuh - getas mengotori tangan, ketebalan adalah 1.40 - 1.50 m.
Lapisan Petai; ketebalan 0.60 - 1.00 m.
Lapisan Suban; terletak diatas lapisan Petai dengan interburden lebih besar 2.00 meter, tebal batubara antara 1.00 - 5.40 m, kemiringan dip 5o dan sebarannya sepanjang 13,5 km; dibagian timur ketebalan 5.40 m menipis ke arah barat.
Lapisan Mangus; ketebalan 1.05 - 7.55 m dengan panjang sebaran 13.5 km dan kemiringan 5o - 8o
Lapisan Burung; tebal batubara antara 1.15 - 2.70 m, panjang sebaran > 20.0 km dan kemiringan 5o - 8o.
Lapisan Benuang; tebal batubara 1,20 - 4.90 m, panjang sebaran 15.0 km dan kemiringan 5o - 8o.
Lapisan Kebon; ketebalan batubara 0.80 m, kemiringan 8o, panjang singkapan di bagian timur 8.0 km dan di sebelah barat 7.0 km.
Lapisan Babat; ketebalan antara 0.95 - 2.90 m, kemiringan 5o, panjang singkapan di bagian timur 8.0 km dan di sebelah barat 7.0 km. Ketebalan interburden antara 2.00 - >5.00 m.
Lapisan Lematang; ketebalan antara 0.20 - 0.60 m dan kemiringan 5o.
5. KUALITAS BATUBARA
Dari 10 lapisan batubara, hanya 5 lapisan yang dialakukan analisa yaitu :
Lapisan Suban :
Kisaran kualitas sebagai berikut ; Free Moisture 26,9 - 42,6 %; Total Moisture 38,6 - 50,6% ( As Received); Inherent Moisture 15,2 - 18,6%, Volatile Matter 38,2 - 45,4%; Fix Carbon 32,5 - 35,6%; ash Content 5,1 - 9.2%; Total Sulphur 0,35 - 2,07%, Specific Gravity 1.37 - 1.41; dan Calorific Value 4900 - 5395 kcal/kg (Air dried basis), termasuk klas Subbituminous, Group Subbituminous A Coal.
Lapisan Mangus :
Kisaran kualitas sebagai berikut ; Free Moisture 29,1 - 45,0 %; Total Moisture 43,0 - 51.7% ( As Received); Inherent Moisture 14.0 - 18,6%, Volatile Matter 38,2 - 45,9%; Fix Carbon 26.0 - 35,9%; ash Content 5,6 - 12.9%; Total Sulphur 0,28 - 2,21%, Specific Gravity 1.36 - 1.51; dan Calorific Value 4040 - 5275 kcal/kg (Air dried basis), termasuk klas Subbituminous, Group Subbituminous B Coal hingga Subbituminous A Coal.
Lapisan Burung :
Kisaran kualitas sebagai berikut ; Free Moisture 29.0 - 42,0 %; Total Moisture 41.4 - 50,1% ( As Received); Inherent Moisture 15,3 - 16.7%, Volatile Matter 44.0 - 45,1%; Fix Carbon 31.0 - 34.5%; Ash Content 3.7 - 10.2%; Total Sulphur 0,.23- 0.87%, Specific Gravity 1.36 - 1.41; dan Calorific Value 5110 - 5335 kcal/kg (Air dried basis), termasuk Klass subbituminous, Group Subbituminous A Coal.
Lapisan Benuang :
