Rabu, 20 Juni 2012
Selasa, 19 Juni 2012
BAGAIMANA TEKNIK BOR BATUBARA ITU SEBENARNYA
Sistem tenaga dalam suatu operasi pemboran terdiri dari dua subkomponen utama, yaitu :
1. Power suplay equipment
Tenaga yang dibutuhkan pada suatu operasi pemboran dihasilkan oleh mesin-mesin besar, yang dikenal dengan "prime mover" (penggerak utama). Tenaga yang dihasilkan tersebut digunakan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut :
• sirkulasi lumpur,
• hoisting, dan
• rotary drill string.
2. Distribution (transmission) equipment
Berfungsi
untuk meneruskan atau menyalurkan tenaga dari penggerak utama, yang
diperlukan untuk suatu operasi pemboran. Sistem distribusi (transmisi)
yang biasa digunakan ada dua macam, yaitu sistem transmisi mekanis dan
sistem transmisi listrik (electric). Rig tidak akan berfungsi
dengan baik bila distribusi tenaga yang diperoleh tidak mencukupi. Oleh
sebab itu diusahakan tenaga yang hilang karena adanya transmisi atau
distribusi tersebut dikurangi sekecil mungkin, sehingga kerja mesin akan
lebih efisien. Sistem tenaga yang dipasang pada suatu unit operasi
pemboran secara prinsip harus mampu memenuhi keperluan-keperluan sebagai
berikut :
• fungsi angkat,
• fungsi rotasi,
• fungsi pemompaan, dan
• fungsi penerangan.
a. Menghitung keperluan tenaga untuk fungsi angkat
Tenaga
dari fungsi angkat dari motor melalui transmisi, drawwork, drilling
cable dan sistem takel yang terdiri dari crown block dan travelling
block diteruskan ke rangkaian pipa bor.
Maka, rendemen total antara motor dan hook :
• Conventiser : 0,7 - 0,8
• Transmisi : 0,88
• Drawwork : 0,90
• Takel : 0,87 untuk 8 kabel dan 0,85 untuk 10 kabel
sehingga, rendemen total untuk 10 kabel adalah
0,75 x 0,88 x 0,90 x 0,85 = 0,505
Tenaga untuk fungsi pengangkatan harus mampu untuk melayani pemboran sampai kedalaman limit pada kondisi ekonomis.
b. Menghitung tanpa fungsi rotasi
Tenaga untuk fungsi rotasi dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
.............................. (1) Pr=CxW75
dimana,
Pr = tenaga fungsi rotasi, pk
C = kopel dalam kgm
W = kecepatan sudut, rad/detik
Sehingga, secara empiris tenaga untuk fungsi rotasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
.................... (2) Pr=+1030100LNPD
dimana,
Pr = tenaga rotasi, pk
L = kedalaman sumur, m
N = putaran rotary table, rpm
P = beratan pada pahat (WOB), ton
D = diameter lubang bor, inch
c. Tenaga hidrolik
Tenaga hidrolik dapat dirumuskan sebagai berikut :
............................. (3) PhQxp=450
dimana,
Ph = tenaga hidrolik, pk
Q = debit dalam liter/menit = D2 x 19
p = tekanan sirkulasi , kg/cm2
d. Tenaga penerangan
Dengan
effisiensi 70% tenaga listrik yang diperlukan untuk berbagai keperluan
seperti penerangan, pemanas, shale shaker dan lain-lain biasanya
berkisar antara 30-48 kw generator berkapasitas 75 kw.
2. PRIME MOVER UNIT
Hampir semua operasi pemboran menggunakan prime mover jenis internal combution unit.
Penentuan jenis mesin yang akan digunakan didasarkan pada besarnya
jumlah tenaga yang diperlukan yang dapat diketahui dari casing program
yang telah disusun dan kedalaman sumur.
TAMBANG BATUBARA DAN PENYAKITNYA
Pemanfaatan
secara ekonomis potensi cadangan batubara disebut dengan penambangan
batubara, yang terbagi menjadi penambangan terbuka (surface mining atau open cut mining) dan penambangan bawah tanah atau tambang dalam (underground mining). Bila terdapat singkapan batubara (outcrop)
di permukaan tanah pada suatu lahan yang akan ditambang, maka metode
penambangan yang akan dilakukan, yaitu metode terbuka atau bawah tanah,
ditetapkan berdasarkan perhitungan tertentu yang disebut dengan nisbah
pengupasan (Stripping Ratio, SR). Nisbah ini merupakan indikator tingkat ekonomis suatu kegiatan penambangan.
