Jumat, 30 November 2012
KABUPATEN LAHAT
EKSPLORASI ENDAPAN BATUBARA
DI DAERAH BUNGAMAS, KABUPATEN LAHAT
Daerah
penyelidikan terletak di sebelah Baratdaya Kota Palembang. Secara
Administratif termasuk wilayah Kecamatan Bungamas, Kabupaten Lahat,
Propinsi Sumatera Selatan. Secara Geografis terletak di antara 102o55’00”-103o30’00” BT dan 3o35”00”-3o55’00” LS.
Secara
regional daerah Bungamas dan sekitarnya termasuk dalam Cekungan
Sumatera Selatan dan formasi pembawa batubaranya adalah Formasi Muara
Enim yang berumur Miosen Akhir-Pliosen Awal, diendapkan dalam lingkungan
darat-laut dangkal.
Dari hasil pemetaan dan pemboran (10 titik) ditemukan 3 (tiga) lapisan batubara, yaitu: Lapisan A, tebal antara 0.75-6,00 m, kemiringan berkisar antara 45o-87º
dengan nilai kalori berkisar antara 5.240-5.790 kal/gr (adb), lapisan
B, tebal antara 1.20-7,00 m, kemiringan berkisar antara 60o-86º
dengan nilai kalori berkisar antara 5.540-6.390 kal/gr (adb), Lapisan
C, tebal berkisar antara 0,80-6.00 m, kemiringan berkisar antara 22o-84º dengan nilai kalori berkisar antara 5.710-6.780 kal/gr (adb). Sedangkan nilai reflektansi vitrinit berkisar antara 0,20-036 %.
Sumberdaya batubara di daerah Bungamas dan sekitarnya sebesar 6.543.904 ton sampai kedalaman 50 meter.
1. PENDAHULUAN
Dalam Proyek Daftar Isian Kegiatan Suplemen Batubara (DIK-S), Tahun Anggaran 1997/1998,
Direktorat Sumberdaya Mineral mendapat tugas untuk melaksanakan
kegiatan pekerjaan Inventarisasi dan Eksplorasi batubara di seluruh
wilayah Indonesia. Salah satu kegiatan inventarisasi dan eksplorasi
endapan batubara tersebut dilaksanakan di daerah Bungamas dan
sekitarnya, Kecamatan Lahat, kabupaten Lahat, Propinsi Sumatera selatan.
Daerah
penyelidikan terletak di sebelah Baratdaya Kota Palembang. Secara
Administratif termasuk wilayah Kecamatan Bungamas, Kabupaten Lahat,
Propinsi Sumatera Selatan. Secara Geografis terletak diantara 102o55’00”-103o30’00” BT dan 3o35”00”-3o55’00” LS (Gambar 3- 1).
Lokasi penyelidikan dapat dicapai dari kota Palembang melalui jalan lintas Sumatera sejauh 300 km sampai
kota Lahat. Dari Lahat dilanjutkan sampai Ibu Kota Kecamatan Bungamas
yang dianggap paling dekat dengan daerah penyelidikan selama kurang
lebih 2 jam perjalanan, sedangkan untuk mencapai lokasi-lokasi daerah
penyelidikan dapat dicapai dengan cara menyusuri sungai atau merintis jalan.
2. GEOLOGI REGIONAL
Secara
regional daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Sumatera
selatan yang merupakan Cekungan Belakang Busur (‘Back Arc Basin’)
terbentuk oleh adanya pergerakan ulang patahan-patahan bongkah, dimana
kelompok sesar normal membentuk bongkah-bongkah (“Block faulting”)
pada batuan dasar (“Basement”) Pra-Tersier serta diikuti oleh kegiatan
Volkanisme secara periodik.
Batuan
yang terdapat di daerah penyelidikan terdiri dari batuan Pra-tersier
dan batuan endapan benua klastika yang bermur Tersier. Batuan
Pra-Tersier merupakan batuan dasar yang tergabung dalam
Formasi Sepingtiang, Lingsing dan Saling yang berumur Jura Akhir-Kapur
Awal yang diendapkan pada lingkungan laut dalam. Diatas batuan tersebut
diendapkan secara tidak selaras batuan endapan benua klastika dari
Formasi Kikim dan Anggota Cawang Formasi Kikim yang berumur Paleosen-Oligosen Tengah.
Formasi Kikim ditindih secara
tidak selaras oleh Formasi Talangakar yang berumur Oligosen
Akhir-Miosen Awal yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal. Formasi
Talangakar selaras diatasnya oleh Formasi Baturaja yang berumur Miosen
Awal. Di atas Formasi Baturaja diendapkan selaras Formasi Gumai yang
berumur Akhir Miosen Awal-Awal Miosen Tengah dan ditutupi selaras oleh
Formasi Air Benakat yang berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir yang
diendapkan pada lingkungan laut dangkal.
Diatas Formasi Air Benakat diendapkan selaras Formasi Muara Enim yang berumur Miosen Akhir-Pliosen pada lingkungan peralihan yaitu lingkungan darat hingga laut dangkal.
