Jumat, 30 November 2012

MR.ADI WITH ME



KABUPATEN LAHAT



EKSPLORASI ENDAPAN BATUBARA
DI DAERAH BUNGAMAS, KABUPATEN LAHAT


     Daerah penyelidikan terletak di sebelah Baratdaya Kota Palembang. Secara Administratif termasuk wilayah Kecamatan Bungamas, Kabupaten Lahat, Propinsi Sumatera Selatan. Secara Geografis terletak di antara 102o55Â’00”-103o30Â’00” BT dan 3o35”00”-3o55Â’00” LS.
     Secara regional daerah Bungamas dan sekitarnya termasuk dalam Cekungan Sumatera Selatan dan formasi pembawa batubaranya adalah Formasi Muara Enim yang berumur Miosen Akhir-Pliosen Awal, diendapkan dalam lingkungan darat-laut dangkal.
     Dari hasil pemetaan dan pemboran (10 titik)  ditemukan 3 (tiga) lapisan batubara, yaitu: Lapisan A, tebal antara 0.75-6,00 m, kemiringan berkisar antara 45o-87º dengan nilai kalori berkisar antara 5.240-5.790 kal/gr (adb), lapisan B, tebal antara 1.20-7,00 m, kemiringan berkisar antara 60o-86º dengan nilai kalori berkisar antara 5.540-6.390 kal/gr (adb), Lapisan C, tebal berkisar antara 0,80-6.00 m, kemiringan berkisar antara 22o-84º dengan nilai kalori berkisar antara 5.710-6.780 kal/gr (adb). Sedangkan nilai reflektansi vitrinit  berkisar antara 0,20-036 %.
     Sumberdaya batubara di daerah Bungamas dan sekitarnya sebesar 6.543.904 ton sampai kedalaman 50 meter.