SR = {(Biaya Tambang Dalam) – (Biaya Tambang Terbuka)} / Biaya Pengupasan
Pada perhitungan SR di atas, biaya tambang dalam adalah biaya per batubara bersih (clean coal)
dalam ton, sedangkan untuk biaya tambang terbuka adalah biaya per
batubara bersih dalam ton dan biaya relamasi, tapi tidak termasuk biaya
pengupasan tanah penutup (overburden). Sedangkan biaya pengupasan adalah biaya pengupasan tanah penutup, dalam m3.
Selain perhitungan di atas, kondisi lain yang mengakibatkan penambangan bawah tanah harus dilakukan adalah:
1. Posisi lapisan batubara berada di bawah laut.
Contohnya adalah tambang batubara Mitsui Miike Jepang, yang bagian terdalam lapangan penggaliannya sekitar 850 m di bawah permukaan laut. Tambang terbesar di Jepang ini tutup pada tanggal 30 Maret 1997, setelah beroperasi selama 124 tahun.
Contohnya adalah tambang batubara Mitsui Miike Jepang, yang bagian terdalam lapangan penggaliannya sekitar 850 m di bawah permukaan laut. Tambang terbesar di Jepang ini tutup pada tanggal 30 Maret 1997, setelah beroperasi selama 124 tahun.
2. Posisi batubara terletak jauh di kedalaman tanah.
Contohnya adalah tambang dalam PT Kitadin Embalut dan PT Fajar Bumi Sakti di Kalimantan Timur.
Contohnya adalah tambang dalam PT Kitadin Embalut dan PT Fajar Bumi Sakti di Kalimantan Timur.
Meskipun
perhitungan kelayakan ekonomis di atas merupakan faktor utama untuk
menentukan metode penambangan, hal – hal lain yang juga menjadi faktor
pertimbangan diantaranya adalah kondisi sosial calon lokasi tambang,
masalah lingkungan hidup, dan status hukum lokasi yang akan ditambang.
Hal inilah yang menyebabkan baik tambang terbuka maupun tambang dalam
memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Pada tambang
terbuka misalnya, meskipun investasinya lebih kecil dan memiliki tingkat
keterambilan batubara (recovery)
di atas 90%, tapi kurang bersahabat dari segi lingkungan dan terkadang
menimbulkan gesekan dengan masyarakat sekitar terkait polusi debu maupun
masalah kepemilikan lahan. Sebaliknya untuk tambang dalam, meskipun
masalah sosial maupun kerusakan lingkungan relatif dapat dihindari, tapi
kekurangannya adalah investasi awal yang besar, dan tingkat
keterambilan batubara yang tidak setinggi pada tambang terbuka. Dengan
mengemukanya isu kelestarian lingkungan dewasa ini, tambang dalam
merupakan satu-satunya pilihan pada penambangan batubara yang
cadangannya tersimpan di lokasi hutan lindung misalnya.
1. Teknik Penambangan Batubara Terbuka
Pengelompokan
jenis-jenis tambang terbuka batubara didasarkan pada letak endapan, dan
alat-alat mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada umumnya
dipengaruhi oleh kondisi geologi dan topografi daerah yang akan
ditambang. Jenis-jenis tambang terbuka batubara dibagi menjadi :
a. Contour mining
Contour
mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap di
lereng pegunungan atau bukit. Cara penambangannya diawali dengan
pengupasan tanah penutup (overburden) di daerah singkapan di sepanjang
lereng mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian diikuti dengan
penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah tebing
sampai dicapai batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang.
b. Mountaintop removal method
Metode
mountaintop removal method ini dikenal dan berkembang cepat, dengan
metode ini lapisan tanah penutup dapat terkupas seluruhnya, sehingga
memungkinkan perolehan batubara 100%.
c. Area mining method
Metode
ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat permukaan
pada daerah mendatar sampai agak landai. Penambangannya dimulai dari
singkapan batubara yang mempunyai lapisan dan tanah penutup dangkal
dilanjutkan ke yang lebih tebal sampai batas pit.
d. Open pit method
2. Teknik Penambangan Batubara Bawah Tanah
Pada
prinsipnya, penambangan batubara dengan menggunakan metode tambang
dalam memerlukan 3 persyaratan teknis yang mutlak harus dipenuhi, yaitu
1. Pemahaman secara menyeluruh terhadap kondisi alam di lokasi yang akan ditambang.
2. Teknologi
penambangan yang sesuai dengan kondisi lapangan penggalian, aman,
ekonomis, dan menghasilkan tingkat keterambilan batubara yang tinggi.