Formasi Kasai yang
berumur Plio-Plistosen diendapkan pada lingkungan darat menutupi tidak
selaras Formasi Muara Enim. Ketidak selarasan ini mencerminkan adanya
periode pengangkatan dan erosi setempat yang terjadi di Pegunungan
Barisan (Gambar 3- 2).
Struktur
geologi daerah penyelidikan terjadi akibat adanya suatu proses
pengangkatan batuan Paleozoik dan Mesozoik yang menyebabkan batuan
terlipat kuat. Kegiatan tektonik terus berlangsung sampai Tersier Awal.
Akibat dari pensesaran bongkah regional menyebabkan terbentuknya dua
cekungan sedimen utama berbentuk meanjang yaitu Cekungan Sumatera
selatan dan Cekungan Bengkulu, sedangkan tektonik Plio-Plistosen
menghasilkan struktur penting berarah Baratlaut-Tenggara.
Kerumitan
pola sesar pada batuan sedimen Tersier ini diduga erat kaitannya dengan
pensesaran pada batuan alas (Basement) yang diperkirakan sebagai
penyebab adanya variasi ketebalan batubara.
3. GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN
Daerah penyelidikan yang
terletak di daerah Bungamas dan sekitarnya merupaka bagian dari
cekungan Sumatera Selatan. Cekungan tersebut dikenal sebagai penghasil
batubara terbesar di indonesia.
Secara
umum morfologi daerah penyelidikan terbagi menjadi tiga satuam
morfologi, yaitu Satuan Morfologi Pedataran, Satuan Morfologi Perbukitan
Berelief Sedang dan Satuan Morfologi Perbukitan Berelief Kasar.
Stratigrafi
daerah penyelidikan dapat digolongkan menjadi 3 yaitu : Kelompok Batuan
Par-Tersier dan Batuan Terobosan/Intrusi Batuan Beku, Kelompok Batuan
Tersier dan Endapan Kwarter (Tabel 3- 1).
Kelompok Batuan Pra-Tersier
Kelompok batuan ini yang tergabung dalam Formasi
Sepingtiang, Lingsing, dan Formasi Saling yang diperkirakan berumurJura
Akhir-Kapur Awal. Hubungan stratigrafi antara Formasi Lingsing dan
Saling adalah Menjemari, sedangkan Formasi sepingtiang menyentuh kedua
formasi tersebut secara tektonik.
Formasi Sepingtiang menempati
sebelah Baratdaya daerah penelitian, batuan penyusunnya terdiri dari
batugamping terumbu yang sudah mengalami ubahan, tersingkap di sungai
empayang Lintang dan empayang kasap, sifat fisik batuan tersebut adalah
berwarna putih, hitam, hijau dan abu-abu, keras dan pejal.
Formasi Lingsing menempati
sepanjang Sungai Cawang, dimana batuan penyusunnya terdiri dari rijang,
batulempung berwarna merah, terdapat urat-urat tipis silika.
Formasi Saling tersingkap di Sungai Cawang, batuan
penyusunnya terdiri dari batuan volkanik dan batupasir konglomeratan
sedangkan batuan yang bersifat andesitik-basaltik tersingkap di sungai
empayang Lintang dan Empayang Kasap.
Batuan-batuan yang terdapat pada Formasi Sepingtiang, Saling dan Lingsing diendapkan pada lingkungan laut dangkal-lautdalam.
Batuan terobosan tersingkap di Sungai Empayang Kasap dan Empayang Lintang berupa Granodiorit yang menerobos Formasi Saling, batuan ini diperkirakan berumur Kapur Akhir.
Kelompok Batuan Tersier
Kelompok
batuan ini tersingkap di daerah penyelidikan yang tergabung dalam
Formasi Kikim, Anggota Cawang Formasi kikim, Talangakar, Gumai, Air
Benakat, Muara Enim dan Kasai.
Formasi Kikim
menempati sebelah selatan dan baratdaya daerah penyelidikan, batuan
penyusunya terdiri dari breksi volkanik, batupasir tufan, batulempung,
dan batulanau, tersingkap di Sungai Cawang dan diperkirakan berumur
Paleosen-Oligosen Awal.
Anggota Cawang Formasi Kikim
sebarannya meliputi daerah sebelah selatan dan baratdaya daerah
penyelidikan. Hubungan stratigrafi dengan Formasi Kikim saling
menjemari, batuan penyusunnya terdiri dari batupasir kuarsa
konglomeratan, batupasir, batulempung dan batulanau yang mempunyai
kisaran umur antara Paleosen-Oligosen.
Formasi Gumai menempati sebelah
selatan daerah penyelidikan, dimulai dari Sungai Empayang, Cawang,
Saling, Suban menerus sampai ke Sungai Gelumpai dan Sungai Kikim Kecil.
Batuan penyusunnya terdiri dari serpih hitam dengan lensa-lensa dan
nodul batugamping berbentuk silinder, sedangkan pirit menyebar tidak
merata, halus-bongkah berdiameter 2-6 cm, berbentuk framboidal. Diduga
mempunyai kisaran umur Miosen tengah.