1. PENDAHULUAN
     Dalam Proyek Daftar Isian Kegiatan Suplemen Batubara (DIK-S), Tahun Anggaran  1997/1998, Direktorat Sumberdaya Mineral mendapat tugas untuk melaksanakan kegiatan pekerjaan Inventarisasi dan Eksplorasi batubara di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu kegiatan inventarisasi dan eksplorasi endapan batubara tersebut dilaksanakan di daerah Bungamas dan sekitarnya, Kecamatan Lahat, kabupaten Lahat, Propinsi Sumatera selatan.
     Daerah penyelidikan terletak di sebelah Baratdaya Kota Palembang. Secara Administratif termasuk wilayah Kecamatan Bungamas, Kabupaten Lahat, Propinsi Sumatera Selatan. Secara Geografis terletak diantara 102o55Â’00”-103o30Â’00” BT dan 3o35”00”-3o55Â’00” LS (Gambar 3- 1).
     Lokasi penyelidikan dapat dicapai dari kota Palembang melalui jalan lintas Sumatera sejauh 300 km  sampai kota Lahat. Dari Lahat dilanjutkan sampai Ibu Kota Kecamatan Bungamas yang dianggap paling dekat dengan daerah penyelidikan selama kurang lebih 2 jam perjalanan, sedangkan untuk mencapai lokasi-lokasi daerah penyelidikan dapat dicapai dengan  cara menyusuri sungai atau merintis jalan.
2. GEOLOGI REGIONAL
     Secara regional daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Sumatera selatan yang merupakan Cekungan Belakang Busur (‘Back Arc BasinÂ’) terbentuk oleh adanya pergerakan ulang patahan-patahan bongkah, dimana kelompok sesar normal membentuk bongkah-bongkah (“Block faulting”) pada batuan dasar (“Basement”) Pra-Tersier serta diikuti oleh kegiatan Volkanisme secara periodik.
     Batuan yang terdapat di daerah penyelidikan terdiri dari batuan Pra-tersier dan batuan endapan benua klastika yang bermur Tersier. Batuan Pra-Tersier  merupakan batuan dasar yang tergabung dalam Formasi Sepingtiang, Lingsing dan Saling yang berumur Jura Akhir-Kapur Awal yang diendapkan pada lingkungan laut dalam. Diatas batuan tersebut diendapkan secara tidak selaras batuan endapan benua klastika dari Formasi  Kikim dan Anggota Cawang Formasi Kikim yang berumur Paleosen-Oligosen Tengah.
     Formasi Kikim ditindih  secara tidak selaras oleh Formasi Talangakar yang berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal. Formasi Talangakar selaras diatasnya oleh Formasi Baturaja yang berumur Miosen Awal. Di atas Formasi Baturaja diendapkan selaras Formasi Gumai yang berumur Akhir Miosen Awal-Awal Miosen Tengah dan ditutupi selaras oleh Formasi Air Benakat yang berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal.
Diatas Formasi Air Benakat diendapkan selaras Formasi Muara Enim  yang berumur Miosen Akhir-Pliosen pada lingkungan peralihan yaitu lingkungan darat hingga laut dangkal.
Formasi Kasai  yang berumur Plio-Plistosen diendapkan pada lingkungan darat menutupi tidak selaras Formasi Muara Enim. Ketidak selarasan ini mencerminkan adanya periode pengangkatan dan erosi setempat yang terjadi di Pegunungan Barisan  (Gambar 3- 2).
     Struktur geologi daerah penyelidikan terjadi akibat adanya suatu proses pengangkatan batuan Paleozoik dan Mesozoik yang menyebabkan batuan terlipat kuat. Kegiatan tektonik terus berlangsung sampai Tersier Awal. Akibat dari pensesaran bongkah regional menyebabkan terbentuknya dua cekungan sedimen utama berbentuk meanjang yaitu Cekungan Sumatera selatan dan Cekungan Bengkulu, sedangkan tektonik Plio-Plistosen menghasilkan struktur penting berarah Baratlaut-Tenggara.
     Kerumitan pola sesar pada batuan sedimen Tersier ini diduga erat kaitannya dengan pensesaran pada batuan alas (Basement) yang diperkirakan sebagai penyebab adanya variasi ketebalan batubara.
3. GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN
     Daerah penyelidikan  yang terletak di daerah Bungamas dan sekitarnya merupaka bagian dari cekungan Sumatera Selatan. Cekungan tersebut dikenal sebagai penghasil batubara terbesar di indonesia.
     Secara umum morfologi daerah penyelidikan terbagi menjadi tiga satuam morfologi, yaitu Satuan Morfologi Pedataran, Satuan Morfologi Perbukitan Berelief Sedang dan Satuan Morfologi Perbukitan Berelief Kasar.
     Stratigrafi daerah penyelidikan dapat digolongkan menjadi 3 yaitu : Kelompok Batuan Par-Tersier dan Batuan Terobosan/Intrusi Batuan Beku, Kelompok Batuan Tersier dan Endapan Kwarter (Tabel 3- 1).
Kelompok Batuan Pra-Tersier
     Kelompok batuan ini yang tergabung dalam  Formasi Sepingtiang, Lingsing, dan Formasi Saling yang diperkirakan berumurJura Akhir-Kapur Awal. Hubungan stratigrafi antara Formasi Lingsing dan Saling adalah Menjemari, sedangkan Formasi sepingtiang menyentuh kedua formasi tersebut secara tektonik.
     Formasi Sepingtiang menempati sebelah Baratdaya daerah penelitian, batuan penyusunnya terdiri dari batugamping terumbu yang sudah mengalami ubahan, tersingkap di sungai empayang Lintang dan empayang kasap, sifat fisik batuan tersebut adalah berwarna putih, hitam, hijau dan abu-abu, keras dan pejal.
     Formasi Lingsing  menempati sepanjang Sungai Cawang, dimana batuan penyusunnya terdiri dari rijang, batulempung berwarna merah, terdapat urat-urat tipis silika.
     Formasi Saling  tersingkap di Sungai Cawang,  batuan penyusunnya terdiri dari batuan volkanik dan batupasir konglomeratan sedangkan batuan yang bersifat andesitik-basaltik tersingkap di sungai empayang Lintang dan Empayang Kasap.
     Batuan-batuan yang terdapat pada Formasi Sepingtiang, Saling dan Lingsing diendapkan pada lingkungan laut dangkal-lautdalam.

     Batuan terobosan  tersingkap di Sungai Empayang Kasap dan Empayang Lintang berupa Granodiorit yang menerobos Formasi Saling, batuan ini diperkirakan berumur Kapur Akhir.