3. Sumber daya manusia yang handal.
Ketiga
hal diatas mudahnya disingkat dengan alam, teknologi, dan manusia. Data
geologi yang cukup mengenai kondisi tersimpannya batubara seperti
kedalaman lapisan, jumlah lapisan, tebal lapisan, kemiringan lapisan (dip) dan arahnya (strike), jumlah cadangan, dan data pendukung lainnya seperti formasi batuan, kemudian ada tidaknya patahan (fault) atau lipatan (fold), akan sangat membantu untuk menentukan metode pembukaan tambang, metode pengambilan batubara (extraction), penggalian maju (excavation/development), transportasi baik material maupun batubara, penyanggaan (support), ventilasi, drainase, dan lain – lain. Metode penambangan batubara bawah tanah ada 2 buah yang populer, yaitu:
a. Room and Pillar
Metode
penambangan ini dicirikan dengan meninggalkan pilar-pilar batubara
sebagai penyangga alamiah. Metode ini biasa diterapkan pada daerah
dimana penurunan (subsidence) tidak diijinkan. Penambangan ini dapat
dilaksanakan secara manual maupun mekanis.
b. Longwall
Metode
penambangan ini dicirikan dengan membuat panel-panel penambangan dimana
ambrukan batuan atap diijinkan terjadi di belakang daerah penggalian.
Penambangan ini juga dapat dilaksanakan secara manual maupun mekanis.
3. Permasalahan Dalam Penerapannya
Operasi
penambangan batubara seringkali dituduh menyebabkan kerusakan
lingkungan. Penambangan batubara diperkirakan menyebabkan kerusakan pada
kurang lebih 70 ribu hektar tanah. Pada beberapa area, limbah cair
dibuang pada sungai terdekat yang pada akhirnya mencemari sumber air
warga sekitar. Dampak lingkungan serta permintaan akan kontribusi
perusahaan pertambangan yang lebih besar kepada perkembangan masyarakat
telah menyebabkan munculnya permintaan akan ditutupnya operasi
penambangan batubara. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk
mengurangi pengrusakan lingkungan oleh operasi penambangan batubara
adalah dengan lebih memperketat regulasi yang berkaitan dengan
penambangan batubara, disinilah peran besar pemerintah. Pemerintah
merespon permasalahan ini dengan memberikan komitmen bahwa operasi
penambangan batubara akan merujuk pada peraturan pemerintah mengenai
keselamatan lingkungan. Sebagai contoh, pada tahun 1999 diterbitkan PP
no 18 yang mengatur mengenai tata cara pemrosesan limbah berbahaya dan
beracun. Peraturan ini mengharuskan perusahaan pertambangan untuk
memproses limbah yang dihasilkan hingga mencapai derajat kebersihan yang
sangat tinggi dengan standar kemurnian air yang 5 kali lebih ketat
dibandingkan Amerika Serikat maupun Kanada. Akan tetapi, penerapan
regulasi ini pada akhirnya ditunda karena pemerintah mengevaluasi ulang
kemampuan teknologi yang dimiliki oleh perusahaan pertambangan di
Indonesia dan ternyata dibutuhkan penyesuaian. Belum lagi adanya
penambangan batubara ilegal. Para penambang ilegal mengabaikan ketentuan
yang berkaitan dengan lingkungan dan keselamatan serta menjual batubara
dengan harga yang lebih rendah. Pemerintah diharapkan dapat mengambil
sikap dan menuntut para penambang ilegal ini.
untuk menangani permasalahan gas berbahaya (hazardous gases) seperti CO dan gas mudah nyala (combustible gas)
seperti metana yang muncul di tambang dalam, perencanaan sistem
ventilasi yang baik merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Selain
untuk mengencerkan dan menyingkirkan gas – gas tersebut, tujuan lain
dari ventilasi adalah untuk menyediakan udara segar yang cukup bagi para
pekerja tambang, dan untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang
panas di dalam tambang akibat panas bumi, panas oksidasi, dll. Jumlah
angin yang terlalu kecil akan menyebabkan gas – gas mudah terkumpul
sehingga konsentrasinya meningkat, jumlah pasokan oksigen berkurang, dan
lingkungan kerja menjadi tidak nyaman. Sebaliknya, bila volume anginnya
terlalu besar, maka hal ini dapat menimbulkan masalah serius pula yaitu
swabakar batubara (spontaneous combustion). Swabakar batubara
terjadi akibat proses oksidasi batubara. Dalam kondisi normal, batubara
akan menyerap oksigen di udara dan menimbulkan proses oksidasi perlahan,
sehingga terjadi panas oksidasi. Karena nilai konduktivitas panas
batubara adalah 1/4 dari konduktivitas panas batuan, maka panas oksidasi
sulit berpindah ke batuan di sekitarnya, sehingga akan terus
terakumulasi di dalam batubara secara perlahan. Bila sistem ventilasi
yang baik untuk menangani hal ini tidak dilakukan, maka suhunya akan
terus meningkat sehingga dapat mencapai titik nyala, dan akhirnya
menimbulkan kebakaran. Penangulanggan terjadinya swabakar batubara dapat dilakukan dengan cara : penyiraman
air ke lapisan batubara terbakar untuk mengikat oksigen yang dilakukan
dengan cara menginjeksi air dari atap terowongan di daerah titik api dan
flushing air dari permukaan melalui lubang pemboran ke lapisan
batubakar terbakar. Semen grouting untuk menutup pori-pori, cleat, dan
retakan yang terdapat pada lapisan batubara dengan maksud mencegah
suplai aliran oksigen, dan sealing atap untuk menutup rapat lubang guna
mencegah runtuhnya batuan atap.