Formasi Air Benakat sebarannya
memanjang dari timur ke barat daerah penyelidikan, dimana batuan
penyusunnya terdiri dari batulempung, batulanau dan batupasir,
diperkirakan berumur Miosen Tengah-miosen Akhir.
Formasi Muaraenim merupakan
formasi pembawa batubara (“Coal Bearing Formation”) di daerah
penyelidikan, tersingkap di bagian tengah dan sebarannya berarah
barat-timur, menipis ke arah barat selaras diatas Formasi Air benakat,
berumur Miosen Tengah-Miosen Atas dan diendapkan pada lingkungan laut
dangkal. Batuan penyusunnya terdiri dari Batupasir, batupasir tufan,
batulempung, batulanau dan batubara.
Struktur
geologi yang berkembang di daerah penyelidikan berupa struktur lipatan
dan sesar yang terdapat dalam batuan Pra-Tersier dan Tersier. Struktur
lipatan dalam batuan Pra-Tersier terdapat di sekitar Pegunungan Gumai,
yang intensitas deformasinya menunjukan lebih dari satu periode.
Sedangkan struktur lipatan dalam batuan tersier berupa
sinklin dan antiklin yang terdapat di sekitar Lahat dan di Sungai
Puntang. Arah dari sumbu lipatannya hampir barat-timur.
Sedangkan
sesar mendatar yang terdapat di daerah Muara Cawang, Sukarame berarah
baratlaut-tenggara, mengoyak satuan batupasir, batulempung, batulanau, serpih dan napal yang terdapat pada Formasi Muara Enim, Airbenakat dan Gumai.
Sesar
normal yang terdapat disekitar Batuninding dan hulu Sungai Saling,
berarah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara, mengoyak Formasi
Muara Enim, Airbenakat, Gumai, Talangakar, Kikim, Anggota cawang Formasi
Kikim, Lingsing dan Formasi Saling. Sesar-sesar tersebut diduga terjadi
akibat adanya fase kejadian tektonik Plio-Plistosen.
4. POTENSI ENDAPAN BATUBARA
Penyelidikan yang dilakukan ditekankan pada formasi pembawa batubara yaitu Formasi Muara Enim, karena formasi ini diduga mengandung endapan batubara yang cukup prospek untuk dikembangkan.
Tahapan pekerjaan yang dilakukan di lapangan dibagi menjadi 2 yaitu pekerjaan pemetaan geologi dan pemboran.
Pekerjaan Pemetaan
Pekerjaan
ini meliputi pemetaan geologi tinjau dengan luas daerah sekitar 93.750
Ha, dengan skala 1 : 50.000, dan pemetaan geologi rinci dibatasi hanya
pada formasi pembawa batubaranya saja. Dari hasil pemetaan diketahui
bahwa formasi pembawa batubara di daerah penyelidikan adalah Formasi
Muara enim, dan pada formasi tersebut ditemukan 36 lokasi singkapan
batubara yang tersebar di beberapa daerah (Gambar 3- 3).
Sedangkan
pekerjaan pemboran dilakukan sebanyak 10 buah lobang bor dengan
kedalaman terbatas sampai 25 meter. Pemboran dilakukan di tempat-tempat
tertentu yang sulit mendapatkan singkapan dan mungkin letak batubara
jauh dibawah permukaan, dengan adanya pemboran tersebut bisa melacak
kedalaman dan sejauh mana penyebaran batubara di daerah penyelidikan.
Berdasarkan
hasil rekonstruksi data-data dari singkapan dan hasil pemboran,
diketahui bahwa di daerah Bungamas dan sekitarnya terdapat tiga lapisan
batubara yang cukup prospek yang masing-masing antara lain :
¨ Lapisan A : Ketebalan batubara pada lapisan ini berkisar antara 0,75-6,00 meter, kemiringan lapisan antara 45o-87o dan dapat diikuti sepanjang 5.000 meter.
¨ Lapisan B : Ketebalan batubara pada lapisan ini berkisar antara 1,20-7,00 meter, kemiringan lapisan antara 60o-86o dan dapat diikuti sepanjang 12.250 meter.
¨ Lapisan C : Ketebalan batubara pada lapisan ini berkisar antara 0,80-6,00 meter, kemiringan lapisan antara 22o-84o dan dapat diikuti sepanjang 8.500 meter.
5. KUALITAS BATUBARA
Kualitas
batubara dari hasil analisis kimia (adb) terhadap 24 conto batubara
menunjukan Nilai Kalori (CV) berkisar dari 5.240-6.780 kal/gram, Kadar
Abu (Ash) berkisar antara 1.7-12.4%, Zat terbang (VM) berkisar antara
38.7-53.7%, Karbon Tertambat (FC) berkisar antara 32.4-43.9%, kadar
belerang (S) berkisar antara 0.18-2.89%, Kadar Air Total (TM ) berkisar
antara 17.2-37.4%, Kadar Air Tertambat (IM) berkisar antara 8.5-14.9%. Sedangkan
hasil analisis Petrografi dari 12 coto batubara menunjukan nilai
reflektansi sebagai berikut : Lapisan A nilai reflektansinya berkisar
dari 0,2-033 ; Lapisan B nilai reflektansinya berkisar dari 0,32-0,35 ; Lapisan C nilai reflektansinya berkisar dari 0,34-0,38 %.