Kisaran kualitas sebagai berikut ; Free Moisture 33.5 - 35.9 %; Total Moisture 43.6 - 43.7% ( As Received); Inherent Moisture 13.8 - 16.3%, Volatile Matter 39.9 - 45,1%; Fix Carbon 29.2 - 34.4%; Ash Content 4.3 - 17.1%; Total Sulphur 0.21- 0.34%, Specific Gravity 1.37 - 1.49; dan Calorific Value 4450 - 5245 kcal/kg (Air dried basis), termasuk klass Subbituminous, Group Subbituminous B Coal.
Lapisan Babat :
Kisaran kualitas sebagai berikut ; Free Moisture 35.1 - 51.1 %; Total Moisture 44.8 - 57.0 % ( As Received); Inherent Moisture 13.2 - 14.6%, Volatile Matter 39.6 - 47.3%; Fix Carbon 24.0 - 36.1%; Ash Content 3.4 - 17.4%; Total Sulphur 0.23- 0.62%, Specific Gravity 1.39 - 1.46; dan Calorific Value 4265 - 4660 kcal/kg (Air dried basis), termasuk klass Subbitumnous, Group Subbitumnous B Coal.
6. SUMBERDAYA BATUBARA
Perhitungan sumberdaya batubara dihitung sampai kedalaman 50.00 meter untuk masing masing lapisan yang mempunyai ketebalan lebih besar 1.00 meter, dengan jarak terjauh dari singkapan yang ada atau data bor terakhir sejauh 1000 meter. Total sumberdaya batubara seluruhnya adalah 116.251.846 ton.
7. PROSPEK PENGEMBANGAN BATUBARA
Prospek pengembangan batubara di daerah penyelidikan dapat ditinjau dari infrastruktur, penyebaran batubara, ketabalan dan kualitas batubara. Dengan melihat kondisi tersebut, maka daerah yang cukup prospek untuk dikembangkan lebih lanjut adalah Lapisan M – M4 dan Mangus dengan ketebalan 1,05 – 7,55 meter.
Daerah ini telah dilakukan pemetaan topografi dengan skala 1 ; 10.000, seluas 2.000 ha.
8. KESIMPULAN
Lingkungan pengendapan batubara dari hasil korelasi lubang bor dan analisa kimia batubara, menunjukkan kumpulan hasil perulangan pengendapan delta dan fluviatil pada akhir pengendapan batubara.
Endapan batubara di daerah Bayung Lincir (Lembar Peta 1013-51) yang paling prospek adalah terletak di sayap utara dari antiklin Tamiang, dengan sudut kemiringan lapisan dip 8o - 12o dan arah jurus utara timur 2750o - 320o. Lapisan Mangus, namun lapisan tersebut mengalami splitting dan cenderung menipis dalam pelamparannya.
Hasil analisis kualitas batubara menunjukkan mutu batubara Klass Subbituminous, Group Subbituminous B Coal sampai Subbituminous A Coal.
Sumberdaya batubara sampai kedalaman 50.0 meter untuk masing masing lapisan dengan daerah pengaruh terluar dari singkapan atau lubang bor 1000 meter adalah total seluruhnya 116 juta ton.