Tanah
yang dikeruk, polusi yang disebabkannya, serta bekas yang
ditinggalkannya masih akan menjadi masalah lingkungan di kemudian hari.
Mungkin saat ini yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kinerja
unit-unit penanganan limbah sekaligus melakukan transfer teknologi
terkait dengan keterbatasan yang kita miliki dalam teknologi
penambangan, mengurangi penambang-penambang ilegal, dan secara bertahap
melakukan rehabilitasi lahan pertambangan yang telah ditinggalkan.
POLA PENAMBANGAN BATUBARA
POLA PENAMBANGAN BATUBARA
Faktor-faktor dalam pemilihan system penambangan yaitu :
1. Sifat keruangan dari endapan bijih
a. Ukuran (dimensi : tinggi atau tebal khususnya)
b. Bentuk (tanular, lentikular, massif, irregular)
c. Posisi (miring, mendatar atau tegak)
d. Kedalaman (nilai rata-rata, nisbah pengupasan)
a. Ukuran (dimensi : tinggi atau tebal khususnya)
b. Bentuk (tanular, lentikular, massif, irregular)
c. Posisi (miring, mendatar atau tegak)
d. Kedalaman (nilai rata-rata, nisbah pengupasan)
2. Kondisi Geologi dan Hidrologi
a. Mineralogy dan petrologi (sulfida atau oksida)
b. Komposisi kimia (utama, hasil samping, mineral by product)
c. Struktur endapan (lipatan, patahan, intrusi, diskontinuitas)
d. Bidang lemah (kekar, fracture, cleavage dalam mineral, cleat dalam Batubara)
e. Keseragaman, alterasi, erosi
f. Air tanah dan hidrologi
a. Mineralogy dan petrologi (sulfida atau oksida)
b. Komposisi kimia (utama, hasil samping, mineral by product)
c. Struktur endapan (lipatan, patahan, intrusi, diskontinuitas)
d. Bidang lemah (kekar, fracture, cleavage dalam mineral, cleat dalam Batubara)
e. Keseragaman, alterasi, erosi
f. Air tanah dan hidrologi
3. Sifat geomekanik
a. Sifat elastic (kekuatan, modulus elastic, koefesien poison)
b. Perilaku plastis atau viscoelastis (flow, creep)
c. Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
d. Konsolidasi, kompaksi dan kompeten
e. Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas, permeabilitas, lengas bebas, lengas bawaan)
a. Sifat elastic (kekuatan, modulus elastic, koefesien poison)
b. Perilaku plastis atau viscoelastis (flow, creep)
c. Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
d. Konsolidasi, kompaksi dan kompeten
e. Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas, permeabilitas, lengas bebas, lengas bawaan)
4. Konsiderasi ekonomi
a. Cadangan (tonnage dan kadar)
b. Produksi
c. Umur tambang
d. Produktifitas
e. Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok
a. Cadangan (tonnage dan kadar)
b. Produksi
c. Umur tambang
d. Produktifitas
e. Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok
5. Faktor teknologi
a. Perolehan tambang
b. Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih)
c. Kefleksibilitas metode dengan perubahan kondisi-kondisi
d. Selektifitas metode untuk bijih dan waste
e. Konsentrasi/penyebaran pekerjaan
a. Perolehan tambang
b. Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih)
c. Kefleksibilitas metode dengan perubahan kondisi-kondisi
d. Selektifitas metode untuk bijih dan waste
e. Konsentrasi/penyebaran pekerjaan
Dasar dalam pemilihan metode penambangan yaitu :
1. Stripping Ratio (SR)
Yaitu berapa jumlah waste (tanah buangan baik O/B maupun batuan samping) yang harus dibuang/disingkirkan untuk memperoleh 1 ton endapan bijih sampai pada ultimate pit limit.
Yaitu berapa jumlah waste (tanah buangan baik O/B maupun batuan samping) yang harus dibuang/disingkirkan untuk memperoleh 1 ton endapan bijih sampai pada ultimate pit limit.