6. SUMBERDAYA BATUBARA
Perhitungan sumberdaya batubara dalam penyelidikan ini dilakukan
berdasarkan hasil rekonstruksi masing-masing penyebaran lapisan
batubara. Dari hasil rekonstruksi tersebut diketahui sumberdaya batubara
sampai kedalaman 50 meter di daerah penyelidikan sebesar 6.543.904 ton
7. POSPEK PENGEMBANGAN BATUBARA
Secara
kualitas, batubara yang terdapat di daerah Bungamas dan sekitarnya
menunjukkan nilai kalori yang cukup bagus berkisar antara 5.240 – 6.780
kal/gr, dengan kadar abu sekitar 1,7 – 12,4 % serta sulfur berkisar
antara 0,18-2,89 %.
Sedangkan
secara kuantitas, sumber daya batubara di daerah Bungamas dan
sekitarnya cukup besar dan layak dipertimbangkan untuk usaha
pertambangan skala besar, dengan pertimbangan lokasi tersebut dekat
dengan jalan utama sebagai sarana transportasi.
6. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
· Formasi
pembawa batubara di daerah Bungamas dan sekitarnya adalah Formasi Muara
Enim yang berumur Miosen Akhir-Pliosen Awal dan diendapkan pada
lingkungan darat-laut dangkal.
· Hasil pengamatan dari 36 singkapan batubara yang terdapat di daerah penyelidikan terdapat tiga lapisan batubara dengan ketebalan bervariasi dari 0,75-7,00 meter. Kemiringan bervariasi dari 22o-87o dan Nilai kalori berkisar dari 5.455-6.780 kal/gr. Sedangkan hasil analisa petrografi dari 12 conto batubara menunjukan nilai reflektansi berkisar dari 0,22-0,38.
· Sumberdaya batubara terindikasi di daerah penyelidikan dan sekitarnya sampai kedalaman 50 meter sebesar 6.543.904 ton.
ASUL COAL
mr. asul ( H.ZULKIFLI ZAIN) adalah salah satu direktur dan komisaris dari beberapa perusahaan pemiliki iup op di kabupaten bungo yaitu :
1. pt. tambulun pangean indah
2. pt. sungai pangean jaya
3. pt. bukit balai jaya
4. pt. bukit petai indah
5. pt. tambulun panual jaya
PENGUJIAN KUALITAS BATUBARA
Analisis kimia, juga dilakukan sejumlah tes untuk menentukan parameter fisik batubara, seperti uji densitas relatif , distribusi ukuran partikel, dll.
1. Densitas relatif:
Densitas relatif batubara tergantung pada rank dan mineral pengotornya. Data densitas relatif diperlukan untuk membuat sampel komposit dalam menentukan banyaknya asap (seam). Selain itu diperlukan juga sebagai faktor penting dalam mengubah cadangan batubara dari unit volume menjadi unit massa.
Penentuan
dilakukan dengan menghitung banyaknya kehilangan berat pada saat
dicelupkan ke dalam air. Cara terbaik adalah dari data berat batubara
dengan menggunakan piknometer. Grafik di bawah ini memberikan hubungan
antara densitas relatif terhadap kandungan abu untuk batubara dan serpih
karbon di cekunagn Agades.
2. Distribusi Ukuran Partikel:
Distribusi
ukuran pertikal pada batubara yang rusak tergantung pada metode
penambangan, cara penanganannya, serta derajat perekahan material
tersebut. Distribusi ukuran merupakan faktor kritis yang dapat
menunjukkan bagian tumbuhan penyusunnya. Penentuan dilakukan dengan
metode ayakan. Grafik data pengeplotan menghasilkan data rata-rata
ukuran partikel dan derajat keseragaman partikel.
3. Uji Pengapungan (Float-sink testing):
Uji
ini dilakukan untuk menentukan distribusi densitas partikel sampel
dengan cara mencelupkan sampel batubara ke dalam larutan yang diketahui
densitas relatif. Selain itu dilakukan juga penelitian lain seperti
penghitungan energi spesifik.
Larutan
yang digunakan biasanya mempunyai densitas berkisar antara 1,3 – 2,0.
Campuran larutan organik ini antara lain tetrabromoethane (R.D.2,89),
perchlorethylene (R.D.1,60), dan Toluena (R.D.1,60) yang sering
digunakan karena viscositasnya rendah dan sifat pengeringan yang baik.
Grafik
yang diplot menunjukkan persentase material yang mengapung dan yang
tenggelam yang dihitung dalam basis kumulatif. Akhirnya dapat digunakan
untuk menentukan fraksi pengapungan dengan kandungan spesifik abu.
4. Uji Kerusakan Serpih (Shale breakdown test):
Ada beberapa
masalah pada saat ekstraksi batubara, misalnya akibat pengotor (abu,dll)
yang biasanya diakibat oleh hadirnya mineral lempung, contoh
montmorilonit pada komponen non-batubara. Jumlah shale breakdown didapat
dari proporsi material yang ditentukan dengan analisis sedimentasi
residu.