Kelompok Batuan Tersier
     Kelompok batuan ini tersingkap di daerah penyelidikan yang tergabung dalam Formasi Kikim, Anggota Cawang Formasi kikim, Talangakar, Gumai, Air Benakat, Muara Enim dan Kasai.
     Formasi Kikim menempati sebelah selatan dan baratdaya daerah penyelidikan, batuan penyusunya terdiri dari breksi volkanik, batupasir tufan, batulempung, dan batulanau, tersingkap di Sungai Cawang dan diperkirakan berumur Paleosen-Oligosen Awal.
     Anggota Cawang Formasi Kikim sebarannya meliputi daerah sebelah selatan dan baratdaya daerah penyelidikan. Hubungan stratigrafi dengan Formasi Kikim saling menjemari, batuan penyusunnya terdiri dari batupasir kuarsa konglomeratan, batupasir, batulempung dan batulanau yang mempunyai kisaran umur antara Paleosen-Oligosen.
     Formasi Gumai menempati  sebelah selatan daerah penyelidikan, dimulai dari Sungai Empayang, Cawang, Saling, Suban menerus sampai ke Sungai Gelumpai dan Sungai Kikim Kecil. Batuan penyusunnya terdiri dari serpih hitam dengan lensa-lensa dan nodul batugamping berbentuk silinder, sedangkan pirit menyebar tidak merata, halus-bongkah berdiameter 2-6 cm, berbentuk framboidal. Diduga mempunyai kisaran umur Miosen tengah.
     Formasi Air Benakat  sebarannya memanjang dari timur ke barat daerah penyelidikan, dimana batuan penyusunnya terdiri dari batulempung, batulanau dan batupasir, diperkirakan berumur Miosen Tengah-miosen Akhir.
     Formasi Muaraenim  merupakan formasi pembawa batubara (“Coal Bearing Formation”) di daerah penyelidikan, tersingkap di bagian tengah dan sebarannya berarah barat-timur, menipis ke arah barat selaras diatas Formasi Air benakat, berumur Miosen Tengah-Miosen Atas dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal. Batuan penyusunnya terdiri dari Batupasir, batupasir tufan, batulempung, batulanau dan batubara.
     Struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan berupa struktur lipatan dan sesar yang terdapat dalam batuan Pra-Tersier dan Tersier. Struktur lipatan dalam batuan Pra-Tersier terdapat di sekitar Pegunungan Gumai, yang intensitas deformasinya menunjukan lebih dari satu periode. Sedangkan  struktur lipatan dalam batuan tersier berupa sinklin dan antiklin yang terdapat di sekitar Lahat dan di Sungai Puntang. Arah dari sumbu lipatannya hampir barat-timur.
     Sedangkan sesar mendatar yang terdapat di daerah Muara Cawang, Sukarame berarah baratlaut-tenggara, mengoyak satuan batupasir, batulempung, batulanau,  serpih dan napal yang terdapat pada Formasi Muara Enim, Airbenakat dan Gumai.
     Sesar normal yang terdapat disekitar Batuninding dan hulu Sungai Saling, berarah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara, mengoyak Formasi Muara Enim, Airbenakat, Gumai, Talangakar, Kikim, Anggota cawang Formasi Kikim, Lingsing dan Formasi Saling. Sesar-sesar tersebut diduga terjadi akibat adanya fase kejadian tektonik Plio-Plistosen.
4. POTENSI ENDAPAN BATUBARA
     Penyelidikan yang dilakukan ditekankan pada formasi pembawa batubara yaitu Formasi Muara Enim, karena formasi ini  diduga mengandung endapan batubara yang cukup prospek untuk dikembangkan.
     Tahapan pekerjaan yang dilakukan di lapangan dibagi menjadi 2 yaitu  pekerjaan pemetaan geologi dan pemboran.
Pekerjaan Pemetaan
     Pekerjaan ini meliputi pemetaan geologi tinjau dengan luas daerah sekitar 93.750 Ha, dengan skala 1 : 50.000, dan pemetaan geologi rinci dibatasi hanya pada formasi pembawa batubaranya saja. Dari hasil pemetaan diketahui bahwa formasi pembawa batubara di daerah penyelidikan adalah Formasi Muara enim, dan pada formasi tersebut ditemukan 36 lokasi singkapan batubara yang tersebar di beberapa daerah (Gambar 3- 3).
     Sedangkan pekerjaan pemboran dilakukan sebanyak 10 buah lobang bor dengan kedalaman terbatas sampai 25 meter. Pemboran dilakukan di tempat-tempat tertentu yang sulit mendapatkan singkapan dan mungkin letak batubara jauh dibawah permukaan, dengan adanya pemboran tersebut bisa melacak kedalaman dan sejauh mana penyebaran batubara di daerah penyelidikan.
     Berdasarkan hasil rekonstruksi data-data dari singkapan dan hasil pemboran, diketahui bahwa di daerah Bungamas dan sekitarnya terdapat tiga lapisan batubara yang cukup prospek yang masing-masing antara lain :
¨       Lapisan A   : Ketebalan batubara pada lapisan ini berkisar antara 0,75-6,00 meter, kemiringan lapisan antara 45o-87o dan dapat diikuti sepanjang 5.000 meter.
¨       Lapisan B : Ketebalan batubara pada lapisan ini berkisar antara 1,20-7,00 meter, kemiringan lapisan antara 60o-86o dan dapat diikuti sepanjang 12.250 meter.
¨       Lapisan C : Ketebalan batubara pada lapisan ini berkisar antara 0,80-6,00 meter, kemiringan lapisan antara 22o-84o dan dapat diikuti sepanjang 8.500 meter.
5. KUALITAS BATUBARA
     Kualitas batubara dari hasil analisis kimia (adb) terhadap 24 conto batubara menunjukan Nilai Kalori (CV) berkisar dari 5.240-6.780 kal/gram,  Kadar Abu (Ash) berkisar antara 1.7-12.4%, Zat terbang (VM) berkisar antara 38.7-53.7%, Karbon Tertambat (FC) berkisar antara 32.4-43.9%, kadar belerang (S) berkisar antara 0.18-2.89%, Kadar Air Total (TM ) berkisar antara 17.2-37.4%, Kadar Air Tertambat (IM) berkisar antara 8.5-14.9%.   Sedangkan hasil analisis Petrografi dari 12 coto batubara menunjukan nilai reflektansi sebagai berikut : Lapisan A nilai reflektansinya berkisar dari 0,2-033 ; Lapisan B nilai reflektansinya berkisar dari 0,32-0,35 ;  Lapisan C nilai reflektansinya berkisar dari 0,34-0,38 %.