Komoditi Mineral Non Logam

Tabel Komoditi Mineral Non Logam
Kode Nama Komoditi Nama Komoditi (English) keterangan
agt Agat/akik Agate Batumulia dan batuhias
An Andesit Andesite Mineral Bahan Bangunan
Asb Asbes Asbes Mineral Non Logam Industri
Ba Barit Barite Mineral Non Logam Industri
Bs Basalt Basalt Mineral Bahan Bangunan
Pu Batu Apung Pumice Mineral Bahan Bangunan
Bb Batuan Beku Lainnya Ultrabasa Mineral Bahan Bangunan
Na Batuan Kalium Natrium Natrium Mineral Keramik
Ls Batugamping Limestone Mineral Non Logam Industri
orn Batuhias Ornamental Stones Batumulia dan batuhias
Sl Batusabak Slate Batumulia dan batuhias
S Belerang Sulphur Mineral Non Logam Industri
Btn Bentonit Bentonite Mineral Non Logam Industri
Bo Bond Clay / Ball Clay Bond Clay / Ball Clay Mineral Keramik
Da Dasit Dacite
Dt Diatomea Diatomea Mineral Non Logam Industri
Dio Diorit Diorite Mineral Bahan Bangunan
Do Dolomit Dolomite Mineral Non Logam Industri
Fl Felspar Feldspar Mineral Keramik
P Fosfat Phosphate Mineral Non Logam Industri
Gb Gabro Gabro Batumulia dan batuhias
gar Garnet Garnet Batumulia dan batuhias
Gr Granit Granite Mineral Bahan Bangunan
Grano Granodiorit Granodiorite Batumulia dan batuhias
Gy Gypsum Gypsum Mineral Non Logam Industri
di Intan Diamond Batumulia dan batuhias
jad Jade/Giok Jade Batumulia dan batuhias
ja Jasper Jasper Batumulia dan batuhias
cha Kalsedon/ kecubung/ ametis Chalcedony Batumulia dan batuhias
Ca Kalsit Calcite Mineral Non Logam Industri
Ka Kaolin Kaolin Mineral Keramik
sil Kayu Terkersikan Silicified Wood Batumulia dan batuhias
ckr Krisopras Chrysoprase Batumulia dan batuhias
Q Kristal Kuarsa Quarz Sand Batumulia dan batuhias
Qz Kuarsit Kuarsit Mineral Keramik
Cly Lempung Clay Mineral Keramik
Mgs Magnesit Magnesite Mineral Keramik
Ma Marmer Marble Mineral Bahan Bangunan
Mi Mika Mika Mineral Non Logam Industri
Ob Obsidian Obsidian Mineral Bahan Bangunan
Och / ya Ocher / Yarosite Ocher / Yarosite Mineral Non Logam Industri
On Onik Onyx Mineral Bahan Bangunan
op Opal Opal Batumulia dan batuhias
Si Pasir Kuarsa Silika Mineral Keramik
Pe Perlit Perlite Mineral Keramik
Pph Pirofilit Pyrophillyte Mineral Keramik
ch rijang Chert Batumulia dan batuhias
ser Serpentin Serpentin Batumulia dan batuhias
Gra Sirtu Gravel, Sand Mineral Bahan Bangunan
Tl Talk Talc Mineral Non Logam Industri
top topas topaz Batumulia dan batuhias
To Toseki Toseki Mineral Keramik
Tr Trakhit Trakhite Mineral Keramik
Tra Tras Trass Mineral Bahan Bangunan
Trv Travertin Travertin Batumulia dan batuhias
ub Ultrabasa Ultrabasa Batumulia dan batuhias
I Yodium Iodine Mineral Non Logam Industri
Ze Zeolit Zeolite Mineral Non Logam Industri
zr Zirkon zircon Batumulia dan batuhias
Logam Non Logam

Pemboran Dalam Dan Pengukuran Gas Dalam Lapisan Batubara Daerah Tanah Bumbu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan


Pengukuran kandungan gas dilakukan pada wilayah Desa Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Pengukuran kandungan gas ini dimaksudkan untuk mengetahui akan adanya komposisi dan kuantitas kandungan gas yang ada pada sampel inti bor batubara dan pada seluruh seam batubara berdasarkan luas daerah pengaruh di wilayah penyelidikan. Hasil pengukuran kandungan gas ini selain untuk mengetahui akan kandungan gas batubara di wilayah tersebut, dapat digunakan sebagai acuan atau referensi pentingnya kandungan gas dalam hubungannya dalam masalah keselamatan tambang, khususnya untuk tambang dalam, dan secara umum sebagai dampak akan adanya pengaruh gas yang keluar terhadap lingkungan sekitar tambang. Tujuan lainnya dari pengukuran dan analisa kandungan gas ini adalah mencari seberapa besar sumber daya gas yang ada di dalam lapisan batubara sebagi potensi energi yang dapat dijadikan sebagai salah satu energi yang cukup potensial untuk dimanfaatkan bagi negara.

Secara umum batubara geologi daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Pasir, dimana terdiri dari Formasi Warukin, Berai, Tanjung, dan Batuan Pra-Tersier. Dan Formasi Warukin dan Tanjung merupakan formasi pembawa batubara. Terdapat singkapan batubara sebanyak 21 buah yang tersebar pada beberapa Formasi Warukin dan Tanjung dengan kemiringan rata-rata sekitar 25O. Dari pemboran diperoleh 12 seam batubara dimana ada tiga seam yan mempunyai ketebalan lebih besar dari 1 meter, yaitu Seam E dengan ketebalan 0,96 m, Seam I dengan ketebalan 2,27 meter dan Seam J dengan ketebalan 5,05 meter