UJI LAINNYA UNTUK KARBONISASI
Karbonisasi adalah proses pemanasan batubara pada temperatur beberapa ratus derajat untuk menghasilkan material-material:
- Padatan yang mengalami pengayaan karbon yang disebut coke.
- Larutan yang merupakan campuran hidrokarbon “tar” dan amoniacal liquor.
- Hidrokarbon lain dalam bentuk gas yang didinginkam ke temperatur normal.
1. Free Swelling Index:
Tes ini dilakukan
untuk menentukan angka peleburan dengan cara memanaskan sejumlah sampel
pada temperatur peleburan normal (kira-kira 800°C). Setelah pemanasan
atau sampai semua semua volatile dikelurkan, sejumlah coke tersisa dari peleburan. Swelling number dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel dan kecepatan pemanasan.
2. Tes karbonisasi Gray-King dan tipe coke:
Tes Gray-King
menentukan jumlah padatan, larutan dan gas yang diproduksikan akibat
karbonisasi. Tes dilakukan dengan memenaskan sampel didalam tabung
tertutup dari temperatur 300°C menjadi 600°C selama 1 jam untuk
karbonisasi temperatur rendah atau dari 300°C menjadi 900°C selama 2 jam
untuk karbonisasi temperatur tinggi.
3. Tes Karbonisasi Fischer:
Prinsipnya sama
dengan metode Gray-King, perbedaan terletak pada peralatan dan kecepatan
pemanasan. Pemanasan dilakukan di dalam tabung alumunium selama 80
menit. Tar dan liquor dikondensasikan ke dalam air dingin.
Akhirnya didapatkan persentase coke, tar dan, air sedangkan jumlah gas
didapat dengan cara mengurangkannya. Tes Fischer umum digunakan untuk
batubara rank rendah (brown coal dan lignit) untuk karbonisasi temperatur rendah.
Data perbandingan Tes Gray-King dan Fischer:
4. Plastometer Gieseler:
Plastometer
Gieseler adalah viskometer yang memantau viscositas sampel batubara yang
telah dileburkan. Dari tes ini direkam data-data sbb:
- Initial softening temperature.
- Temperatur viscositas maksimum
- Viskositas maksimum.
- Temperatur pemadatan resolidifiation temperatur.
5. Indeks Roga:
Indeks Roga menyatakan caking capacity. Ditentukan dengan cara memanaskan 1 gram sampel batubara yang dicampur dengan 5 gram antrasit pada 850°C selama 15 menit.
6. Tes lain yang dilakukan:
Biasanya dilakukan untuk menentukan:
- Komposisi kimia (analisis proksimat, total belerang, analisis abu,dll)
- Parameter fisik (distribusi ukuran, densitas relatif)
- Uji kekuatan.
- Tes Metalurgi.
USUL ASAL GAMBUT (COAL)
Lapisan batubara umumnya berasal dari peat(gambut) deposit di suatu rawa. Faktor-faktor penting dalam pembentukkan peat:
- Evolusi perkembangan flora
- Iklim
- Geografi dan struktur daerah
Evolusi Perkembangan Flora
Batubara tertua yang berumur Hurorian Tengah dari Michigan berasal dari alga dan fungi. Sedangkan pada jaman Devon
Bawah dan Atas, batubara kebanyakan berasal dari Psilophites (spt:
Taeniocrada decheniana (lower devon)). Kebanyakan batubara dari jaman ini memiliki rata-rata lapisan yang tipis(3-4m) dan tidak punya nilai ekonomis.
Pada Carbon
Atas, tumbuhan mulai tinggi-tinggi hingga mencapai ketinggian lebih
dari 30m namun belum seberagam sekarang. Pada jaman ini didominasi oleh:
Lepidodendron, Sigillaria, Leginopteris oldhamia, Calamitea. Jaman
Upper Carboniferous dikenal sebagai perioda bituminous coal.
Lapisan penting batubara berumur Perm terdapat di USSR, dominan terbentuk dari Gymnosperm cordaites.
Pada jaman
Mesozoic terutama Jura dan Cretaceous Bawah, Gymnosperm(Ginkcophyta,
Cycadophyta dan Cornifers) merupakan tumbuhan penting pembentuk
batubara, terutama di Siberia dan Asia Tengah.
Pada rawa-rawa
berumur Cretaceous Atas dan Tersier tumbuhan Angiosperm tumbuh dengan
pesat di N. America, Europe, Japan dan Australia.
Jika dibandingkan dengan tumbuhan pada masa Carbon, tumbuhan pada jaman Mesozoic terutama jaman Tersier lebih beragam dan spesifik serta menghasilkan deposit peat yang tebal dan beragam dalam tipe fasiesnya.
Perkembangan dan evolusi flora akan berpengaruh pada keragaman jenis dan tipe batubara yang dihasilkan.
Iklim
Pada iklim yang
lebih hangat dan basah tumbuhan tumbuh lebih cepat dan beragam.