Jumlah Waste (m3/ton)
| |
SR =
|
————————————-
|
Jumlah Ore (m3/ton)
|
SR > 1 = Ongkos pengupasan lebih kecil (Tamka)
SR > 1 = Ongkos pengupasan lebih besar (Tamda)
SR = 1 = Bisa Tamka/Tamda
2. Break Even Stripping Ratio (BESR)
SR > 1 = Ongkos pengupasan lebih besar (Tamda)
SR = 1 = Bisa Tamka/Tamda
2. Break Even Stripping Ratio (BESR)
Yaitu perbandingan antara keuntungan kotor dengan ongkos pembuangan O/B.
Cost penggalian bijih
| |
BESR =
|
—————————————
|
Cost pengupasan OB
|
Untuk memilih system penambangan digunakan istilah BESR-1 bagi open pit yaitu overall stripping ratio.
BESR-1 > 1 = Tamka
BESR-1 < 1 = Tamda
BESR = 2 = Bisa Tamka/Tamda
Kemudian setelah ditentukan yang dipilih Tamka, maka dalam rangka pengembangan rencana penambangan tiap tahap digunakan istilah economic stripping ratio (BESR-2).
BESR-1 > 1 = Tamka
BESR-1 < 1 = Tamda
BESR = 2 = Bisa Tamka/Tamda
Kemudian setelah ditentukan yang dipilih Tamka, maka dalam rangka pengembangan rencana penambangan tiap tahap digunakan istilah economic stripping ratio (BESR-2).
Recovable value/ton ore – Production cost/ton ore
| |
BESR-2 =
|
—————————————————————————–
|
Stripping cost/ton ore
|
BESR-2 untuk
menentukan maksimal berapa ton waste yang disingkirkan untuk memperoleh
1 ton ore agar tahap penambangan ini masih memberikan keuntungan (max
allowable stripping ratio) dan untuk menentukan batas pit (pit limit).
SISTEM PENAMBANGAN BATUBARA
Sistem penambangan adalah suatu cara atau teknik yang dilakukan untuk membebaskan atau mengambil endapan bahan galian yang mempunyai arti ekonomis dari batuan induknya untuk diolah lebih lanjut sehingga dapat memberikan keuntungan yang besar dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan kerja yang terbaik serta meminimalisasi dampak lingkungan yang dapat ditimbulkannya
Agar dapat tercapai hal-hal yang terdapat dalam defenisi sistem penambangan di atas, maka cara penambangan yang diterapkan harus dapat menjamin :
1. Ongkos penambangan yang seminimal mungkin.
2. Perolehan atau mining recovery harus tinggi.
3. Efisiensi kerja harus tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh :
- Jenis alat yang digunakan.
- Sinkronisasi kerja yang baik.
- Tenaga kerja yang terampil.
- Organisasi dan manajemen yang baik.
Sistem penambangan adalah suatu cara atau teknik yang dilakukan untuk membebaskan atau mengambil endapan bahan galian yang mempunyai arti ekonomis dari batuan induknya untuk diolah lebih lanjut sehingga dapat memberikan keuntungan yang besar dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan kerja yang terbaik serta meminimalisasi dampak lingkungan yang dapat ditimbulkannya
Agar dapat tercapai hal-hal yang terdapat dalam defenisi sistem penambangan di atas, maka cara penambangan yang diterapkan harus dapat menjamin :
1. Ongkos penambangan yang seminimal mungkin.
2. Perolehan atau mining recovery harus tinggi.
3. Efisiensi kerja harus tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh :
- Jenis alat yang digunakan.
- Sinkronisasi kerja yang baik.
- Tenaga kerja yang terampil.
- Organisasi dan manajemen yang baik.
Penambangan batubara terbuka
Kegiatan-kegiatan dalam Tambang Batubara terbuka adalah sebagai berikut :
a. Persiapan daerah penambangan
b. Pengupasan dan penimbunan tanah humus
c. Pengupasan tanah penutup
d. Pemuatan dan pembuangan tanah penutup (misalnya dengan shovel dan truk, BWE, dan dragline)
e. Penggalian batubara
f. Pemuatan dan pengangkutan batubara
g. Penirisan tambang
h. Reklamasi
Secara garis besarnya, sistem dan metode penambangan dibagi atas 4 (empat) bagian, yaitu :
1. Tambang terbuka (surface mining).
2. Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining).
3. Tambang bawah air (underwater mining).
4. Tambang di tempat (insitu mining).
Kegiatan-kegiatan dalam Tambang Batubara terbuka adalah sebagai berikut :
a. Persiapan daerah penambangan
b. Pengupasan dan penimbunan tanah humus
c. Pengupasan tanah penutup
d. Pemuatan dan pembuangan tanah penutup (misalnya dengan shovel dan truk, BWE, dan dragline)
e. Penggalian batubara
f. Pemuatan dan pengangkutan batubara
g. Penirisan tambang
h. Reklamasi
Secara garis besarnya, sistem dan metode penambangan dibagi atas 4 (empat) bagian, yaitu :
1. Tambang terbuka (surface mining).
2. Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining).