6. SUMBERDAYA BATUBARA
     Perhitungan sumberdaya batubara dalam penyelidikan ini  dilakukan berdasarkan hasil rekonstruksi masing-masing penyebaran lapisan batubara. Dari hasil rekonstruksi tersebut diketahui sumberdaya batubara sampai kedalaman 50 meter di daerah penyelidikan sebesar 6.543.904 ton
7. POSPEK PENGEMBANGAN BATUBARA
     Secara kualitas, batubara yang terdapat di daerah Bungamas dan sekitarnya menunjukkan nilai kalori yang cukup bagus berkisar antara 5.240 – 6.780 kal/gr, dengan kadar abu sekitar 1,7 – 12,4 % serta sulfur berkisar antara 0,18-2,89 %.
     Sedangkan secara kuantitas, sumber daya batubara di daerah Bungamas dan sekitarnya cukup besar dan layak dipertimbangkan untuk usaha pertambangan skala besar, dengan pertimbangan lokasi tersebut dekat dengan jalan utama sebagai sarana transportasi.

6. KESIMPULAN DAN SARAN
     Dari hasil pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
·       Formasi pembawa batubara di daerah Bungamas dan sekitarnya adalah Formasi Muara Enim yang berumur Miosen Akhir-Pliosen Awal dan diendapkan pada lingkungan darat-laut dangkal.
·       Hasil pengamatan dari 36 singkapan batubara yang terdapat di daerah penyelidikan terdapat tiga lapisan batubara  dengan ketebalan  bervariasi dari 0,75-7,00 meter. Kemiringan bervariasi dari 22o-87o dan Nilai kalori berkisar dari 5.455-6.780 kal/gr. Sedangkan hasil analisa petrografi dari 12 conto batubara menunjukan nilai reflektansi  berkisar dari 0,22-0,38.
·       Sumberdaya batubara terindikasi di daerah penyelidikan dan sekitarnya sampai kedalaman 50 meter sebesar 6.543.904 ton.

ISTP MEDAN



ASUL COAL


mr. asul ( H.ZULKIFLI ZAIN) adalah salah satu direktur dan komisaris dari beberapa perusahaan pemiliki iup op di kabupaten bungo yaitu :
1. pt. tambulun pangean indah
2. pt. sungai pangean jaya
3. pt. bukit balai jaya
4. pt. bukit petai indah
5. pt. tambulun panual jaya

PENGUJIAN KUALITAS BATUBARA

Analisis kimia, juga dilakukan  sejumlah tes untuk menentukan parameter fisik batubara, seperti  uji densitas relatif , distribusi ukuran partikel, dll.

1. Densitas relatif:
Densitas relatif batubara tergantung pada rank dan  mineral pengotornya. Data densitas relatif diperlukan untuk membuat sampel komposit dalam menentukan banyaknya asap (seam). Selain itu diperlukan juga sebagai faktor penting dalam mengubah cadangan batubara dari unit volume menjadi unit massa.
Penentuan dilakukan dengan menghitung banyaknya kehilangan berat pada saat dicelupkan ke dalam air. Cara terbaik adalah dari data berat batubara dengan menggunakan piknometer. Grafik di bawah ini memberikan hubungan antara densitas relatif terhadap kandungan abu untuk batubara dan serpih karbon di cekunagn Agades.

2. Distribusi Ukuran Partikel:
Distribusi ukuran pertikal pada batubara yang rusak tergantung pada metode penambangan, cara penanganannya, serta derajat perekahan material tersebut. Distribusi ukuran merupakan faktor kritis yang dapat menunjukkan bagian tumbuhan penyusunnya. Penentuan dilakukan dengan metode ayakan. Grafik data pengeplotan menghasilkan data rata-rata ukuran partikel dan derajat keseragaman partikel.

3. Uji Pengapungan (Float-sink testing):
Uji ini dilakukan untuk menentukan distribusi densitas partikel sampel dengan cara mencelupkan sampel batubara ke dalam larutan yang diketahui densitas relatif. Selain itu dilakukan juga penelitian lain seperti penghitungan energi spesifik.
Larutan yang digunakan biasanya mempunyai densitas berkisar antara 1,3 – 2,0. Campuran larutan organik ini antara lain tetrabromoethane (R.D.2,89), perchlorethylene (R.D.1,60), dan Toluena (R.D.1,60) yang sering digunakan karena viscositasnya rendah dan sifat pengeringan yang baik.  
Grafik yang diplot menunjukkan persentase material yang mengapung dan yang tenggelam yang dihitung dalam basis kumulatif. Akhirnya dapat digunakan untuk menentukan fraksi pengapungan dengan kandungan spesifik abu.