Lapisan-lapisan kaya batubara berumur Carbon Atas, Cretaceous Atas dan
Tersier Awal diendapkan pada iklim seperti ini. Namun pada hemisphere
selatan dan Siberia juga terdapat endapan batubara yang kaya yang
diendapakan pada iklim yang sedang hingga dingin, contohnya batubara
inter-post glacial PermoCarbon Gondwana (dari Ganganopteris glossopteris) dan batubara umur Perm dan Jura Bawah dari Angara konitnen.
Lapisan batubara
yang diendapkan pada iklim hangat dan basah biasanya lebih terang dan
tebal dibandingkan dengan yang diendapkan pada iklim basah.
Paleogeografi dan Tectonic Requirement
Formasi lapisan
tergantung pada hubungan paleogeografi dan struktur pada daerah
sedimentasi. Pembentukan peat(gambut) terjadi pada daerah yang depresi permukaan
dan memerlukan muka air yang relatif tetap sepanjang tahun diatas atau
minimal sama dengan permukaan tanah. Kondisi ini banyak muncul pada flat
coastal area dimana banyak rawa yang berasosiasi dengan persisir
pantai. Selain itu rawa-rawa juga muncul di darat(shore or inland
lakes). Tergantung pada posisi asli geografinya, endapan batubara
paralic(sea coast) dan limnic(inland) adalah berbeda.
Paralic coal
swamps memiliki sedikit pohon atau bahkan tanpa pohon dan terbentuk
diluar distal margin pada delta. Pembentukkannya merupakan akibat dari
regresi dan transgresi air laut. Banyak coastal swamps besar yang
berkembang dibawah perlindungan sand bars dan pits sehingga dapat
menghasilkan endapan batubara yang tebal.
Back samps terbentuk dibelakang tanggul alam sungai besar. Pada back swamps,
peats(gambut) kaya dengan mineral matter akibat banjir yang sering
terjadi. Peat deposits hanya dapat terawetkan pada daerah subsidence.
Akibatnya endapan yang kaya batubara banyak berhubungan dengan daerah
ini, seperti yang sering muncul pada foredeep pada suatu pegunungan
lipatan yang besar.
Sikuen sediment
yang tebal dimana didalamnya terdapat lapisan tipis batubara(<2m adalah="adalah" antara="antara" batubara="batubara" bed="bed" berulang.="berulang." besar.="besar." besar="besar" cyclothem="cyclothem" dan="dan" dari="dari" dengan="dengan" di="di" diendapkan="diendapkan" foredeeps="foredeeps" ini="ini" inorganic="inorganic" intercalation="intercalation" karakteristik="karakteristik" keberadaan="keberadaan" lipatan="lipatan" marine="marine" peat="peat" pegunungan="pegunungan" penyebaran="penyebaran" perulangan="perulangan" sediment="sediment" sekuen="sekuen" sering="sering" span="span" suatu="suatu" yang="yang">2m>
SEDIMEN ORGANIK (BATUBARA)
Selain tumbuhan yang ditemukan
bermacam-macam, tingkat kematangan juga bervariasi, karena dipengaruhi
oleh kondisi-kondisi lokal. Kondisi lokal ini biasanya kandungan
oksigen, tingkat keasaman, dan kehadiran mikroba. Pada umumnya
sisa-sisa tanaman tersebut dapat berupa pepohonan, ganggang, lumut,
bunga, serta tumbuhan yang biasa hidup di rawa-rawa. Ditemukannya jenis
flora yang terdapat pada sebuah lapisan batubara tergantung pada kondisi
iklim setempat. Dalam suatu cebakan yang sama, sifat-sifat analitik
yang ditemukan dapat berbeda, selain karena tumbuhan asalnya yang
mungkin berbeda, juga karena banyaknya reaksi kimia yang mempengaruhi
kematangan suatu batubara.
Batubara merupakan sedimen organik, lebih tepatnya merupakan batuan
organik, terdiri dari kandungan bermacam-macam pseudomineral. Batubara
terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dan terkumpul dalam suatu
daerah dengan kondisi banyak air, biasa disebut rawa-rawa. Kondisi
tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari sisa-sisa tumbuhan
yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara.
Secara umum, setelah sisa tanaman
tersebut terkumpul dalam suatu kondisi tertentu yang mendukung (banyak
air), pembentukan dari peat (gambut) umumnya terjadi. Dalam hal ini peat
tidak dimasukkan sebagai golongan batubara, namun terbentuknya peat
merupakan tahap awal dari terbentuknya batubara. Proses pembentukan
batubara sendiri secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu
perubahan dari sisa-sisa tumbuhan yang ada, mulai dari pembentukan peat
(peatifikasi) kemudian lignit dan menjadi berbagai macam tingkat
batubara, disebut juga sebagai proses coalifikasi, yang kemudian berubah
menjadi antrasit. Pembentukan batubara ini sangat menentukan kualitas
batubara, dimana proses yang berlangsung selain melibatkan metamorfosis
dari sisa tumbuhan, juga tergantung pada keadaan pada waktu geologi
tersebut dan kondisi lokal seperti iklim dan tekanan. Jadi pembentukan
batubara berlangsung dengan penimbunan akumulasi dari sisa tumbuhan yang
mengakibatkan perubahan seperti pengayaan unsur karbon, alterasi,
pengurangan kandungan air, dalam tahap awal pengaruh dari mikroorganisme
juga memegang peranan yang sangat penting.