3. Tambang bawah air (underwater mining).
4. Tambang di tempat (insitu mining).
1. Tambang terbuka (surface mining).
Tambang terbuka (surface mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktifitas penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar.
Menurut materi yang ditambang, dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :
a. “Open Pit / Open Cut / Open Cast / Open Mine mining”.
b. “Stripping mining”. (khusus pada tambang batubara)
c. “Quarrying mining”.
d. “Alluvial Mining”.
Tambang terbuka (surface mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktifitas penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar.
Menurut materi yang ditambang, dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :
a. “Open Pit / Open Cut / Open Cast / Open Mine mining”.
b. “Stripping mining”. (khusus pada tambang batubara)
c. “Quarrying mining”.
d. “Alluvial Mining”.
2. Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining).
Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktifitas penambangannya dilakukan di bawah permukaan bumi, dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara luar.
Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktifitas penambangannya dilakukan di bawah permukaan bumi, dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara luar.
Tambang bawah tanah ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Metode tanpa penyanggaan (Non Supported / Open Stope Method).
b. Metode dengan penyanggaan (Supported Stope Method).
c. Metode ambrukan (Caving Method)
3. Tambang bawah air (underwater mining).
Tambang bawah air (underwater mining) adalah metode penambangan yang kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air atau endapan mineral berharganya terletak di bawah permukaan air.
a. Metode tanpa penyanggaan (Non Supported / Open Stope Method).
b. Metode dengan penyanggaan (Supported Stope Method).
c. Metode ambrukan (Caving Method)
3. Tambang bawah air (underwater mining).
Tambang bawah air (underwater mining) adalah metode penambangan yang kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air atau endapan mineral berharganya terletak di bawah permukaan air.
Menurut jenis peralatan yang digunakan, dibagi atas 4 jenis, yaitu :
a. Menggunakan kapal keruk laut dalam ( > 50 m ).
b. Menggunakan kapal keruk hidrolik.
c. Menggunakan kapal keruk dengan jaring tarik (drag net).
d. Menggunakan kapal isap laut dalam.Tambang di tempat (insitu mining)
4. Tambang di tempat (insitu mining)
a. Menggunakan kapal keruk laut dalam ( > 50 m ).
b. Menggunakan kapal keruk hidrolik.
c. Menggunakan kapal keruk dengan jaring tarik (drag net).
d. Menggunakan kapal isap laut dalam.Tambang di tempat (insitu mining)
4. Tambang di tempat (insitu mining)
Tambang
di tempat (insitu mining) adalah metode penambangan yang dilakukan
terhadap endapan mineral dan batuan yang terbentuk secara khusus (model
endapan geologi tertentu), di mana penambangannya langsung dilakukan di
tempat tersebut dengan cara khusus pula.
Contohnya adalah gasifikasi batubara, metode pelindian, metode pemanasan bawah tanah, metode penyaliran metan, dan lain-lain.
Contohnya adalah gasifikasi batubara, metode pelindian, metode pemanasan bawah tanah, metode penyaliran metan, dan lain-lain.
Praktek Pertambangan Yang Baik
(Good Mining Practice = GMP).
(Good Mining Practice = GMP).
Praktek
pertambangan yang baik (GMP) adalah seluruh proses penambangan yang
dilakukan dari awal hingga akhir harus dilakukan dengan baik dengan
mengikuti standar yang telah ditetapkan, mengikuti norma dan peraturan
yang berlaku sehingga dapat dicapai tujuan pertambangan yang efisien.
Salah satu bagian penting dari tujuan pertambangan adalah pengembangan berkelanjutan (sustainable development).
Macam-macam tambang batubara terbuka
Pengelompokan jenis-jenis tambang terbuka batubara didasarkan pada letak endapan, dan alat-alat mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi geologi dan topografi daerah yang akan ditambang. Jenis-jenis tambang terbuka batubara dibagi menjadi :
Pengelompokan jenis-jenis tambang terbuka batubara didasarkan pada letak endapan, dan alat-alat mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi geologi dan topografi daerah yang akan ditambang. Jenis-jenis tambang terbuka batubara dibagi menjadi :
1) Contour Mining
Contour mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap di lereng pegunungan atau bukit. Cara penambangannya diawali dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di daerah singkapan di sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian diikuti dengan penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah tebing sampai dicapai batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang.