Diperoleh total sumberdaya batubara untuk tambang dalam sebesar 107.364.977 ton dan sumberdaya batubara untuk pengembangan kandungan gas sebesar 112.733.226 ton. Kemudian sumberdaya kandungan gas batubara diperoleh sebesar 5,164,389,763 Cuft. Secara komposisi, diperoleh gas O2 sebesar 519.715.517 cuft, N2 diperoleh sebesar 3.149.305.937 cuft, CH4 diperoleh sebesar 402.255.325 cuft dan CO2 diperoleh sebesar1.361.567cuft.
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Prospek penambangan batubara dengan metoda tambang terbuka seperti kebanyakan saat sekarang, untuk masa datang akan semakin sulit. Hal ini disebabkan oleh letak lapisan batubara sudah semakin dalam dari permukaan, sehingga nilai perbandingan antara batubara dan batuan pengapit akan semakin tinggi yang mengakibatkan penambangan menjadi tidak ekonomis. Disamping hal tersebut, masalah kestabilan lereng bukaan tambang dan pengaruh rembesan air tanah akan menjadi kendala yang besar bagi usaha pertambangan. Sedangkan untuk lapisan batubara yang masih menerus sampai ke dalam, proses penambangan pada tahap selanjutnya diperlukan perencanaan tambang bawah tanah. Masalah lain yang timbul adalah kandungan gas yang terdapat di dalam lapisan batubara dapat membahayakan keselamatan tambang, khususnya dalam tambang bawah tanah (underground mining). Kandungan gas dalam lapisan batubara dapat membahayakan bagi keselamtan pekerja tambang dalam, tetapi di sisi lain potensi gas yang ada dalam lapisan batubara dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Semua hal di atas akan lebih jelas jika kita mengetahui terlebih dahulu karakteristik, kuantitas dan kualitas potensi kandungan gas di dalam batubara tersebut.

Sejalan dengan TUPOKSInya Pusat Sumber Daya Geologi khususnya Kelompok Program Penelitian Energi Fosil melakukan kegiatan pemboran dan pengambilan conto batubara untuk dilakukan pengukuran kandungan gas dalam lapisan batubara tersebut. Kegiatan ini dibiayai oleh DIPA Pusat Sumber Daya Geologi Tahun Anggaran 2008. Untuk pekerjaan analisa kandungan dan komposisi gas dilakukan pada Laboratorium Pusat Sumber Daya Geologi.

Maksud dan Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi geometri secara vertikal terhadap lapisan batubara dengan kedalaman lebih dari 100 meter, nilai permeabilitas dan kandungan gas batubara, sebagai bagian dari penyediaan data awal utuk perencanaan tambang dalam di masa yang akan datang.

Sedangkan tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui gambaran geometri regional lapisan batubara, kuantitas, kualitas dan kandungan gas lapisan batubara pada kedalamanlebih dari 100 m. Dimana nantinya data tersebut dapat digunakan untuk bahan evaluasi perencanaan tambang dalam. Kemudian hasil pengujian packer test bertujuan untuk mengetahui permeabilitas pada lapisan batubara dalam hubungannya untuk mengetahui kandungan dan kualitas gas methane dan akan berguna dalam perencanaan selanjutnya pada studi coalbed methane.

Hasil-hasil tersebut juga diharapkan dapat melengkapi data geologi tentang batubara dalam Cekungan Pasir dan pemutakhiran Bank Data Pusat Sumber Daya Geologi, terutama dalam rangka pembaharuan data untuk pembuatan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Batubara Indonesia.

Lokasi Daerah Penyelidikan
Lokasi penyelidikan terletak sekitar 250 km ke arah timur dari Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi ini bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama lebih kurang enam jam dari Banjarmasin. Secara geografis dibatasi koordinat antara 3o 35’ – 3o 50’ LS dan 115o 15’ – 115o 30’ BT. Titik pemboran berada pada koordinat 3o 42’ 18,2’’ LS dan 115o 20’ 25,0’’ BT dengan kode pemboran CSAT-01.

Secara administratif lokasi pemboran dilaksanakan di wilayah Pabilahan – Bukit Baru, Desa Sungai Danau yang merupakan ibukota Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan (Gambar 1). Di daerah ini telah banyak perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang pertambangan batubara diantaranya adalah PKP2B PT. Wahana Baratama Mining dan PT Arutmin serta KP perusahaan lainnya. Penentuan titik bor ditentukan berdasarkan hasil ploting singkapan batubara dan informasi geologi lainnya di lapangan serta kerjasama dengan pihak perusahaan pertambangan dan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Selatan serta Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tanah Bumbu. Hasil pemodelan data bawah tanah di wilayah kegiatan dengan mengambil parameter-parameter geologi, menunjukkan bahwa di lokasi titik bor yang telah ditentukan, diperkirakan terdapat formasi batubara yang mengandung gas metana.