PENYUSUN BATUBARA
Konsep bahwa batubara berasal dari sisa
tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan
batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam
polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll.
Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada
spesies dari tumbuhan penyusunnya.
Lignin
Lignin merupakan suatu unsur yang
memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi
batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui
dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang
terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang
terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks.
Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis
alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti
kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama
yang menyusun batubara.
Karbohidrat
Gula atau monosakarida merupakan alkohol
polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada
umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan
hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai
disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah
yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang
paling banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang
kemudian terurai dan membentuk batubara.
Protein
Protein merupakan bahan organik yang
mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel
mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam
amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya
muncul sebagai steroid, lilin.
Material Organik Lain
Resin
Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami luka pada batangnya.
Tanin
Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada bagian batangnya.
Alkaloida
Alkaloida merupakan komponen organik
penting terakhir yang menyusun batubara. Alkaloida sendiri terdiri dari
molekul nitrogen dasar yang muncul dalam bentuk rantai.
Porphirin
Porphirin merupakan komponen nitrogen
yang berdasar atas sistem pyrrole. Porphirin biasanya terdiri atas suatu
struktur siklik yang terdiri atas empat cincin pyrolle yang tergabung
dengan jembatan methin. Kandungan unsur porphirin dalam batubara ini
telah diajukan sebagai marker yang sangat penting untuk mendeterminasi
perkembangan dari proses coalifikasi.
Hidrokarbon
Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali,
hidrokarbon terpentin, dan pigmen kartenoid. Sebagai tambahan, munculnya
turunan picene yang mirip dengan sistem aromatik polinuklir dalam
ekstrak batubara dijadikan tanda inklusi material sterane-type dalam
pembentukan batubara. Ini menandakan bahwa struktur rangka tetap utuh
selama proses pematangan, dan tidak adanya perubahan serta penambahan
struktur rangka yang baru.
Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)
Selain material organik yang telah
dibahas diatas, juga ditemukan adanya material inorganik yang menyusun
batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu
unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren
adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun
bahan organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur
mineral eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan
batubara, pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam
sebuah lapisan batubara.
PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA
Pembentukan batubara pada umumnya
dijelaskan dengan asumsi bahwa material tanaman terkumpul dalam suatu
periode waktu yang lama, mengalami peluruhan sebagian kemudian hasilnya
teralterasi oleh berbagai macam proses kimia dan fisika. Selain itu
juga, dinyatakan bahwa proses pembentukan batubara harus ditandai dengan
terbentuknya peat.
Pembentukan Lapisan Source
Teori Rawa Peat (Gambut) – Autocthon
Teori ini menjelaskan bahwa pembentukan
batubara berasal dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang kemudian tertutup
oleh sedimen diatasnya dalam suatu area yang sama. Dan dalam
pembentukannya harus mempunyai waktu geologi yang cukup, yang kemudian
teralterasi menjadi tahapan batubara yang dimulai dengan terbentuknya
peat yang kemudian berlanjut dengan berbagai macam kualitas antrasit.
Kelemahan dari teori ini adalah tidak mengakomodasi adanya transportasi
yang bisa menyebabkan banyaknya kandungan mineral dalam batubara.
Teori Transportasi – Allotocton
Teori ini mengungkapkan bahwa pembentukan
batubara bukan berasal dari degradasi/peluruhan sisa-sisa tanaman yang
insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat, melainkan akumulasi dari
transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan aqueous seperti
danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi
proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.
Proses Geokimia dan Metamorfosis
Setelah terbentuknya lapisan source, maka berlangsunglah berbagai
macam proses. Proses pertama adalah diagenesis, berlangsung pada kondisi
temperatur dan tekanan yang normal dan juga melibatkan proses biokimia.
Hasilnya adalah proses pembentukan batubara akan terjadi, dan bahkan
akan terbentuk dalam lapisan itu sendiri. Hasil dari proses awal ini
adalah peat, atau material lignit yang lunak. Dalam tahap ini proses
biokimia mendominasi, yang mengakibatkan kurangnya kandungan oksigen.
Setelah tahap biokimia ini selesai maka berikutnya prosesnya didominasi
oleh proses fisik dan kimia yang ditentukan oleh kondisi temperatur dan
tekanan. Temperatur dan tekanan berperan penting karena kenaikan
temperatur akan mempercepat proses reaksi, dan tekanan memungkinkan
reaksi terjadi dan menghasilkan unsur-unsur gas. Proses metamorfisme
(temperatur dan tekanan) ini terjadi karena penimbunan material pada
suatu kedalaman tertentu atau karena pergerakan bumi secara
terus-menerus didalam waktu dalam skala waktu geologi.HETEROATOM DALAM BATUBARA
Heteroatom dalam batubara bisa berasal dari dalam (sisa-sisa tumbuhan) dan berasal dari luar yang masuk selama terjadinya proses pematangan.