Contour mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap di lereng pegunungan atau bukit. Cara penambangannya diawali dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di daerah singkapan di sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian diikuti dengan penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah tebing sampai dicapai batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang.
Menurut Robert Meyers, Contour Mining dibagi menjadi beberapa metode, antara lain :
a. Conventional Contour Mining
Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah dimana batubara tersingkap. Pemberaian lapisan tanah penutup dilakukan dengan peledakan dan pemboran atau menggunakan dozer dan ripper serta alat muat front end leader, kemudian langsung didorong dan ditimbun di daerah lereng yang lebih rendah. Pengupasan dengan contour stripping akan menghasilkan jalur operasi yang bergelombang, memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi bukit.
a. Conventional Contour Mining
Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah dimana batubara tersingkap. Pemberaian lapisan tanah penutup dilakukan dengan peledakan dan pemboran atau menggunakan dozer dan ripper serta alat muat front end leader, kemudian langsung didorong dan ditimbun di daerah lereng yang lebih rendah. Pengupasan dengan contour stripping akan menghasilkan jalur operasi yang bergelombang, memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi bukit.
b. Block-Cut Contour Mining
Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok penambangan yang bertujuan untuk mengurangi timbunan tanah buangan pada saat pengupasan tanah penutup di sekitar lereng. Pada tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing (highwall) yang diijinkan tingginya. Tanah penutup tersebut ditimbun sementara, batubaranya kemudian diambil. Setelah itu lapisan blok 2 digali kira-kira setengahnya dan ditimbun di blok 1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2 dan menimbun tanah buangan pada blok awal.
Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok penambangan yang bertujuan untuk mengurangi timbunan tanah buangan pada saat pengupasan tanah penutup di sekitar lereng. Pada tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing (highwall) yang diijinkan tingginya. Tanah penutup tersebut ditimbun sementara, batubaranya kemudian diambil. Setelah itu lapisan blok 2 digali kira-kira setengahnya dan ditimbun di blok 1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2 dan menimbun tanah buangan pada blok awal.
Pada
saat blok 1 sudah ditimbun dan diratakan kembali, maka lapisan tanah
penutup blok 4 dipidahkan ke blok 2 setelah batubara pada blok 3
tersingkap semua. Lapisan tanah penutup blok 5 dipindahkan ke blok 3,
kemudian lapisan tanah penutup blok 6 dipindahkan ke blok 4 dan
seterusnya sampai selesai. Penggalian beruturan ini akan mengurangi
jumlah lapisan tanah penutup yang harus diangkut untuk menutup final
pit.
c. Haulback Contour Mining
Metode haulback ini merupakan modifikasi dari konsep block-cut, yang memerlukan suatu jenis angkutan overburden, bukannya langsung menimbunnya. Jadi metode ini membutuhkan perencanaan dan operasi yang teliti untuk bisa menangani batubara dan overburden secara efektif .
Metode haulback ini merupakan modifikasi dari konsep block-cut, yang memerlukan suatu jenis angkutan overburden, bukannya langsung menimbunnya. Jadi metode ini membutuhkan perencanaan dan operasi yang teliti untuk bisa menangani batubara dan overburden secara efektif .
Ada tiga jenis perlatan yang sering digunakan, yaitu :
a. Truk atau front-end loader
b. Scrapers
c. Kombinasi dari scrapers dan truk
a. Truk atau front-end loader
b. Scrapers
c. Kombinasi dari scrapers dan truk
d. Box-Cut Contour Mining
Pada metode box-cut contour mining ini lapisan tanah penutup yang sudah digali, ditimbun pada daerah yang sudah rata di sepanjang garis singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang rendah yang akan membantu menyangga porsi terbesar dari tanah timbunan.
Pada metode box-cut contour mining ini lapisan tanah penutup yang sudah digali, ditimbun pada daerah yang sudah rata di sepanjang garis singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang rendah yang akan membantu menyangga porsi terbesar dari tanah timbunan.
2) Mountaintop removal method
Metode
mountaintop removal method ini dikenal dan berkembang cepat, khususnya
di Kentucky Timur (Amerika Serikat). Dengan metode ini lapisan tanah
penutup dapat terkupas seluruhnya, sehingga memungkinkan perolehan
batubara 100%.
3) Area mining method
Metode
ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat permukaan
pada daerah mendatar sampai agak landai. Penambangannya dimulai dari
singkapan batubara yang mempunyai lapisan dan tanah penutup dangkal
dilanjutkan ke yang lebih tebal sampai batas pit.