Demografi dan Keadaan Lingkungan

Penduduk yang menempati wilayah ini cukup beragam baik penduduk asli maupun pendatang. Penduduk asli didominasi oleh Suku Banjar dan sebagian kecil Suku Dayak yang merupakan penduduk asli pedalaman Kalimantan, namun penduduk pendatang lebih dominan dan bermukim di Sungai Danau yang merupakan ibukota Kecamatan Satui, mengingat daerah ini banyak aktivitas pekerja pertambangan, suku-suku tersebut diantaranya adalah suku Jawa, Sunda, Bali dan suku lainnya. Penduduk umumnya bekerja di bidang pertambangan, pertanian, perkebunan, perkayuan, perdagangan dan lain-lain. Agama yang dianut umumnya agama Islam dan sebagian kecil beragama Nasrani, Hindu dan Kaharingan.

Tingkat perekonomian penduduk daerah ini cukup baik mengingat banyaknya perusahaan dan kontraktor pertambangan batubara besar dan kecil dan hal ini berimbas pada harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang cukup tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Sarana dan pra sarana yang tersedia antara lain sekolah, jaringan jalan, listrik, telepon, puskesmas, kantor pos, bank daerah dan lain-lain yang dapat dikatakan cukup memadai.

Lahan di daerah ini sebagian besar merupakan hutan belukar dan hutan reklamasi pertambangan disamping lahan perkebunan dan persawahan milik penduduk. Satwa yang hidup di sini antara lain kera, babi hutan, rusa, beruang, berbagai jenis unggas, ikan air tawar dan lain-lain. Sebagaimana daerah tropis Indonesia lainnya daerah ini memiliki suhu udara rata-rata cukup panas dengan kisaran 22º - 33º C, curah hujan cukup tinggi dengan rata-rata tahunnya 2700 mm dan potensi penguapannya sekitar 1750 mm. Musim hujan biasanya antara bulan Nopember sampai Maret dan musim kemarau antara bulan Juni sampai Agustus, sedangkan bulan-bulan lainnya merupakan masa peralihan. Arah angin menunjukkan pola keragaman musiman, dimana pada musim hujan berasal dari arah barat-baratdaya, sedangkan musim kemarau secara umum berasal dari arah selatan-tenggara.

Waktu Penyelidikan

Kegiatan penyelidikan dilakukan pada tanggal 23 September sampai dengan 6 Desember 2008 sekitar 75 (tujuh puluh lima) hari kerja termasuk waktu perjalanan, pengurusan surat dan administrasi kerja di lapangan.

Pelaksana dan Peralatan

Tim yang bertugas melaksanakan kegiatan ini terdiri atas sub tim Pemetaan, sub tim Pemboran, sub tim Packer Tes dan sub tim Pengukuran Kandungan Gas dimana anggotanya terdiri atas Geologist, Surveyor, Juru Bor (driller), Asisten Juru Bor beserta anggota penunjang lainnya dan petugas dari PEMDA Kabupaten Tanah Bumbu.

Peralatan dan alat penunjang yang digunakan dalam penyelidikan antara lain :
1. Peta dasar topografi
2. Palu, kompas geologi dan loupe 20x
3. GPS (Global Positioning System) 12 satelit
4. Pita ukur
5. Kantong conto
6. Kamera Lapangan
7. Catatan lapangan
8. Satu Unit mesin bor LY-38 beserta perangkat penunjangnya
9. Satu Unit Mobil Laboratorium CBM
10. Satu Unit Packer Tes
11. Satu Unit Alat Logging
12. Kompas geologi (Brunton)
13. Palu geologi (Estwing)
14. GPS (12 satelit)
15. Loupe (10x dan 20x)
16. Altimeter
17. Stopwatch
18. Roll meter
19. Kamera Digital
20. Tali ukur (25 m)
21. Pengukur temperatur (probe/sensor) canister
22. Pengukur temperatur (probe/sensor) ruangan
23. Pengukur tekanan atmosfier (barometer)
24. Tabung canister
25. Tabung pengukur gas
GEOLOGI UMUM