4. Uji Kerusakan Serpih (Shale breakdown test):
Ada beberapa masalah pada saat ekstraksi batubara, misalnya akibat pengotor (abu,dll) yang biasanya diakibat oleh hadirnya mineral lempung, contoh montmorilonit pada komponen non-batubara. Jumlah shale breakdown didapat dari proporsi material yang ditentukan dengan analisis sedimentasi residu. 


UJI LAINNYA UNTUK KARBONISASI
Karbonisasi adalah proses pemanasan batubara pada  temperatur beberapa ratus derajat untuk menghasilkan material-material:
  1. Padatan yang mengalami pengayaan karbon yang disebut coke.
  2. Larutan yang merupakan campuran hidrokarbon “tar” dan amoniacal liquor.
  3. Hidrokarbon lain dalam bentuk gas yang didinginkam ke temperatur normal.

1. Free Swelling Index:
Tes ini dilakukan untuk menentukan angka peleburan dengan cara memanaskan sejumlah sampel pada temperatur peleburan normal (kira-kira 800°C). Setelah pemanasan atau sampai semua semua volatile dikelurkan, sejumlah coke tersisa dari peleburan. Swelling number dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel dan kecepatan pemanasan.

2. Tes karbonisasi Gray-King dan tipe coke:
Tes Gray-King menentukan jumlah padatan, larutan dan gas yang diproduksikan akibat karbonisasi. Tes dilakukan dengan memenaskan sampel didalam tabung tertutup dari temperatur 300°C menjadi 600°C selama 1 jam untuk karbonisasi temperatur rendah atau dari 300°C menjadi 900°C selama 2 jam untuk karbonisasi temperatur tinggi.    

3. Tes Karbonisasi Fischer:
Prinsipnya sama dengan metode Gray-King, perbedaan terletak pada peralatan dan kecepatan pemanasan. Pemanasan dilakukan di dalam tabung alumunium selama 80 menit. Tar dan liquor dikondensasikan ke dalam air dingin. Akhirnya didapatkan persentase coke, tar dan, air sedangkan jumlah gas didapat dengan cara mengurangkannya. Tes Fischer umum digunakan untuk batubara rank rendah (brown coal dan lignit) untuk karbonisasi temperatur rendah.   
Data perbandingan Tes Gray-King dan Fischer:

4. Plastometer Gieseler:
Plastometer Gieseler adalah viskometer yang memantau viscositas sampel batubara yang telah dileburkan. Dari tes ini direkam data-data sbb:
  1. Initial softening temperature.
  2. Temperatur viscositas maksimum
  3. Viskositas maksimum.
  4. Temperatur pemadatan resolidifiation temperatur.

5. Indeks Roga:
Indeks Roga menyatakan caking capacity. Ditentukan dengan cara memanaskan  1 gram sampel batubara yang dicampur dengan 5 gram antrasit pada 850°C selama 15 menit.

6. Tes lain yang dilakukan:
Biasanya dilakukan untuk menentukan:
  1. Komposisi kimia (analisis proksimat, total belerang, analisis abu,dll)
  2. Parameter fisik (distribusi ukuran, densitas relatif)
  3. Uji kekuatan.
  4. Tes Metalurgi.

USUL ASAL GAMBUT (COAL)

Lapisan batubara umumnya berasal dari peat(gambut) deposit di suatu rawa. Faktor-faktor penting dalam pembentukkan peat:
  • Evolusi perkembangan flora
  • Iklim
  • Geografi dan struktur daerah


Evolusi Perkembangan Flora

Batubara tertua yang berumur Hurorian Tengah dari Michigan berasal dari alga dan fungi. Sedangkan pada jaman  Devon Bawah dan Atas, batubara kebanyakan berasal dari Psilophites (spt: Taeniocrada decheniana (lower devon)). Kebanyakan batubara dari jaman  ini memiliki  rata-rata lapisan yang tipis(3-4m) dan tidak punya nilai ekonomis. 
Pada  Carbon Atas, tumbuhan mulai tinggi-tinggi hingga mencapai ketinggian lebih dari 30m namun belum seberagam sekarang. Pada jaman ini didominasi oleh: Lepidodendron, Sigillaria, Leginopteris oldhamia, Calamitea. Jaman Upper Carboniferous dikenal sebagai perioda bituminous coal.
Lapisan penting batubara berumur Perm terdapat di USSR, dominan terbentuk dari Gymnosperm cordaites.
Pada jaman Mesozoic terutama Jura dan Cretaceous Bawah, Gymnosperm(Ginkcophyta, Cycadophyta dan Cornifers) merupakan tumbuhan penting pembentuk batubara, terutama di Siberia dan Asia Tengah.
Pada rawa-rawa berumur Cretaceous Atas dan Tersier tumbuhan Angiosperm tumbuh dengan pesat di N. America, Europe, Japan dan Australia.
Jika dibandingkan dengan tumbuhan pada masa Carbon, tumbuhan pada jaman Mesozoic terutama jaman Tersier  lebih beragam dan spesifik serta menghasilkan deposit peat yang tebal dan beragam dalam tipe fasiesnya. 
Perkembangan dan evolusi flora akan berpengaruh pada keragaman jenis dan tipe batubara yang dihasilkan.