Terdapat tiga cara penambangan area mining method, yaitu :
a. Conventional area mining method
Pada
cara ini, penggalian dimulai pada daerah penambangan awal sehingga
penggalian lapisan tanah penutup dan penimbunannya tidak terlalu
mengganggu lingkungan. Kemudian lapisan tanah penutup ini ditimbun di
belakang daerah yang sudah ditambang.
b. Area mining with stripping shovel
Cara
ini digunakan untuk batubara yang terletak 10–15 m di bawah permukaan
tanah. Penambangan dimulai dengan membuat bukaan berbentuk segi empat.
Lapisan tanah penutup ditimbun sejajar dengan arah penggalian, pada
daerah yang sedang ditambang. Penggalian sejajar ini dilakukan sampai
seluruh endapan tergali.
c. Block area mining
Cara
ini hampir sama dengan conventional area mining method, tetapi daerah
penambangan dibagi menjadi beberapa blok penambangan. Cara ini terbatas
untuk endapan batubara dengan tebal lapisan tanah penutup maksimum 12 m.
Blok penggalian awal dibuat dengan bulldozer. Tanah hasil penggalian
kemudian didorong pada daerah yang berdekatan dengan daerah penggalian.
4) Open pit Method
Metode ini digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan (dip) yang besar dan curam. Endapan batubara harus tebal bila lapisan tanah penutupnya cukup tebal.
Metode ini digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan (dip) yang besar dan curam. Endapan batubara harus tebal bila lapisan tanah penutupnya cukup tebal.
a. Lapisan miring
Cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu lapisan (single seam) atau lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah penutup yang telah dapat ditimbun di kedua sisi pada masing-masing pengupasan.
Cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu lapisan (single seam) atau lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah penutup yang telah dapat ditimbun di kedua sisi pada masing-masing pengupasan.
b. Lapisan tebal
Pada cara ini penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan tanah penutup dan penimbunan dilakukan pada daerah yang sudah ditambang. Sebelum dimulai, harus tersedia dahulu daerah singkapan yang cukup untuk dijadikan daerah penimbunan pada operasi berikutnya.
Pada cara ini penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan tanah penutup dan penimbunan dilakukan pada daerah yang sudah ditambang. Sebelum dimulai, harus tersedia dahulu daerah singkapan yang cukup untuk dijadikan daerah penimbunan pada operasi berikutnya.
Pada cara ini, baik pada pengupasan tanah penutup maupun penggalian batubaranya, digunakan sistem jenjang (benching system).
1.2 Penambangan batubara bawah tanah
Metode penambangan batubara bawah tanah ada 2 buah yang populer, yaitu:
- Room and Pillar
- Longwall
- Room and Pillar
- Longwall
1.2.1 Room and Pillar
Metode
penambangan ini dicirikan dengan meninggalkan pilar-pilar batubara
sebagai penyangga alamiah. Metode ini biasa diterapkan pada daerah
dimana penurunan (subsidence) tidak diijinkan. Layout Metode Room and
Pillar dapat dilihat pada Gambar. Penambangan ini dapat dilaksanakan
secara manual maupun mekanis.
1.2.2 Longwall
Metode
penambangan ini dicirikan dengan membuat panel-panel penambangan dimana
ambrukan batuan atap diijinkan terjadi di belakang daerah penggalian.
Layout Metode Longwall dapat dilihat pada Gambar. Penambangan ini juga
dapat dilaksanakan secara manual maupun mekanis.
1.3 Penambangan dengan Auger (Auger Mining)
Auger mining adalah sebuah metode penambangan untuk permukaan dengan dinding yang tinggi atau penemuan singkapan (outcrop recovery) dari batubara dengan pemboran ataupun penggalian bukaan ke dalam lapisan di antara lapisan penutup. Auger mining dilahirkan sebelum 1940-an adalah metode untuk mendapatkan batubara dari sisi kiri dinding tinggi setelah penambangan permukaan secara konvensional. Penambangan batubara dengan auger bekerja dengan prinsip skala besar drag bit rotary drill. Tanpa merusak batubara, auger mengekstraksi dan menaikkan batubara dari lubang dengan memiringkan konveyor atau pemuatan dengan menggunakan loader ke dalam truk.
Pengembangan
dan persiapan daerah untuk auger mining adalah tugas yang mudah jika
dilakukan bersamaan dengan pemakaian metode open cast atau open pit.
Setelah kondisi dinding tinggi, auger drilling dapat ditempatkan pada
lokasi. Kondisi endapan yang dapat menggunakan metode ini berdasarkan
Pfleider (1973) dan Anon (1979) adalah endapan yang memiliki penyebaran
yang baik dan kemiringannya mendekati horisontal, serta kedalamannya
dangkal (terbatas sampai ketinggian dinding dimana auger ditempatkan.
BRO COAL PROJECT
GEG

09.22
bro