Stratigrafi Regional

Daerah penyelidikan menurut tatanan tektonik termasuk ke dalam Cekungan Pasir, dimana daerah penyelidikan diduga berlangsung pada Jaman Jura yang mengakibatkan bercampurnya batuan pratersier seperti ultramafik, batuan bancuh, sekis garnet amfibol dan batupasir terkersikkan. Genangan laut dan kegiatan gunungapi terjadi pada Jaman Kapur Akhir bagian bawah yang menghasilkan Formasi Pitap, Formasi Manunggul, Formasi Haruyan dan Formasi Paau. Pada Jaman Kapur akhir bagian atas terjadi kegiatan magma yang menghasilkan terobosan diorit. Diorit ini menerobos batuan alas Formasi Pitap dan batuan-batuan yang lebih tua. Pengangkatan dan pendataran terjadi pada Awal Paleosen-Eosen yang diikuti pengendapan Formasi Tanjung bagian bawah, sedangkan bagian atas formasi ini terbentuk saat genanglaut. Paparan karbonat Formasi Berai terbentuk dalam kondisi genanglaut Oligosen. Pada Misoen Tengah terjadi susutlaut dan bersamaan dengan pengendapan Formasi Warukin dalam suasana darat. Kegiatan tektonik terjadi lagi pada Miosen Akhir yang mengakibatkan hampir seluruh batuan Mesozoikum membentuk Tinggian Meratus yang memisahkan Cekungan Barito dan Cekungan Pasir. Pada akhir Miosen Akhir batuan-batuan pratersier dan tersier terlipat kuat dan tersesarkan. Pada Plio-Plistosen berlangsung lagi pendataran dan pengendapan Formasi Dahor pada Pliosen dan kemudian diikuti pengendapan Aluvium. Secara skematis stratigrafi regional dapat dilihat pada Gambar 3.

Susunan batuan yang terdapat pada formasi-formasi batuan disekitar daerah penyelidikan, secara regional dapat dijelaskan dari formasi batuan yang termuda sampai yang tertua adalah sebagai berikut :

Endapan Alluvium, endapan alluvium merupakan satuan batuan yang paling muda yang dijumpai di daerah penyelidikan, satuan batuan ini berumur kuarter, menempati daerah pantai dan pinggiran sungai-sungai besar, satuan ini tersusun oleh litologi lempung, lanau, pasir dan kerikil, dimana sifat batuan pada satuan aluvium ini belum kompak dan masih terurai (unconsolidated), dan diendapkan secara tidak selaras terhadap batuan sekitarnya.
Formasi Dahor, tersusun oleh batupasir kuarsa, mudah hancur, setempat bersisipan lempung, lignit, limonit, kerakal kuarsa asap dan basal. Terendapkan di lingkungan paralis, tebal formasi ini diperkirakan sekitar 750 meter
Formasi Warukin, tersusun atas batupasir kuarsa, berbutir sedang-kasar, kurang padat, setempat konglomeratan, mengandung sisipan batulempung. batulanau dan batubara.
Formasi Berai, berupa batugamping berwarna kuning sampai kecoklatan, umunya berlapis dan padat serta keras. Formasi ini diendapakan silang jemari dengan formasi atas dan bawahnya.
Formasi Tanjung, berupa perselingan batupasir, batulempung, batulanau, konglomerat dan batubara.
Batuan PraTersier, adalah satuan batuan tertua yang mengisi Cekungan Pasir, terdiri atas batuan ultramafik, serpentinit, batuan bancuh, sekis garnet amfibol, batupasir terkersikkan. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras terhadap seluruh formasi yang ada.

Dari kesemua formasi yang telah disebutkan di atas, Formasi Warukin dan Tanjung merupakan formasi pembawa batubara di wilayah penyelidikan.