Iklim


Pada iklim yang lebih hangat dan basah tumbuhan tumbuh lebih cepat dan beragam. Lapisan-lapisan kaya batubara berumur Carbon Atas, Cretaceous Atas dan Tersier Awal diendapkan pada iklim seperti ini. Namun pada hemisphere selatan dan Siberia juga terdapat endapan batubara yang kaya yang diendapakan pada iklim yang sedang hingga dingin, contohnya batubara inter-post glacial PermoCarbon Gondwana  (dari Ganganopteris glossopteris) dan batubara umur Perm dan Jura Bawah dari Angara konitnen. 
Lapisan batubara yang diendapkan pada iklim hangat dan basah biasanya lebih terang dan tebal dibandingkan dengan yang diendapkan pada iklim basah.

Paleogeografi dan Tectonic Requirement


Formasi lapisan tergantung pada hubungan paleogeografi dan struktur pada daerah sedimentasi. Pembentukan peat(gambut) terjadi pada daerah yang   depresi  permukaan dan memerlukan muka air yang relatif tetap sepanjang tahun diatas atau minimal sama dengan permukaan tanah. Kondisi ini banyak muncul pada flat coastal area dimana banyak rawa yang berasosiasi dengan persisir pantai. Selain itu rawa-rawa juga muncul di darat(shore or inland lakes). Tergantung pada posisi asli geografinya, endapan batubara paralic(sea coast) dan limnic(inland) adalah berbeda. 
Paralic coal swamps memiliki sedikit pohon atau bahkan tanpa pohon dan terbentuk diluar distal margin pada delta. Pembentukkannya merupakan akibat dari regresi dan transgresi air laut. Banyak coastal swamps besar yang berkembang dibawah perlindungan sand bars dan pits sehingga dapat menghasilkan endapan batubara yang tebal. 
Back samps terbentuk dibelakang tanggul alam sungai besar. Pada back  swamps, peats(gambut) kaya dengan mineral matter akibat banjir yang sering terjadi. Peat deposits hanya dapat terawetkan pada daerah subsidence. Akibatnya endapan yang kaya batubara banyak berhubungan dengan daerah ini, seperti yang sering muncul pada foredeep pada suatu pegunungan lipatan yang besar.
Sikuen sediment yang tebal dimana didalamnya terdapat lapisan tipis batubara(<2m adalah="adalah" antara="antara" batubara="batubara" bed="bed" berulang.="berulang." besar.="besar." besar="besar" cyclothem="cyclothem" dan="dan" dari="dari" dengan="dengan" di="di" diendapkan="diendapkan" foredeeps="foredeeps" ini="ini" inorganic="inorganic" intercalation="intercalation" karakteristik="karakteristik" keberadaan="keberadaan" lipatan="lipatan" marine="marine" peat="peat" pegunungan="pegunungan" penyebaran="penyebaran" perulangan="perulangan" sediment="sediment" sekuen="sekuen" sering="sering" span="span" suatu="suatu" yang="yang">
Pada bagian backdeeps dari suatu pegunungan lipatan yang besar, subsidence biasanya lebih sedikit dan jumlah lapisan batubara lebih sedikit.  Ketika paralic coals diendapkan di foredeeps, kebanyakan limnic coals diendapkan di dalam cekungan kontinen yang besar. Limnic coals memiliki karakter: terbentuk pada kontinen graben, jumlah lapisannya sedikit tapi setiap lapisannya sangat tebal

SEDIMEN ORGANIK (BATUBARA)


Selain tumbuhan yang ditemukan bermacam-macam, tingkat kematangan juga bervariasi, karena dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lokal. Kondisi lokal ini biasanya kandungan oksigen, tingkat keasaman, dan kehadiran mikroba. Pada  umumnya sisa-sisa tanaman tersebut dapat berupa pepohonan, ganggang, lumut, bunga, serta tumbuhan yang biasa hidup di rawa-rawa. Ditemukannya jenis flora yang terdapat pada sebuah lapisan batubara tergantung pada kondisi iklim setempat. Dalam suatu cebakan yang sama, sifat-sifat analitik yang ditemukan dapat berbeda, selain karena tumbuhan asalnya yang mungkin berbeda, juga karena banyaknya reaksi kimia yang mempengaruhi kematangan suatu batubara.

 Batubara merupakan sedimen organik, lebih tepatnya merupakan batuan organik, terdiri dari kandungan bermacam-macam pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dan terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi banyak air, biasa disebut rawa-rawa. Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari sisa-sisa tumbuhan yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara.