Nitrogen pada batubara pada umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5 – 1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari cairan yang terbentuk selama proses pembentukan batubara.
Oksigen pada batubara dengan kandungan 20 – 30 % w/w terdapat pada lignit atau 1,5 – 2,5 % w/w untuk antrasit, berasal dari bermacam-macam material penyusun tumbuhan yang terakumulasi ataupun berasal dari inklusi oksigen yang terjadi pada saat kontak lapisan source dengan oksigen di udara terbuka atau air pada saat terjadinya sedimentasi.
Variasi kandungan sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 – 5 % w/w yang muncul dalam bentuk sulfur organik dan sulfur inorganik yang umumnya muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur dalam batubara berasal dari berbagai sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur rendah, sulfurnya berasal material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut.
ENDAPAN BATUBARA (COAL)
Batubara merupakan hasil dari akumulasi
tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi
tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi.
Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa).
Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.
Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan delta plain.
Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk
delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers,
1998).
Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas.
Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut.
Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis (Allen, 1985).
Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa).
Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.
Tabel 2.1
Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara
(Diesel, 1992)
| Environment | Subenvironment | Coal Characteristics |
| Gravelly braid plain | Bars, channel, overbank plains, swamps, raised bogs | mainly dull coals, medium to low TPI, low GI, low sulphur |
| Sandy braid plain | Bars, channel, overbank plains, swamp, raised bogs, | mainly dull coals, medium to high TPI, low to medium GI, low sulphur |
| Alluvial valley and upper delta plain | channels, point bars, floodplains and basins, swamp, fens, raised bogs | mainly bright coals, high TPI, medium to high GI, low sulphur |
| Lower delta plain | Delta front, mouth bar, splays, channel, swamps, fans and marshes | mainly bright coals, low to medium TPI, high to very high GI, high sulphur |
| Backbarrier strand plain | Off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamp, and marshes | transgressive : mainly bright coals, medium TPI, high GI, high sulphur regressive : mainly dull coals, low TPI and GI, low sulphur |
| Estuary | channels, tidal flats, fens and marshes | mainly bright coal with high GI and medium TPI |
Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas.
Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut.
Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis (Allen, 1985).
KUALITAS BATUBARA
Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (rank).
Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang.
Kualitas dan Klasifikasi Batubara
Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di laboraturium, diantaranya adalah analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air, zat terbang, karbon padat, dan kadar abu, sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang.
Kualitas batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di daerah penelitian.
Untuk menentukan jenis batubara, digunakan klasifikasi American Society for Testing and Material (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983)(Tabel 5.2). Klasifikasi ini dibuat berdasarkan jumlah karbon padat dan nilai kalori dalam basis dry, mineral matter free (dmmf). Untuk mengubah basis air dried (adb) menjadi dry, mineral matter free (dmmf) maka digunakan Parr Formulas (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983) :
dimana :
FC = % karbon padat (adb)
VM = % zat terbang (adb)
M = % air total (adb)
A = % Abu (adb)
S = % sulfur (adb)
Btu = british termal unit = 1,8185*CV adb
Tabel 5.2
Klasifikasi batubara berdasarkan tingkatnya (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983)
Klasifikasi batubara berdasarkan tingkatnya (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983)
|
Class
|
Group
|
Fixed Carbon ,% , dmmf
|
Volatile Matter Limits, % , dmmf
|
Calorific Value Limits BTU per pound (mmmf)
|
||||
|
Equal or Greater Than
|
Less Than
|
Greater
Than |
Equal or Less Than
|
Equal or Greater Than
|
Less
Than
|
Agglomerating Character
|
||
|
I Anthracite*
|
1.Meta-anthracite
|
98
|
|
|
2
|
|
|
nonagglomerating
|
|
2.Anthracite
|
92
|
98
|
2
|
8
|
|
|
|
|
|
3.SemianthraciteC
|
86
|
92
|
8
|
14
|
|
|
|
|
|
II Bituminous
|
1.Low volatile bituminous coal
|
78
|
86
|
14
|
22
|
|
|
|
|
2.Medium volatilebituminous coal
|
69
|
78
|
22
|
31
|
|
|
|
|
|
3.High volatile A bituminous coal
|
|
69
|
31
|
|
14000D
|
|
commonly
|
|
|
4.High volatile B bituminous coal
|
|
|
|
|
13000D
|
14000
|
agglomerating**E
|
|
|
5.High volatile C bituminous coal
|
|
|
|
|
11500
|
13000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10500
|
11500
|
agglomerating
|
|
|
III Subbituminous
|
1.Subbituminous A coal
|
|
|
|
|
10500
|
11500
|
|
|
2.Subbituminous B coal
|
|
|
|
|
9500
|
10500
|
|
|
|
3.Subbituminous C coal
|
|
|
|
|
8300
|
9500
|
nonagglomerating
|
|
|
IV. Lignite
|
1.Lignite A
|
|
|
|
|
6300
|
8300
|
|
|
1.Lignite B
|
|
|
|
|
|
6300
|
| |
BRO COAL PROJECT
GEG

06.03
bro