Struktur Geologi Regional

Secara umum struktur geologi yang terdapat di daerah penyelidikan adalah sesar dan perlipatan. Sumbu lipatan umumnya berarah baratdaya-timurlaut dan utara-selatan, dan sejajar dengan arah sesar normal, sedangkan sesar mendatar umumnya berarah baratlaut-tenggara dan baratdaya-timurlaut. Secara global tektonik yang terjadi di daerah tersebut pada Plio-Plistosen mengakibatkan terjadinya ketidakselarasan dan pengaktifan kembali struktur geologi yang sudah ada.

Struktur lipatan berada pada formasi Tanjung dan sesar minor berada pada Formasi Tanjung dan Batuan Pra Tersier di bagian Utara daerah penyelidikan. Secara umum kemiringan lapisan batuan di wilayah penyelidikan relatif datar sekitar 10-20o. Terdapat beberapa struktur yang komplek di wilayah Timur dari Peta Geologi Regional (Gambar 2), sehingga kondisi batuannya mengalami perubahan struktur, baik ketebalan dan kemiringan lapisan.

Dari analisa kerangka tektonik Pulau Kalimantan (Gambar 4) ditunjukkan bahwa lokasi penyelidikan berada di wilayah Cekungan Pasir. Dimana cekungan ini dibatasi pada bagian Barat oleh Tinggian Meratus. Tinggian Meratus ini dibuktikan dengan adanya beberapa batuan Pra-Tersier yang berupa batuan ultramafik.

Endapan Batubara dan Kandungan Gas Batubara

Berdasarkan data terdahulu, belum pernah dilakukan penyelidikan dan inventarisasi mengenai pengukuran kandungan gas di daerah penyelidikan saat ini. Tetapi ada beberapa perusahaan swasta yang telah melakukan eksplorasi batubara dengan metoda tambang terbuka dan pra-tambang bawah tanah di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, namum untuk tambang dalam (underground minning) belum dieksploitasi secara signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh daya dukung teknologi, kondisi ekonomis dan kesiapan sarana-prasarana tambang bawah tanah untuk saat ini. Kegunaan terpenting dalam mengetahui akan kandungan gas dalam seam batubara salah satunya adalah mengetahui adanya kandungan gas dalam batubara, yang dapat membahayakan bagi keselamatan tambang. Hal ini merupakan point tersendiri yang harus diketahui agar keselamatan tambang dapat terjamin, oleh karena ada sebagian unsur kandungan gas yang sangat sensisitif terhadap kecenderungan terjadinya ledakan atau kebakaran tambang, khususnya pada perencanaan eksplorasi tambang bawah tanah (underground).

Formasi pembawa batubara pada wilayah penyelidikan adalah Formasi Warukin dan Formasi Tanjung. Namun sasaran formasi pembawa batubara yang dijadikan sasaran penyelidikan adalah Formasi Tanjung dan berumur Eosen. Formasi ini berdasarkan literatur yang ada merupakan seam batubara yang potensial untuk di eksplotasi, hal ini terbukti dengan adanya beberapa perusahaan batubara baik PKP2B dan KP yang berada di sekitar wilayah penyelidikan. Secara umum Formasi Tanjung ini terdiri atas batuan alterasi batupasir halus hingga kasar, mudstone, batulanau dan beberapa lapisan karbonan serta lapisan batubara didalamnya. Ketebalan lapisan batubara dan karbonan ini sangat bervariasi tergantung dari kondisi geologi setempat. Secara umum kenampakan fisik dari batubara yang ada berwarna hitam terang dan tidak berlapis, di beberapa lapisan batubara terdapat adanya mineral pyrit dengan kuantitas rata-rata > 1.1 %, kemudian beberapa parting karbonan dengan ketebalan bervariasi di antara lapisan-lapisan batubara yang ada. Kemudian berdasarkan data terdahulu nilai sulfur dari batubara secara umum di wilayah penyelidikan mempunyai kisaran 0,34 – 3,30 %, abu 14,2 – 17,2 % da nilai kalori mencapai 5900 – 6500 kcal/gr.

BRO COAL PROJECT

BRO COAL PROJECT

BRO COAL PROJECT

GEG

GEG

GP

CARBON COUNTER

ENERGY NEWS

NEWS

COAL PROJECT

AREA TAKE OVER

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls
Perlu Info Kontak Kami di Email kami:mars4302@yahoo.co.id Hp 082380937425