Secara umum, setelah sisa tanaman tersebut terkumpul dalam suatu kondisi tertentu yang mendukung (banyak air), pembentukan dari peat (gambut) umumnya terjadi. Dalam hal ini peat tidak dimasukkan sebagai golongan batubara, namun terbentuknya peat merupakan tahap awal dari terbentuknya batubara. Proses pembentukan batubara sendiri secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dari sisa-sisa tumbuhan yang ada, mulai dari pembentukan peat (peatifikasi) kemudian lignit dan menjadi berbagai macam tingkat batubara, disebut juga sebagai proses coalifikasi, yang kemudian berubah menjadi antrasit. Pembentukan batubara ini sangat menentukan kualitas batubara, dimana proses yang berlangsung selain melibatkan metamorfosis dari sisa tumbuhan, juga tergantung pada keadaan pada waktu geologi tersebut dan kondisi lokal seperti iklim dan tekanan. Jadi pembentukan batubara berlangsung dengan penimbunan akumulasi dari sisa tumbuhan yang mengakibatkan perubahan seperti pengayaan unsur karbon, alterasi, pengurangan kandungan air, dalam tahap awal pengaruh dari mikroorganisme juga memegang peranan yang sangat penting.

PENYUSUN BATUBARA
Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya.
Lignin
Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.
Karbohidrat
Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung  polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk batubara.
Protein
Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin.

Material Organik Lain
Resin
Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami luka pada batangnya.
Tanin
Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada bagian batangnya.
Alkaloida
Alkaloida merupakan komponen organik penting terakhir yang menyusun batubara. Alkaloida sendiri terdiri dari molekul nitrogen dasar yang muncul dalam bentuk rantai.
Porphirin
Porphirin merupakan komponen nitrogen yang berdasar atas sistem pyrrole. Porphirin biasanya terdiri atas suatu struktur siklik yang terdiri atas empat cincin pyrolle yang tergabung dengan jembatan methin. Kandungan unsur porphirin dalam batubara ini telah diajukan sebagai marker yang sangat penting untuk mendeterminasi perkembangan dari proses coalifikasi.
Hidrokarbon
Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali, hidrokarbon terpentin, dan pigmen kartenoid. Sebagai tambahan, munculnya turunan picene yang mirip dengan sistem aromatik polinuklir dalam ekstrak batubara dijadikan tanda inklusi material sterane-type dalam pembentukan batubara. Ini menandakan bahwa struktur rangka tetap utuh selama proses pematangan, dan tidak adanya perubahan serta penambahan struktur rangka yang baru.
Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)
Selain material organik yang telah dibahas diatas, juga ditemukan adanya material inorganik yang menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara, pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam sebuah lapisan batubara.

PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA
Pembentukan batubara pada umumnya dijelaskan dengan asumsi bahwa material tanaman terkumpul dalam suatu periode waktu yang lama, mengalami peluruhan sebagian kemudian hasilnya teralterasi oleh berbagai macam proses kimia dan fisika. Selain itu juga, dinyatakan bahwa proses pembentukan batubara harus ditandai dengan terbentuknya peat.

Pembentukan Lapisan Source
Teori Rawa Peat (Gambut) – Autocthon
Teori ini menjelaskan bahwa pembentukan batubara berasal dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang kemudian tertutup oleh sedimen diatasnya dalam suatu area yang sama. Dan dalam pembentukannya harus mempunyai waktu geologi yang cukup, yang kemudian teralterasi menjadi tahapan batubara yang dimulai dengan terbentuknya peat yang kemudian berlanjut dengan berbagai macam kualitas antrasit. Kelemahan dari teori ini adalah tidak mengakomodasi adanya transportasi yang bisa menyebabkan banyaknya kandungan mineral dalam batubara.
Teori Transportasi – Allotocton
Teori ini mengungkapkan bahwa pembentukan batubara bukan berasal dari degradasi/peluruhan sisa-sisa tanaman yang insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat, melainkan akumulasi dari transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan aqueous seperti danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.
Proses Geokimia dan Metamorfosis
Setelah terbentuknya lapisan source, maka berlangsunglah berbagai macam proses. Proses pertama adalah diagenesis, berlangsung pada kondisi temperatur dan tekanan yang normal dan juga melibatkan proses biokimia. Hasilnya adalah proses pembentukan batubara akan terjadi, dan bahkan akan terbentuk dalam lapisan itu sendiri. Hasil dari proses awal ini adalah peat, atau material lignit yang lunak. Dalam tahap ini proses biokimia mendominasi, yang mengakibatkan kurangnya kandungan oksigen. Setelah tahap biokimia ini selesai maka berikutnya prosesnya didominasi oleh proses fisik dan kimia yang ditentukan oleh kondisi temperatur dan tekanan. Temperatur dan tekanan berperan penting karena kenaikan temperatur akan mempercepat proses reaksi, dan tekanan memungkinkan reaksi terjadi dan menghasilkan unsur-unsur gas. Proses metamorfisme (temperatur dan tekanan) ini terjadi karena penimbunan material pada suatu kedalaman tertentu atau karena pergerakan bumi secara terus-menerus didalam waktu dalam skala waktu geologi.
HETEROATOM DALAM BATUBARA
Heteroatom dalam batubara  bisa berasal dari dalam (sisa-sisa tumbuhan) dan berasal dari luar yang masuk selama terjadinya proses pematangan.
Nitrogen pada batubara pada umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5 – 1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari cairan yang terbentuk selama proses pembentukan batubara.
Oksigen pada batubara dengan kandungan 20 – 30 % w/w terdapat pada lignit atau 1,5 – 2,5 % w/w untuk antrasit, berasal dari bermacam-macam material penyusun tumbuhan yang terakumulasi ataupun berasal dari inklusi oksigen yang terjadi pada saat kontak lapisan source dengan oksigen di udara terbuka atau air pada saat terjadinya sedimentasi.
Variasi kandungan sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 – 5 % w/w yang muncul dalam bentuk sulfur organik dan sulfur inorganik yang umumnya muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur dalam batubara berasal dari berbagai sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur rendah, sulfurnya berasal material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut.

ENDAPAN BATUBARA (COAL)

Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi.
Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa).
Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.
Tabel 2.1
Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara
(Diesel, 1992)
Environment Subenvironment Coal Characteristics
Gravelly braid plain Bars, channel, overbank plains, swamps, raised bogs mainly dull coals, medium to low TPI, low GI, low sulphur
Sandy braid plain Bars, channel, overbank plains, swamp, raised bogs, mainly dull coals, medium to high TPI, low to medium GI, low sulphur
Alluvial valley and upper delta plain channels, point bars, floodplains and basins, swamp, fens, raised bogs mainly bright coals, high TPI, medium to high GI, low sulphur
Lower delta plain Delta front, mouth bar, splays, channel, swamps, fans and marshes mainly bright coals, low to medium TPI, high to very high GI, high sulphur
Backbarrier strand plain Off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamp, and marshes transgressive : mainly bright coals, medium TPI, high GI, high sulphur regressive : mainly dull coals, low TPI and GI, low sulphur
Estuary channels, tidal flats, fens and marshes mainly bright coal with high GI and medium TPI
Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998).
Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas.
Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut.
Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis (Allen, 1985).

KUALITAS BATUBARA






Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (rank).
Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang.
Kualitas dan Klasifikasi Batubara
Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di laboraturium, diantaranya adalah analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air, zat terbang, karbon padat, dan kadar abu, sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang.
Kualitas batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di daerah penelitian.
Untuk menentukan jenis batubara, digunakan klasifikasi American Society for Testing and Material (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983)(Tabel 5.2). Klasifikasi ini dibuat berdasarkan jumlah karbon padat dan nilai kalori dalam basis dry, mineral matter free (dmmf). Untuk mengubah basis air dried (adb) menjadi dry, mineral matter free (dmmf) maka digunakan Parr Formulas (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983) :



dimana :
FC = % karbon padat (adb)
VM = % zat terbang (adb)
M = % air total (adb)
A = % Abu (adb)
S = % sulfur (adb)
Btu = british termal unit = 1,8185*CV adb
Tabel 5.2
Klasifikasi batubara berdasarkan tingkatnya (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983)
Class
Group
Fixed Carbon ,% , dmmf
Volatile Matter Limits, % , dmmf
Calorific Value Limits BTU per pound (mmmf)
Equal or Greater Than
Less Than
Greater
Than
Equal or Less Than
Equal or Greater Than
Less
Than
Agglomerating Character
I Anthracite*
1.Meta-anthracite
98


2


nonagglomerating
2.Anthracite
92
98
2
8



3.SemianthraciteC
86
92
8
14



II Bituminous
1.Low volatile bituminous coal
78
86
14
22



2.Medium volatilebituminous coal
69
78
22
31



3.High volatile A bituminous coal

69
31

14000D

commonly
4.High volatile B bituminous coal




13000D
14000
agglomerating**E
5.High volatile C bituminous coal




11500
13000






10500
11500
agglomerating
III Subbituminous
1.Subbituminous A coal




10500
11500

2.Subbituminous B coal




9500
10500

3.Subbituminous C coal




8300
9500
nonagglomerating
IV. Lignite
1.Lignite A




6300
8300

1.Lignite B





6300


BRO COAL PROJECT

BRO COAL PROJECT

BRO COAL PROJECT

GEG

GEG

GP

CARBON COUNTER

ENERGY NEWS

NEWS

COAL PROJECT

AREA TAKE OVER

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls
Perlu Info Kontak Kami di Email kami:mars4302@yahoo.co.id Hp 082380937425